26.7 C
Jakarta
Kamis, Mei 14, 2026
Beranda blog Halaman 575

Pemkot Sukabumi Perkuat Dukungan untuk Pelaku Transportasi Tradisional Lewat Bantuan Tahunan

0

Wartain.com || Pemerintah Kota Sukabumi kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelaku transportasi tradisional dengan menyerahkan bantuan langsung kepada para penarik becak dan kusir delman. Kegiatan ini berlangsung dalam apel pagi di Lapangan Sekretariat Daerah Kota Sukabumi, Selasa (tanggal menyesuaikan), dan menjadi bagian dari agenda tahunan yang rutin digelar.

Sebanyak 280 penarik becak dan 100 kusir delman menerima bantuan dari Wali Kota Sukabumi secara langsung. Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap sektor informal yang masih berperan vital dalam mendukung mobilitas warga serta roda perekonomian lokal, meski arus modernisasi terus menguat.

Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa program bantuan ini telah berjalan setiap tahun, dan ke depannya akan terus ditingkatkan seiring bertambahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Kami ingin memastikan bahwa peningkatan PAD dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada sektor informal,” ujarnya.

Tak hanya itu, pemerintah kota juga tengah menyiapkan program padat karya sebagai solusi jangka panjang bagi warga yang belum memiliki pekerjaan tetap. Inisiatif ini diharapkan bisa membuka lebih banyak lapangan kerja dan mengurangi angka pengangguran.

“Seluruh program ini kami rancang demi kesejahteraan rakyat. Ketika PAD tumbuh dan Kota Sukabumi mencapai kemandirian fiskal, maka manfaatnya akan menjangkau semua kalangan—baik penarik becak, kusir delman, guru madrasah, maupun warga yang belum bekerja,” lanjutnya.

Peningkatan PAD sendiri menjadi fokus utama Pemkot Sukabumi dalam membangun sistem keuangan daerah yang kuat, transparan, dan partisipatif. Dengan tata kelola yang baik, pemerintah optimistis pembangunan di Kota Sukabumi dapat terus berjalan berkelanjutan dan merata, menyentuh setiap lapisan masyarakat.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Klaim BPJS Ketenagakerjaan, Kacab Sukabumi : Hindari Percaloan 

0
Oplus_131072

Wartain.com || Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi, Ryan Gustaviana, menegaskan bahwa proses klaim seluruh program jaminan sosial dapat dilakukan langsung oleh peserta tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Hal tersebut disampaikan Gustav, sapaan akrabnya, saat berdiskusi dengan pengurus PWI Kabupaten Sukabumi beberapa waktu yang lalu.

“Saya mengimbau peserta untuk tidak menggunakan jasa calo atau pihak ketiga yang tidak resmi dalan proses klaim, karena berisiko merugikan dan menyalahgunakan data pribadi,” tegas Gustav.

“Kami memiliki kanal resmi, seperti aplikasi JMO, website, dan kantor layanan, yang bisa dimanfaatkan langsung oleh peserta. Kami juga membuka pengaduan masyarakat melalui call center 175 untuk melaporkan praktik percaloan,” sambung Gustav.

Menurut pria berkaca mata ini, kanal Pembayaran Klaim yang Aman dan Transparan, seluruh manfaat klaim BPJS Ketenagakerjaan, mulai dari JHT, JKM, JKK, JP, hingga JKP, dibayarkan langsung ke rekening peserta melalui bank yang telah bekerja sama secara resmi.

“Kami tidak pernah meminta data rekening melalui pihak ketiga, Pembayaran klaim dilakukan langsung oleh sistem kami untuk menjamin akuntabilitas dan kerahasiaan data peserta,” tandas Gustav.

“Sepanjang tahun 2024, BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sukabumi telah menyalurkan klaim senilai Rp 168,51 miliar kepada 30.106 peserta dan ahli waris,” sambungnya.

Sementara, dalam upaya terus memperkuat komitmennya dalam melindungi seluruh pekerja melalui program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek) dan mencapai Universal Coverage Jamsostek (UCJ), BPJS Ketenagakerjaan menggencarkan edukasi, perluasan kepesertaan, dan penguatan regulasi.

Universal Coverage Jamsostek (UCJ), merupakan strategi untuk memperluas perlindungan ketenagakerjaan kepada seluruh pekerja, baik formal maupun informal. Dimana, pada tahun 2024, capaian UCJ di Kabupaten Sukabumi telah mencapai 38,95% dari total angkatan kerja.

Untuk itu, Gustav menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar mencapai target nasional UCJ sebesar 53,09% pada tahun 2025.

“Kami terus berupaya mendorong perluasan kepesertaan melalui program pekerja rentan, perangkat desa, hingga pekerja informal lainnya. Pemerintah Daerah, pelaku usaha, dan masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan setiap pekerja terlindungi,” jelas Gustav.

“BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sukabumi, mengajak seluruh masyarakat pekerja untuk aktif menjadi peserta Jamsostek dan bersama-sama menciptakan budaya sadar jaminan sosial,” pungkasnya.

Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi resmi BPJS Ketenagakerjaan, dapat mengakses laman www.bpjsketenagakerjaan.go.id, aplikasi JMO, atau mengunjungi kantor cabang.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Kepala DKUKM Kabupaten Sukabumi Ingatkan, Operasional Koperasi Desa harus Sesuai Visi Misi Kopdes Merah Putih

0

Wartain.com || Pemerintah pusat meluncurkan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dengan visi misi menggerakkan ekonomi desa lewat koperasi serba usaha. Tujuh unit usaha dirancang, yaitu sembako, pupuk, LPG, digitalisasi layanan, UMKM, dan pangan lokal. Tapi seberapa siap pengurus koperasi desa dan kelurahan menjalankannya.

