Oleh : AM Soleh/Pimpinan Ponpes Cahaya Kapuas, Pontianak, Kalbar
Wartain.com || Dalam Hadits Jibril, para sahabat diajarkan tentang pentingnya memahami As-Sa’ah. As-Sa’ah merupakan salah satu hal penting yang ditanyakan malak Jibril kepada Rasulullah SAW.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ…..
” Kemudian dia (Jibril) berkata, “Beritahukan aku tentang As-Sa’ah (hari kiamat)” (HR Muslim)
Secara harfiah As-Sa’ah bermakna waktu, yang mana waktu ini memiliki siklus (Dawur) yaitu masa lalu, sekarang, dan masa depan. Dan suatu saat siklus waktu ini akan berakhir (kiamat)
Untuk Menyelami Hikmah As-Sa’ah dalam hadits Jibril yang dikaitkan dengan kiamat, mari kita belajar dari kisah Nabi Khidir di dalam surat Al Kahfi. dalam Hadits dijelaskan bahwa surat Al Kahfi memiliki kaitan erat dengan fitnah Dajjal di akhir zaman menjelang berakhirnya As-Sa’ah (kiamat).
Abu Umamah meriwayatkan hadits Rasul SAW yang berbunyi, “Sesungguhnya di antara fitnahnya, ia (Dajjal) memiliki surga dan neraka. Nerakanya adalah surga, dan surganya adalah neraka. Siapa diuji dengan nerakanya, hendaklah ia memohon pertolongan Allah SWT dan membaca awal Surat Al-Kahfi.” (HR Ibnu Majah, Tirmidzi, & Hakim)
Memahami Siklus Waktu Pada Kisah Nabi Khidir
Kisah Nabi Musa Belajar Kepada Nabi Khidir dalam Al-Qur’an dapat ditemukan dalam Surah Al-Kahfi ayat 60-82.
Dalam kisah nabi Khidir terdapat hikmah dan pelajaran (‘ibrah) yang bisa kita petik yang berhubungan dengan konsep As-sa’ah (siklus waktu), yaitu:
1. Melubangi kapal
Nabi Khidir Melubangi kapal nelayan didasarkan pada pemahaman atas pengetahuan *”masa kini”*. Ketika nabi Khidir melubangi kapal, disaat yang sama (di depan perjalanan) terdapat raja zalim yang suka merampas kapal bagus yang melewati wilayahnya. Dengan bocornya kapal, maka kapal milik nelayan miskin yang sedang ditumpangi nabi Khidir akan dipandang rusak dan tidak layak untuk disita, sehingga nelayan itu selamat (kapalnya tidak dirampas).
2. Membunuh anak kecil
Karena nabi Khidir menguasai pengetahuan *”Masa Depan”*, Nabi Khidir membunuh anak kecil tersebut, beliau tahu kalau nanti setelah besar anak itu akan menjadi orang kuat yang durhaka, membunuh orang tuanya, dan banyak membuat kerusakan kepada orang-orang yang beriman.
3. Nabi Khidir Mendirikan tembok roboh
Ini adalah buah dari pemahaman nabi Khidir dari pengetahuan tentang *”masa lalu”* atau sejarah, dimana dimasa lalu dibawah dinding tembok itu telah tersimpan harta karun peninggalan orang tua dua anak yatim yang bisa dipergunakan kelak disaat mereka dewasa.
Pelajaran dari kisah Nabi Khidir untuk kehidupan modern
Pemahaman yang mendalam tentang As-sa’ah -Masa lalu, saat ini, dan masa depan- dapat dijadikan sebagai landasan dalam mengambil sikap dan keputusan. Oleh karena itu maka diperlukan Beberapa Ilmu pengetahuan yang digali dari siklus waktu, diantaranya:
a. Ilmu pengetahuan yang digali
Berdasarkan pada pemahaman waktu “masa kini” yaitu “ilmu-ilmu terapan”, contohnya seperti ilmu teknologi informasi, ilmu transportasi, ilmu politik, ilmu kontruksi, ilmu manufaktur, ilmu energi, ilmu fisika nuklir dan sebagainya.
Ilmu pengetahuan ini sangat dibutuhkan untuk Meningkatkan kualitas hidup, Meningkatkan efisiensi dan produktivitas, Meningkatkan keamanan dan keselamatan dalam berbagai sektor.
Di dalam Al Qur’an sendiri banyak berbicara tentang ilmu terapan ini, Diantaranya tentang pembuatan kapal nabi Nuh (surat hud ayat :37), Pembuatan Tembok Besi Zulkarnain-Ya’juj & Ma’juj (Al-Kahfi: 96-98), dan pembuatan baju besi nabi Dawud (Al-anbiya:80)
b. Ilmu yang digali berdasarkan
Pengetahuan waktu “masa lalu” yaitu ilmu sejarah dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya, contohnya seperti filologi, arkeologi, ilmu riwayat dan sebagainya.
