Oleh: Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Di banyak tempat, nama “Allah” begitu akrab. Ia disebut dalam azan, disisipkan di awal surat resmi, dicetak di buku-buku pelajaran, dipasang di dinding rumah, digantung di kaca mobil, hingga diucapkan saat marah atau bercanda. Tapi justru dalam keakraban inilah kita harus bertanya: mengapa nama Allah sedemikian dikenal, namun perintah-Nya seakan tak penting untuk ditaati?
Fenomena ini bukan soal tidak tahu siapa Allah. Bahkan iblis pun tahu siapa Allah:
“Ia (iblis) berkata: ‘Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Ḥijr: 36)
Namun iblis menolak satu perintah saja—bersujud kepada Adam—dan karena itu ia terusir. Iblis percaya, tapi tidak taat. Dan di sinilah letak cermin umat manusia modern. Mereka percaya Allah ada, tapi tak merasa harus tunduk pada aturan-Nya. Inilah akar paradoks zaman ini: keimanan lisan tanpa ketaatan jiwa.
1. Kedekatan yang Kosong Makna
Nama Allah telah menjadi bagian dari budaya. Tapi budaya bisa hampa dari ruh. Kita menyebut “insyaAllah” sambil tahu tidak akan datang. Kita bilang “Alhamdulillah” sambil mengeluh dalam hati. Ini keakraban verbal yang tidak lagi menumbuhkan kesadaran spiritual. Di sinilah agama ditelan rutinitas, nama Allah jadi simbol kosong.
2. Ketuhanan yang Disamakan dengan Nama Merek
Banyak manusia menyebut nama Allah sebagaimana menyebut nama orang penting atau merek terkenal—sebagai identitas kelompok, bukan pusat ketaatan. Maka Allah lebih sering dijadikan tameng untuk membela ego, bukan kiblat hidup yang menuntun jiwa. Akhirnya, agama pun kehilangan daya ubahnya karena Tuhan telah dijadikan ornamen, bukan pusat kesadaran.
3. Penyakit Iblis yang Menular
Iblis tidak ateis. Ia tidak pernah mengingkari keberadaan Tuhan. Tapi ia menolak tunduk kepada kehendak Tuhan, karena merasa lebih benar. Banyak manusia mewarisi penyakit iblis ini: tahu Allah ada, mengakuinya dengan mulut, bahkan menyebut-Nya dengan mulia, tapi menolak tunduk ketika perintah Allah bertentangan dengan nafsu atau logika egonya.
4. Islam Tanpa Keimanan yang Hidup
Fenomena ini disebut dalam Al-Qur’an:
“Orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk’ (masuk Islam), karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.'” (QS. Al-Ḥujurat: 14)
Maka, menjadi Muslim belum tentu berarti sudah beriman. Dan beriman belum tentu berarti sudah taat. Taat adalah buah dari iman yang hidup. Iman yang hidup adalah iman yang menggugah batin, bukan sekadar pengakuan.
5. Dunia Modern yang Memisahkan Tuhan dan Kehidupan
Sistem dunia modern memisahkan agama dari kehidupan. Tuhan ditempatkan di masjid, bukan di kantor, pasar, layar digital, atau meja keputusan. Padahal Allah adalah Tuhan setiap detik. Tapi manusia modern hidup seolah-olah Allah itu hanya untuk urusan kematian, bukan kehidupan. Maka hukum-hukum-Nya pun dianggap usang.
Penutup: Mengingat Tuhan dengan Tunduk, Bukan Sekadar Menyebut
Nama Allah tak seharusnya jadi pajangan. Ia adalah panggilan kepada hati untuk tunduk. Kalau kita terus menyebut nama-Nya tanpa mentaati-Nya, kita sedang menapaki jejak iblis—yang kenal, tapi enggan patuh.
Yang menyelamatkan bukan seberapa sering kita menyebut nama Allah, tapi seberapa dalam kita tunduk kepada kehendak-Nya.
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?”
(QS. Al-Baqarah: 85)
Itulah pertanyaan yang seharusnya mengguncang kita semua. (***)
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