Atas hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi UKM Kabupaten Sukabumi, Sigit Widarmadi, saat diwawancara wartawan Ia mengingatkan kelak pengelolaan Koperasi agar jangan sampai terulang kembali sejarah kelam seperti Koperasi Unit Desa (KUD). Soko guru koperasi bukan hanya slogan tapi semangat gotong royong yang tertanam di setiap anggota.

“Koperasi sejati hanya bisa lahir dari warga, untuk warga, dan dijalankan oleh warga yang berdaya,” tegasnya melalui seluler pada Kamis (22/05/2025).

Ia mengungkapkan setidaknya 4 risiko utama yang harus diantisipasi semua pihak agar tidak mengancam keberhasilan program Presiden Prabowo Subianto. Karena nanti pelaksanaannya harus dikelola amanah dan profesional. 4 Risiko yang patut diketahui oleh pengurus dan publik, diantaranya:

1. Manajemen koperasi tidak profesional atau tanpa pelatihan, koperasi bisa kolaps karena salah kelola.

2. Kredit Macet sebabkan pinjaman dari bank negara bisa jadi beban jika tak diiringi bisnis yang sehat.

3. Minim Partisipasi Warga karena dibentuk atas tanpa partisipasi bisa menghilangkan rasa memiliki dan kepercayaan.

4. Lemahnya Transparansi jika tanpa audit dan laporan terbuka, risiko korupsi meningkat.

Dari hal itu, diyakini Sigit, bila pengurus bisa antisipasi hal tersebut, dipastikan koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih bisa jadi loncatan besar bagi kesejahteraan masyarakat desa atau justru sebaliknya. Semua tergantung pada partisipasi warga, profesionalisme pengelola, dan kemauan belajar dari kesalahan masa lalu.

“Jangan ulangi kegagalan masa lalu. Koperasi hanya akan berhasil jika tumbuh dari partisipasi masyarakat, dikelola profesional, dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” pungkasnya.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Pesan Kemendagri untuk Pemda : 6 Yandas harus jadi Prioritas

0
Oplus_131072

Wartain.com || Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan pemerintah daerah (Pemda) wajib memprioritaskan anggaran untuk enam pelayanan dasar yang harus dijalankan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Adapun enam bidang pelayanan tersebut mencakup pendidikan; kesehatan; pekerjaan umum dan penataan ruang; perumahan rakyat dan kawasan pemukiman; ketentraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarkat; dan sosial.

Tito mengingatkan proses perencanaan anggaran untuk pelayanan dasar itu perlu dikawal sejak awal, mulai dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) hingga penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ia menyampaikan, pada saat melakukan reviu terhadap APBD, Kemendagri sangat memperhatikan alokasi anggaran untuk kebutuhan enam pelayanan dasar tersebut.

“Kalau seandainya sudah enggak masuk dalam program, bagaimana uangnya ada. Kalau uangnya enggak ada, enggak akan bisa dilaksanakan. Itulah pentingnya mengawal dari awal perencanaan sampai menjadi APBD,” terangnya dalam keterangannya, Jumat (23/5/2025).

Tito juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap implementasi pelayanan dasar ini. Gubernur, sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah, memiliki peran penting dalam memastikan enam pelayanan dasar tersebut berjalan baik di tingkat kabupaten/kota.

“Rekan-rekan gubernur, kepala daerah mengkoordinir enam SPM itu berjalan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa Kemendagri telah menyusun sistem pengawasan SPM lengkap dengan target pencapaian di tiap daerah. Hasilnya digunakan sebagai dasar pemberian penghargaan bagi daerah berprestasi, dan sanksi bagi yang tidak memenuhi kewajiban, termasuk teguran tertulis yang juga ditembuskan ke Ketua DPRD serta seluruh fraksi di daerah tersebut.

“Dan saya akan tembuskan (teguran tertulis ini) kepada Ketua DPRD dan seluruh fraksi partai-partai yang ada di DPRD itu,” ungkapnya.

Tito menambahkan sistem ini merupakan bukan hanya tentang kontrol, melainkan juga mendorong persaingan positif antar-Pemda untuk memberikan pelayanan terbaik bagi warganya. Ia pun mendorong Pemda agar tak ragu berinovasi dalam memenuhi enam kewajiban dasar ini.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Bacalah dan Tulislah : Bagaimana Dahulu Ulama Menulis?

0
Oplus_131072

Oleh : Ikin Abdurrahman/Direktur Majelis Dzikir Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih

Wartain.com || Ada yang mempertanyakan bagaimana ulama menulis kitab-kitab tersebut. Kok, rasanya mustahil. Membacanya saja bisa sekian belas tahun untuk satu karya, sedangkan karya mereka ada begitu banyak-seabreg !

Saya jawàb dengan cerita nyata saja ya…Saya semalam menulis mulai ba’da maghrib sampai isya. Istirahat sejenak lalu lanjut menulis sampai jam 2-an. Tulisan saya di foto oleh istri dengan tujuan untuk mengingatkan sudah waktunya istiràhat.
Dalam waktu sesingkat itu tak terasa saya sudah dapat 70-80 halaman. Itu tulisan dari halaman pertama sampai halaman terakhir baru saya garap di waktu yang hanya singkat tersebut. Saya tidak hendak mengatakan tentang diri saya. Siapalah saya yang tak punya karya apa-apa kecuali jadi si tukang himpun kambuhan yang rajinnya belum tentu sepekan sekali itupun dari hasil copast sana-sini, tentunya. Yang saya hendak ungkap bagaimana lagi ulama dengan keahlian yang mumpuni, kecerdasan luar biasa dan waktu yang full 24 jam menulis dengan jeda yang hanya sekedarnya ?

Saya harus membolak-balik kitab referensi, lalu menyusun ide (gagasan) dan diksi (redaksi) kalimat yang pas untuk dituangkan dalam tulisan. Sedangkan ulama dahulu itu banyak yang hafal kitab referensinya. Imàm An-Nawawi Rahimahullah misalnya, beliau mensyarah kitab hadits shahih Muslim dari hafalan yang ada di kepalanya, lengkap matan sekaligus rawi-rawinya. Pantas dan sangat wajar jika karya mereka yang memang luar biasa itu bisa sangat mengherankan bahkan dianggap mustahil oleh para pemalas dan kaum rebahan hari ini ?!