Sejarah bukanlah dongeng masa lalu, sejarah harus difahami sebagai bagian dari siklus kehidupan yang memiliki ketersambungan dengan hari ini dan masa depan. sejarah harus menjadi landasan dalam meneguhkan perjuangan dan spirit berkemajuan, yang mana pada sejarah masa lalu itu terdapat pelajaran untuk kebaikan di hari ini dan masa depan bagi orang-orang yang berakal sehat.
Allah berfirman dalam Surat Yusuf ayat 111:
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Artinya: “Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
c. ilmu yang digali berdasarkan
Pemahaman waktu “masa depan” yaitu memahami hal-hal yang bersifat futuristik. Khususnya peluang di masa depan berdasarkan analisa data dan fakta ilmiah, contohnya seperti analisa prediksi moneter, prediksi sosial, prediksi kesehatan, prediksi politik -baik nasional, regional, maupun internasional-, Ilmu komputer dan kecerdasan buatan (AI), kajian mendalam ilmu Falak (Astrologi) dan sebagainya, begitu juga dengan analisa masa depan berdasarkan kajian Al-Qur’an dan hadits-hadits tentang akhir zaman (Eskatologi).
Kesadaran spiritual
Sebagai catatan, Ilmu-Ilmu yang diajarkan nabi Khidir diatas akan sia-sia, tidak bermanfaat, bahkan cenderung berbahaya bagi kehidupan, apabila tidak dilandasi dengan aqidah Islam (Tauhid) dan tidak dibangun diatas kesadaran spiritual yang benar.
Olèh karena itu maka tidak boleh ada sekulerisasi dalam pengajaran dan pendidikan.
Ketika tauhid dan kesadaran spiritual terintegrasi dengan harmoni, disaat itulah maka akan lahir ilmu laduni. Yaitu adanya kesadaran bahwa ilmu pengetahuan merupakan pemberian dan hanya titipan dari pemilik ilmu yang hakiki yakni Allah SWT. Dengan begitu maka manusia akan selamat dari kesombongan atau mendzalimi orang lain dengan pengetahuan nya. dan inilah puzzle terakhir yang harus difahami dari perkataan nabi Khidir As kepada nabi Musa As
وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِیۚ
Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. [Surat Al-Kahfi: 82]
Penutup
Itulah ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa. Ilmu yang seharusnya kita jadikan pijakan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Terlebih arus globalisasi modern sedang deras-derasnya mendera kita, sehingga tanpa sadar kita banyak melupakan dan mengabaikan sejarah masa silam. kita lupa asal usul dan akhirnya hilang jati diri bangsa, melupakan kebudayan agung dari para leluhur kita di tanah Nusantara. lupa kalo kita adalah negeri agraris, kita adalah negeri maritim penguasa lautan yang ulung, kita adalah bangsa besar penguasa dunia.
Padahal pada pengetahuan masa silam ini banyak hal yang bisa kita gali dan pelajari di negeri ini. Contoh Seperti Gunung Padang yang merupakan bukti bahwa kita adalah induk peradaban dunia, Atlantis Negeri modern di masa lalu diduga kuat adalah Nenek moyang kita. Kebudayaan dan peradaban leluhur bangsa kita ini sangat maju. Kita kaya raya dalam segala hal, ragam, corak etnis, bahasa, budaya, sejarah, teknologi, hasil bumi dan lautnya. Namun tidak sedikit dari kita sering merasa minder akibat dari mengabaikan sejarah besar bangsa kita sendiri.
Setelah nabiyullah Khidir mengajarkan ilmu itu Khidir berkata
هذا فراق بيني وبينك
“Inilah perpisahan antara aku dengan engkau. (Al Kahfi: 78)
Perpisahan Khidlir-Musa bukan peristiwa kegagalan ilmu, melainkan peneguhan telah selesainya pelajaran. Musa mengambil dari Khidir ilmu yang sebelumnya tidak dimilikinya. dan dalam prakteknya Bahwa sehebat apapun perjuangan Musa melawan Fir’aun, ia tetap memerlukan “kehadiran” kuasa Allah. Maka dihadirkanlah Khidlir di majma’al Bahrain yang mengajarkan ilmu laduni, yakni bangkitnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang terintegrasi dengan kesadaran spiritual.
Kuasa bumi tidak bisa berdiri sendiri. Tetap ada kuasa langit. Disinilah bertemunya antara pengetahuan, penerapan ilmu, dan kesadaran. Yaitu terintegrasinya antara ilmu, siyasah, dan spiritual pada setiap tindakan dalam setiap siklus waktu yang melingkupinya.***
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)