Bacalah dan Tulislah

Katanya, ketika kamu habis membaca sepuluh (10) buku, rasanya kamu seperti orang paling pinter di dunia, sepertinya kamu siap untuk dihadapkan dengan ulama, ahli fiqih, dan filosof untuk berdebat.

Setelah kamu baca lima puluh (50) buku, kamu akan jatuh cinta pada rutinitas baca buku, dan mungkin juga kamu akan senang kalau ditemani oleh segelas kopi dan sebungkus rokok. Mungkin juga kamu akan lebih prefer meja di pojokan kafe, dan akan prefer duduk di kursi pinggir jendela agar lebih enak membaca.

Setelah kamu baca seratus (100) buku, kamu akan membedakan antara buku bagus dan buku buruk, buku luar biasa dan buku biasa, dan kamu akan membawa buku catatan dan pena untuk sekedar mencatat quote atau info penting dari buku yang kamu baca. Dan besar kemungkinan kamu akan membeli tas kulit, dan kacamata baca, dan pastinya kamu akan akan menjadi orang yang sangat tenang.
Setelah kamu baca dua ratus (200) buku, kamu mungkin akan punya dunia sendiri, tidak suka lagi dengan hal-hal yang sedang viral, mungkin juga kamu akan berhenti langganan Netflix.

Setelah kamu baca tiga ratus lima puluh (350) buku, kamu pasti akan menyadari betapa bodohnya dirimu dulu sebelum membaca buku-buku itu, dan kemudian kamu juga akan menyadari betapa bodohnya kamu sekarang karena hanya sedikit yang kamu tahu !

Setelah kamu baca lima ratus (500) buku, kamu pasti akan mulai menulis !
Setelah kamu baca lima ratus (500) buku, kamu sudah mencapai level ilmiah tertentu yang membuat kamu “terpancing” untuk menulis, mengkritisi, dan ataupun bahkan untuk meruntuhkan teori-teori tertentu yang kamu baca yang mungkin menurutmu kurang atau keliru. Ya, kalau tidak pernah membaca, apa yang mau ditulis, karena seorang penulis yang baik itu dulunya adalah seorang pembaca yang baik. Sebagaimana halnya seorang pembicara yang hebat adalah seorang pendengar yang setia.

Rihlah (Perjalanan) Ulama Dahulu Dalam Menuntut Ilmu

Hidup itu perjalanan, dan perjalanan terindah adalah perjalanan menuntut ilmu karena hakikatnya ialah perjalanan menuju surga.

Dalam shahihnya, Imam Al-Bukhari (194-256 H) membuat satu judul dalam kitab ilmu, al-khuruj fi thalab al-‘ilmi (keluar dalam menuntut ilmu). Beliau menyebutkan salah satu contoh dari kalangan sahabat yang melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu, yaitu Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu melakukan perjalanan selama satu bulan kepada Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu untuk mendapatkan satu (1) hadits. Lalu beliau mengemukakan hadits tentang perjalanan Nabi Musa ‘alaihissalam dalam menuntut ilmu kepada Nabi Khidir ‘alaihissalam, yang juga dikisahkan di dalam Al-Qur’an
(Lihat QS. Al-Kahfi ayat : 60-82).

Lebih luas lagi tentang pembahasan ini, Al-Khatib Al-Baghdadi (392-463 H) menulis satu kitab khusus berjudul ar-rihlah fi thalab al-hadits (rihlah dalam mencari hadits). Di dalamnya dibahas hadits-hadits tentang keutamaan menuntut ilmu dan juga kisah tentang rihlah dalam mencari hadits, yaitu rihlah beberapa sahabat, serta para tabi’in dan para ulama setelah mereka. Di antaranya menyebutkan kisah perjalanan Jabir bin Abdillah sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Bukhari di atas, dengan berbagai jalur sanad darinya.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدٍ بْنِ عَقِيْلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَهُ قَالَ : بَلَغَنِي عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَدِيْثٌ سَمِعَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَمْ أَسْمَعْهُ مِنْهُ، قَالَ : فَابْتَعْتُ بَعِيْرًا، فَشَدَدْتُ عَلِيْهِ رَحْلِي، فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى أَتَيْتُ الشَّامَ، فَإِذَا هُوَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أُنَيْسٍ الأَنْصَارِي، قَالَ : فَأَرْسَلْتُ إِلَيْهِ أَنَّ جَابِرًا عَلَى الْبَابِ، قَالَ : فَرَجَعَ إِلَيَّ الرَّسُوْلُ، فَقَالَ : جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ؟ فَقُلْتُ : نَعَمْ، قَالَ : فَرَجَعَ الرَّسُوْلُ إِلَيْهِ فَخَرَجَ إِلَيَّ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ، قَالَ : قُلْتُ : حَدِيْثٌ بَلَغَنِي أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَمْ أَسْمَعْهُ، فَخَشِيْتُ أَنْ أَمُوْتَ أَوْ تَمُوْتُ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ، فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : يَحْشُرُ اللهُ الْعِبَادَ أَوْ قَالَ : يَحْشُرُ اللهُ النَّاسَ- قَالَ : وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الشَّامِ – عُرَاةً غُرَلًا بُهْمًا، قُلْتُ : مَا بُهْمًا؟ قَالَ : لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، قَالَ : فَيُنَادِيْهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ : أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ، لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَأَحَدٌ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَطْلُبُهُ بِمَظْلَمَةٍ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَدْخُلُ النَّارَ وَأَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَطْلُبُهُ بِمَظْلَمَةٍ حَتَّى اللَّطَمَةِ، قَالَ : قُلْنَا : كَيْفَ هُو، وَإِنَّمَا نَأْتِي اللهَ تَعَالَى عُرَاةً غُرَلًا بُهْمًا؟ قَالَ : بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ.

Dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil bin Abi Thalib bahwa Jabir bin Abdillah menceritakan kepadanya, ia berkata : “Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang langsung mendengar dari Rasulullah ﷺ, sedangkan aku tidak mendengarnya dari beliau. Jabir berkata, “Aku pun bersegera membeli seekor unta. Aku persiapkan bekal perjalananku dan aku tempuh perjalanan satu bulan untuk menemuinya, hingga sampailah aku ke Syam. Ternyata orang tersebut adalah Abdullah bin Unais. Aku berkata kepada penjaga pintu rumahnya, “Sampaikan kepada tuanmu bahwa Jabir sedang menunggu di pintu.” Jabir berkata, “Penjaga itu kembali lagi kepadaku dan bertanya, “Jabir bin Abdillah?” Aku jawab, “Ya, benar”. Jabir berkata, “Penjaga itu kembali kepadanya, lalu Abdullah bin Unais bergegas keluar, lalu dia merangkulku dan aku pun merangkulnya.” Aku berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits, dikabarkan bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ, sedangkan aku tidak mendengarnya. Saya khawatir aku meninggal atau engkau meninggal sementara aku belum sempat mendengarnya.” Abdullah bin Unais berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : “Allah akan mengumpulkan para hamba–atau beliau bersabda-“Allah akan mengumpulkan manusia”–Abdullah bin Unais berkata,“Beliau berisyarat dengan tangannya ke arah Syam”- dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan buhma.” Kami bertanya, ‘Apa itu buhma ?’. Beliau menjawab, ‘Tidak membawa apa pun. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh yang jauh sebagaimana didengar oleh yang dekat, ‘Aku adalah al-Malik (Maharaja)! Aku adalah ad-Dayyan (Yang Maha Membalas amalan hamba) ! Tidaklah pantas bagi siapa pun dari kalangan penghuni surga untuk masuk ke dalam surga sementara masih ada penghuni neraka yang menuntutnya dengan suatu kezaliman. Dan tidak pantas bagi siapa pun dari kalangan penghuni neraka untuk masuk ke dalam neraka sementara masih ada penghuni surga yang menuntutnya dengan suatu kezaliman, meskipun hanya sebuah tamparan.” Kami bertanya, “Bagaimana caranya menunaikan hak mereka sedangkan kita menemui Allah dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak memiliki apa pun ?” Nabi menjawab, “Diselesaikan dengan kebaikan dan kejelekan.”

(Al-Khatib Al-Baghdadi, Ar-Rihlah fi Thalab Al-Hadits, hal. 110-111, diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam musnadnya no. 16042, Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no.970, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/574), dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma, hal.78-79).

Selain itu, syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah (1336-1417 H/1917-1997 M), salah seorang ulama ahli hadits kontemporer, menulis satu kitab yang berjudul Shafahat min Shabril ‘Ulama (Lembaran-lembaran dari kesabaran para ulama) yang di dalamnya cukup banyak diulas tentang rihlah para ulama dalam menuntut ilmu.

Kita sebutkan contoh lain, misalnya dari kalangan tabi’in, yaitu Sa’id bin Al-Musayyib (15-94 H), pemimpin ulama tabi’in. Nama ayahnya bisa disebut Al-Musayyib bisa pula Al-Musayyab. Yang pertama lebih disukai penduduk Madinah, dan yang kedua lebih disukai penduduk Irak. Imam Malik berkata, dari Yahya bin Sa’id, dari Sa’id bin Al-Musayyib, ia berkata :

كُنْتُ أَرْحَلُ الْأَيَّامَ وَاللَّيَالِي فِي طَلَبِ الْحَدِيْثِ الْوَاحِدِ

“Aku pernah melakukan perjalanan berhari-hari dan bermalam-malam dalam mencari satu hadits.”
(Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, 9/100).

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) rahimahullah, seorang ahli hadits sekaligus ahli fiqih, ahli wara’ dan zuhud. Bagaimana bisa terkumpul ilmu di dalam dirinya dan menghapal begitu banyak hadits ? Diantaranya adalah dengan banyak melakukan perjalanan mencari ilmu dan menghimpun hadits, bahkan mengelilingi dunia.
Ibnu Katsir (701-774 H) menyebutkan :

وَقَدْ طَافَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي الْبِلَادِ وَالْآفَاقِ، وَسَمِعَ مِنْ مَشَايِيْخِ الْعَصْرِ، وَكَانُوا يُجِلُّوْنَهُ وَيَحْتَرِمُوْنَهُ فِي حَالِ سَمَاعِهِ مِنْهُمْ

“Sungguh Ahmad bin Hanbal telah mengelilingi negeri-negeri dan penjuru dunia, dan mendengar dari para syaikh di zamannya, mereka memuliakan dan menghormatinya pada saat ia mendengar dari mereka.”
(Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, 14/383).

Ibnul Jauzi (510-597 H) menyebutkan :

وَقَدْ طَافَ الدُّنْيَا مَرَّتَيْنِ حَتَّى حَصَلَهُ، وَهُوَ أَرْبَعُوْنَ أَلْفَ حَدِيْثٍ، مِنْهَا عَشْرَةُ آلَافٍ مُكَرَّرَةٍ

“Sungguh dia (Imam Ahmad) mengelilingi dunia sebanyak dua kali hingga ia menghasilkannya (musnadnya), ia sebanyak empat puluh ribu (40.000) hadits, sepuluh ribu (10.000) diantaranya berulang.”
(Ibnul Jauzi, Shaidul Khatir, hal. 259)

Imam Al-Bukhari (194-256 H) rahimahullah, sang Amirul Mu’minin dalam ilmu hadits, dapat mencapai pada posisinya, tiada lain dengan melakukan banyak rihlah dalam menghimpun dan menyeleksi hadits. Ia mengatakan :

لَقِيتُ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفِ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَهْلِ الْحِجَازِ وَمَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ وَالْكُوفَةِ وَالْبَصْرَةِ وَوَاسِطَ وَبَغْدَادَ وَالشَّامِ وَمِصْرَ لَقِيتُهُمْ كَرَّاتٍ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ ثُمَّ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ، أَدْرَكْتُهُمْ وَهُمْ مُتَوَافِرُونَ مُنْذُ أَكْثَرَ مِنْ سِتٍّ وَأَرْبَعِينَ سَنَةً، أَهْلَ الشَّامِ وَمِصْرَ وَالْجَزِيرَةِ مَرَّتَيْنِ وَالْبَصْرَةِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ فِي سِنِينَ ذَوِي عَدَدٍ بِالْحِجَازِ سِتَّةَ أَعْوَامٍ، وَلَا أُحْصِي كَمْ دَخَلْتُ الْكُوفَةَ وَبَغْدَادَ مَعَ مُحَدِّثِي أَهْلِ خُرَاسَانَ

“Aku telah menemui lebih dari seribu orang dari ahli ilmu penduduk Hijaz, Makkah dan Madinah, Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir. Aku menemui mereka beberapa kali, dari tahun ke tahun, kemudian dari tahun ke tahun. Aku menemui mereka, dan mereka memiliki banyak ilmu sejak empat puluh enam tahun. Kepada penduduk Syam, Mesir dan Jazirah sebanyak dua kali, ke Bashrah empat kali, beberapa tahun yaitu enam tahun di Hijaz. Dan aku tidak dapat menghitung berapa kali aku masuk ke Kufah dan Baghdad bersama para ahli hadits penduduk Khurasan.”
(Lihat Al-Lalikai, Syarh I’tiqad Ahlis Sunnah, 1/193).

Bahkan, pernah ia ingin menemui Abdur Razzaq bin Himam Ash-Shan’ani (126- 211 H) untuk meriwayatkan hadits secara langsung darinya. Namun ketika telah melalui cukup jauh perjalanan, dikabarkan bahwa Abdur Razzaq telah meninggal. Akhirnya ia tidak lagi melanjutkan perjalanan. Tetapi kemudian dikabarkan lagi bahwa sebenarnya ia masih hidup. Ia pun hendak menemuinya, namun kemudian dikabarkan lagi akan kewafatan Abdur Razzaq yang sebenarnya. Akhirnya ditakdirkan ia tidak dapat menemuninya. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (773-852 H) menyebutkan, “

وَقَدْ أَدْرَكَ عَبْدَ الرَّزَّاقَ وَأَرَادَ أَنْ يَرْحَلَ إِلَيْهِ وَكَانَ يُمْكِنُهُ ذَلِكَ فَقِيْلَ لَهُ إِنَّهُ مَاتَ فَتَأَخَّرَ عَنِ التَّوَجُّهِ إِلَى الْيَمَنِ، ثُمَّ تَبَيَّنَ أَنَّ عَبْدَ الرَّزَّاقِ كَانَ حَيًّا فَصَارَ يَرْوِي عَنْهُ بِوَاسِطَةٍ.

“Dia (imam Bukhari) sezaman dengan Abdur Razaq dan hendak melakukan perjalanan menemuinya. Hal itu memungkinkan baginya, namun dikatakan bahwa ia telah meninggal hingga ia terlambat untuk menuju ke Yaman. Kemudian nyatalah bahwa Abdur Razzaq sebenarnya masih hidup. Akhirnya, jadilah ia meriwayatkan darinya melalui perantara.”
(Lihat Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Al-Hadyus Sari Muqaddimah Fathil Bari, hal. 745).

Di tempat lain Ibnu Hajar juga menjelaskan :

وَقَالَ أَبُو الْفَضْلِ مُحَمَّدُ بْنُ طَاهِرٍ : قَدِمَ الْبُخَارِي بِبَغْدَادَ سَنَةَ عَشْرٍ وَمِائَتَيْنِ وَعَزَمَ عَلْى الْمُضِيِّ إِلَى عَبْدِ الرَّزَّاقِ بِالْيَمَنِ فَالْتَقَى بِيَحْيَى بْنِ جَعْفَرٍ البَيْكَنْدِي فَاسْتَخْبَرَهُ فَقَالَ مَاتَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ ثُمَّ تَبَيَّنَ أَنَّهُ لَمْ يَمُتْ فَسَمِعَ الْبُخَارِي حَدِيْثَ عَبْدِ الرَّزَّاقِ مِنْ يَحْيَى بْنِ جَعْفَرٍ. قُلْتُ : وَيَحْيَى بْنُ جَعْفَرٍ مِنَ الثِّقَاتِ الْأَثْبَاتِ وَمَا أَعْتَقِدُ أَنَّهُ افْتَرَى وَفَاةَ عَبْدِ الرَّزَّاقِ بَلْ لَعَلَّهُ حَكَاهُ لِإِشَاعَةٍ لَمْ تَصِحَّ وَكَانَ يَحْيَى بْنُ جَعْفَرٍ بَعْدَ ذَلِكَ يَدْعُو لِمُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ وَيُفْرِطُ فِي مَدْحِهِ

“Abul Fadh Muhammad bin Thahir berkata : “Al-Bukhari datang ke Baghdad tahun 210 H dan berazam untuk melakukan perjalanan untuk menemui Abdur Razzaq di Yaman. Lalu ia bertemu dengan Yahya bin Ja’far Al-Baikandi. Lalu ia (Yahya) memberitahukan bahwa Abdur Razzaq telah meninggal. Kemudian nyatalah bahwa sebenarnya ia belum meninggal. Maka Al-Bukhari mendengar hadits Abdur Razzaq dari Yahya bin Ja’far.” Aku (Ibnu Hajar) berkata : “Yahya bin Ja’far termasuk rawi yang tsiqoh (terpercaya) dan atsbat (kuat). Aku tidak meyakini bahwa dia berbohong tentang kewafatan Abdur Razzaq, kemungkinan hal itu karena isu tidak benar yang tersebar. Yahya bin Ja’far setelah itu mendoakan Muhammad bin Isma’iI (Al-Bukhari) dan berlebihan dalam memujinya.”
(Lihat Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Taghliqut Ta’liq ‘ala Shahih Al-Bukhari, 5/390).

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditemani oleh Yahya bin Ma’in (158-233 H) melakukan perjalanan dari Baghdad ke Shan’a Yaman dengan berjalan kaki tanpa menunggangi kendaraan untuk belajar kepada gurunya yaitu Abdur Razzaq Ash-Shan’ani dan menetap di sana selama dua tahun dalam keadaan hidup serba kekurangan.
(Lihat Adz-Dzahabi, Tarikh Al-Islam, 14/66, Bakr Abu Zaid, Al-Madkhal Al-Mufashal ila Fiqhi Al-Imam Ahmad, 1/344). Begitupun sejumlah besar para ulama lainnya melakukan hal yang sama.
Imam Asy-Syafi’i (150-204 H) telah menulis syair tentang pentingnya merantau untuk menuntut ilmu :

مَا فِي الْمُقَامِ لِذِي عَقْلٍ وَذِي أَدَبِ
مِنْ رَاحَةٍ فَدَعِ الأَوْطَانَ وَاِغتَرِبِ

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّنْ تُفارِقُهُ
وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ العَيْشِ فِي النَّصَبِ

إِنّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ الْمَاءِ يُفسِدُهُ
إِنْ سَاحَ طَابَ وَإِن لَمْ يَجرِ لَم يَطِبِ

وَالأُسْدُ لَوْلَا فِرَاقُ الْغَابِ مَا افتَرَسَتْ
وَالسَّهْمُ لَولَا فِرَاقُ القَوْسِ لَم يُصِبِ

وَالشَّمْسُ لَوْ وَقَفَتْ فِي الفُلْكِ دَائِمَةً
لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنْ عَرَبِ

وَالتِّبْرُ كَالتُرْبِ مُلْقًى في أَماكِنِهِ
وَالْعُوْدُ في أَرْضِهِ نَوْعٌ مِنَ الحَطَبِ

فَإِنْ تَغَرَّبَ هَذَا عَزَّ مَطْلَبُهُ
وَإِن تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كَالذَّهَبِ

“Bukanlah diam di tempat tinggal itu bagi orang yang berakal dan beradab
Suatu ketentraman, maka tinggalkanlah negerimu dan jadilah orang asing
Lakukanlah safar, kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan
Berlelah-lelahlah karena kelezatan hidup itu ada pada kelelahan
Sungguh, aku melihat diamnya air dapat merusaknya
Jika mengalir, ia akan baik dan jika tidak mengalir menjadi tidak baik
Singa itu jika tidak meninggalkan hutan, ia tidak menjadi buas
Dan anak panah jika tidak meninggalkan busurnya tidak akan mengena
Matahari jika diam saja di orbitnya selamanya
Niscaya manusia akan bosan baik orang Arab maupun orang Ajam (non-Arab)
Biji emas seperti tanah saat dibiarkan di tempatnya
Kayu gaharu di tempatnya tak ada bedanya dengan kayu biasa
Jika biji emas itu memisahkan diri, maka menjadi tinggilah harganya
Dan jika kayu gaharu itu dikeluarkan dari tempatnya, ia menjadi parfum yang bernilai tinggi seperti emas”
(Lihat Diwan Imam Asy-Syafi’i, hal.25-26).***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Raih Poin WTP dari BPK, Bupati Asjap : Hasil Kerja Keras Semua Pihak Jajaran Pemkab Sukabumi

0

Wartain.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi kembali mengukir prestasi gemilang dalam pengelolaan keuangan daerah untuk ke-11 kalinya secara berturut-turut. Dimana, Pemkab. Sukabumi berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2024.

Penyerahan laporan hasil pemeriksaan tersebut berlangsung di Auditorium Lantai 5, Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Jawa Barat, pada Jumat (23/5/2025). Bupati Sukabumi, H Asep Japar secara langsung menerima hasil pemeriksaan tersebut.

Bupati Sukabumi mengatakan, prestasi Ini adalah buah kerja keras bersama dari seluruh jajaran perangkat daerah hingga DPRD. Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjaga akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah.

“Terimakasih kepada perangkat daerah yang telah bekerja keras mempertahankan WTP ini,” ujarnya.

Menurutnya, prestasi tersebut menjadi motivasi untuk mempertahankan serta meningkatkan kualitas tata kelola keuangan di tahun-tahun berikutnya.

Bupati menambahkan, raihan opini WTP ini bukan sekadar prestasi administratif melainkan refleksi dari tata kelola pemerintahan yang sehat dan bertanggung jawab.

“Semoga kita bisa bersama-sama mempertahankan prestasi yang membanggakan ini,” imbuhnya.

Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, turut menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas capaian tersebut. Oleh karena itu, dirinya berharap sinergi antara legislatif dan eksekutif dapat terus terjalin dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik.

“Mudah-mudahan opini WTP ini bisa menjadikan Kabupaten Sukabumi yang maju unggul berbudaya dan berkah (Mubarokah) dan bisa lebih baik lagi dalam pengelolaan keuangannya,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu dilakukan Penandatangan berita acara dan penyerahan laporan hasil pemeriksaan.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Bangunan Liar Menjamur di Jalur Strategis Sukabumi, Penegakan Aturan Terkendala Dilema Sosial

0

Wartain.com || Puluhan bangunan liar terus menjamur di sepanjang Jalan Raya Jalur Lingkar Selatan Sukabumi yang merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Meski status lahannya jelas sebagai milik negara dan diperuntukkan bagi kepentingan infrastruktur strategis, belum ada langkah konkret untuk menertibkan bangunan-bangunan yang berdiri tanpa izin tersebut.

Keberadaan bangunan liar, yang sebagian difungsikan sebagai tempat tinggal dan usaha, tidak hanya mengganggu estetika lingkungan tetapi juga melanggar ketentuan tata ruang. Banyak dari bangunan itu berdiri hanya beberapa meter dari badan jalan, jauh dari batas aman minimal 10 meter sebagaimana diatur dalam regulasi.

Jalur Lingkar Selatan sendiri merupakan jalan provinsi yang berperan vital sebagai penghubung antar kawasan, termasuk akses menuju Cibadak–Cikidang dan perbatasan Provinsi Banten di Simpang Karanghawu. Namun kini fungsinya terancam oleh okupasi liar yang menghambat tata kelola wilayah.

Menanggapi situasi tersebut, UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah II Sukabumi melalui stafnya, Irfan, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyelesaikan pendataan awal terhadap bangunan-bangunan yang dianggap melanggar. “Ada lebih dari 30 bangunan yang tersebar di beberapa titik. Kami sudah sampaikan datanya ke Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang di Bandung, termasuk rapat koordinasi dengan Satpol PP Provinsi,” ungkapnya, Jumat (23/6/2025).

Irfan menyebutkan, sebagian besar bangunan yang berdiri di atas lahan negara tersebut merupakan lapak pedagang kaki lima. Namun tidak sedikit pula bangunan permanen yang difungsikan sebagai toko dan kios, bahkan ada yang sudah diberikan surat teguran.

Meski proses pendataan telah rampung, surat resmi untuk penertiban belum dikeluarkan. Alasannya, pihak UPTD dan instansi terkait masih mempertimbangkan aspek sosial di lapangan. “Kami tidak menutup mata bahwa banyak warga menggantungkan hidup dari usaha di bangunan-bangunan itu. Maka pendekatan persuasif menjadi pilihan utama,” jelas Irfan.

Namun demikian, UPTD menegaskan bahwa aturan tetap harus ditegakkan demi kepentingan umum. Selain potensi membahayakan pengguna jalan, bangunan liar di jalur provinsi juga berisiko menimbulkan masalah drainase, kemacetan, hingga kesemrawutan kawasan.

Untuk mendukung penataan lingkungan, UPTD juga menggulirkan program penghijauan di beberapa titik jalan provinsi agar tetap terjaga keasriannya. “Kami ingin jalur strategis ini bisa dimanfaatkan sebagaimana fungsinya: aman, tertib, dan nyaman. Tapi tentu semua itu harus dilakukan secara bertahap dan terukur,” tegasnya.

Sejauh ini, belum ada kejelasan waktu mengenai jadwal penertiban. Pemerintah daerah menunggu arahan dan keputusan Satpol PP Provinsi Jawa Barat untuk mengambil langkah konkret sesuai prosedur yang berlaku.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Ketum PPJNA 98 Sebut, Presiden Prabowo Komitmen Jalankan Agenda Reformasi Menuju Rakyat Sejahtera

0
Oplus_131072

Wartain.com || Ketua PPJNA 98 Anto Kusumayuda, menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan komitmennya dalam menjalankan amanah reformasi, terutama dalam aspek peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Anto menegaskan bahwa Prabowo bukan hanya melanjutkan tongkat estafet reformasi, tetapi juga memperkuat fondasinya melalui kebijakan pro-rakyat.

“Kami melihat Presiden Prabowo tidak sekadar memimpin pemerintahan secara administratif. Ia membawa semangat perubahan yang berpihak kepada rakyat kecil, sebagaimana semangat reformasi 1998,” ujar Anto kepada redaksi wartain.com di Jakarta, Jumat (23/5).

Menurut Anto, agenda reformasi yang berakar dari perjuangan mahasiswa dan masyarakat sipil pada 1998 bukanlah sekadar pergantian rezim, tetapi membentuk sistem pemerintahan yang adil, demokratis, dan berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

Dalam konteks itu, Anto menilai, berbagai program strategis Prabowo dalam bidang pangan, ketahanan energi, hilirisasi industri, dan penguatan UMKM merupakan bagian dari upaya merealisasikan cita-cita reformasi dalam wajah kekinian.

Anto memaparkan bahwa keberpihakan Prabowo terhadap ekonomi rakyat bisa dilihat dari sejumlah kebijakan yang digagas sejak awal pemerintahannya. Di antaranya adalah program makan siang gratis untuk pelajar dan santri, yang menurutnya merupakan bentuk konkret dari kepedulian negara terhadap hak-hak dasar rakyat.

“Program makan siang gratis bukan sekadar pemberian bantuan, tetapi sebuah revolusi sosial. Ini adalah wujud nyata kehadiran negara dalam kehidupan rakyat sehari-hari,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya transformasi ekonomi berbasis kedaulatan pangan dan energi. Prabowo, menurut Anto, memahami bahwa Indonesia tidak boleh lagi menjadi bangsa yang bergantung pada impor kebutuhan pokok.

“Kita ingin melihat Indonesia yang mandiri dan berdaulat. Dan Prabowo membawa semangat itu lewat program ketahanan pangan berbasis desa dan petani lokal. Ini sejalan dengan cita-cita reformasi: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelas Anto.

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim gerakan reformasi, PPJNA 98 melihat pentingnya peran pengawalan terhadap jalannya pemerintahan, termasuk memberikan kritik dan dukungan konstruktif. Anto menyampaikan bahwa masa reformasi telah memberikan pelajaran penting bahwa perubahan harus terus dijaga dan diarahkan, bukan sekadar euforia sesaat.

“Dulu kami berada di garis depan untuk menggugat ketidakadilan, kini kami berdiri untuk mengawal jalannya pemerintahan yang berpihak kepada rakyat. Dan sejauh ini, Prabowo telah membuktikan arah yang benar,” tuturnya.

Menurutnya, keberanian Prabowo mengambil kebijakan besar yang populis dan strategis menunjukkan bahwa pemerintahan saat ini tidak takut pada tantangan. Anto menekankan bahwa keberpihakan pada rakyat adalah ukuran utama keberhasilan reformasi.

PPJNA 98 juga menegaskan bahwa reformasi tidak boleh berhenti sebagai narasi historis. Reformasi harus menjadi aksi nyata yang berkelanjutan. Anto mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut serta aktif dalam mengawal pemerintahan dan memastikan agenda reformasi tetap relevan dengan tantangan zaman.

“Kami ingin mengingatkan publik: reformasi bukan milik masa lalu. Ia hidup, bergerak, dan berkembang. Dan Prabowo sedang membuktikan bahwa reformasi bisa diwujudkan dalam bentuk yang nyata, bukan sekadar slogan,” pungkasnya.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

DPRD Kabupaten Sukabumi Sahkan Status BPR Menjadi Perseroda

0

Wartain.com || DPRD Kabupaten Sukabumi menggelar rapat paripurna dengan sejumlah agenda penting. Salah satunya pengambilan keputusan Raperda tentang perubahan status Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sukabumi menjadi perusahaan perseroan daerah (Perseroda).

“Rapat paripurna hari ini ada beberapa agenda, di antaranya pengambilan keputusan terhadap Raperda tentang Bank BPR Sukabumi menjadi Perseroda. Setelah dibahas bersama pansus dan kita sudah sepakat dan disetujui DPRD,” kata Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, Rabu (21/5/2025).

Selain itu, DPRD juga menerima jawaban Bupati Sukabumi terkait pandangan fraksi-fraksi terhadap Raperda tentang dana cadangan Pilkada 2029.

“Barusan juga Pak Bupati sudah menyampaikan dan menjawab yang menjadi pandangan umum fraksi-fraksi terhadap Raperda tentang dana cadangan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati 2029. Kemudian juga barusan Pak Bupati menyampaikan Raperda tentang RPJMD tahun 2025-2029,” ujar Budi.

DPRD juga membentuk panitia khusus (pansus) untuk membahas dana cadangan Pilkada 2029.

Sementara itu, Bupati Sukabumi Asep Japar mengatakan keputusan DPRD soal BPR akan segera ditindaklanjuti.

“Barusan sudah dilakukan rapat paripurna dengan pembahasan pengambilan keputusan Raperda BPR menjadi Perseroda. Nah nanti sekaligus akan segera ini disampaikan ke gubernur untuk lanjutnya mendapat nomenklatur, ataupun nomor registrasi,” ujar Asep.

Asep berharap perubahan status BPR menjadi Perseroda bisa mendukung pembangunan di Sukabumi. “Mudah-mudahan semua pembahasan Raperda dalam perjalanannya setelah ini, putusan BPR menjadi Perseroda berjalan kelancaran untuk pembangunan ke depan di Kabupaten Sukabumi lebih baik lagi,” imbuhnya.

Rapat paripurna akan dilanjutkan Kamis (22/5) dengan agenda pandangan fraksi terhadap RPJMD 2025-2029.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

19 Pelajar Sukabumi Rampungkan Pendidikan Karakter di Barak Militer, Akan Terus Dipantau

0

Wartain.com || Sebanyak 19 pelajar dari Kota dan Kabupaten Sukabumi telah menyelesaikan program pendidikan karakter berbasis kedisiplinan militer di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Program ini berlangsung sejak awal Mei dan resmi berakhir dengan pemulangan peserta ke Sukabumi pada Rabu malam (21/5/2025).

Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Jawa Barat Wilayah V, Lima Faudiamar, menjelaskan bahwa para pelajar telah mengikuti pelatihan intensif selama hampir tiga minggu. Mereka sebelumnya turut serta dalam upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang digelar di Lapangan Gasibu, Bandung, pada Selasa (20/5/2025).

“Setelah mengikuti upacara, mereka dijemput tim KCD dan dibawa kembali ke Sukabumi. Malam harinya kami fasilitasi pertemuan dengan orang tua mereka di kantor KCD,” ujar Lima, Jumat (23/5/2025).

Dalam momen kepulangan itu, para pelajar menjalani prosesi sungkem kepada orang tua sebagai simbol awal perubahan sikap. Langkah ini, kata Lima, menjadi bagian dari upaya memulihkan hubungan keluarga dan menguatkan nilai-nilai etika serta tanggung jawab sosial.

Dari total peserta, 18 di antaranya adalah pelajar laki-laki dan satu orang pelajar perempuan. Mereka mengikuti program ini karena terindikasi terlibat dalam berbagai perilaku menyimpang, mulai dari tawuran, penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang, kecanduan gawai, hingga masalah perilaku seksual menyimpang.

“Kami tidak ingin menghakimi mereka, tetapi mengarahkan. Yang penting sekarang adalah pemantauan. Kami rencanakan agar para peserta gelombang pertama ini kembali ke Dodik satu kali dalam sebulan untuk evaluasi dan pemeliharaan perubahan karakter mereka,” jelasnya.

Menurut Lima, selama tiga minggu pelatihan berlangsung, terlihat sejumlah perubahan positif pada para peserta. Karenanya, rencana jangka panjang akan difokuskan pada pendampingan berkelanjutan.

Sementara itu, untuk gelombang kedua, KCD telah menerima lebih dari 40 calon peserta. Namun, karena keterbatasan kuota, hanya 20 siswa yang akan diberangkatkan—masing-masing 10 dari wilayah kota dan kabupaten.

“Antusiasmenya cukup tinggi. Tapi kita sesuaikan dengan daya tampung dan efektivitas pembinaan. Harapannya, program ini bisa menjadi jalan pembinaan karakter secara menyeluruh dan manusiawi bagi siswa yang sempat menyimpang,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik