Wartain.com || Pemerintah Kota Sukabumi menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat tata kelola pemerintahan melalui penguatan sistem pelaporan inovasi daerah. Upaya ini ditandai dengan digelarnya Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelaporan Inovasi Daerah, yang berlangsung di kantor Bappeda Kota Sukabumi pada Kamis (24/7/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan Kota Sukabumi dalam menghadapi proses penilaian Innovative Government Award (IGA) 2025, sekaligus momentum memperkuat budaya inovatif di lingkungan birokrasi.
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki menegaskan bahwa birokrasi Kota Sukabumi harus mampu menjadi motor penggerak inovasi pelayanan publik, sekaligus pendorong pencapaian program strategis nasional. Ia menekankan pentingnya struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) yang adaptif terhadap kebutuhan reformasi birokrasi dan bebas dari kepentingan politik.
“Birokrasi harus berdiri di atas prinsip pelayanan, bukan alat politik. Profesionalisme adalah pilar utama,” ujar Ayep.
Lebih lanjut, ia mendorong lahirnya entrepreneurial bureaucracy atau birokrasi wirausaha, yakni perangkat daerah yang mampu menciptakan kemandirian fiskal melalui penguatan unit layanan seperti BLUD dan BUMD. Menurutnya, BUMD tak lagi boleh menjadi beban keuangan daerah, tetapi harus menjadi mesin penggerak peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Inovasi bukan hanya sekadar proyek, tetapi solusi konkret atas masalah yang dihadapi masyarakat,” tegasnya. Ia menyoroti sektor-sektor penting seperti pengelolaan sampah, pasar, parkir, tata ruang, serta layanan air bersih sebagai prioritas pengembangan inovasi yang berdampak langsung pada kehidupan warga.
Wali Kota juga mengingatkan pentingnya inovasi yang berbasis data, terintegrasi dengan dokumen perencanaan seperti RPJMD, serta wajib dilaporkan oleh seluruh SKPD dengan standar kinerja yang jelas dan terukur. Dalam konteks inilah, Bimtek menjadi ruang belajar sekaligus wadah membangun kesamaan visi antarperangkat daerah.
Tidak hanya fokus pada internal pemerintahan, Ayep juga mendorong kolaborasi kreatif lintas sektor, baik dengan kementerian, sektor swasta, hingga pemanfaatan potensi wakaf. Ia percaya bahwa sinergi multisektor menjadi kunci dalam menciptakan pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Ia pun menargetkan dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan, seluruh perangkat daerah Kota Sukabumi sudah memiliki inovasi unggulan yang mampu mendukung posisi Sukabumi masuk dalam 10 besar kota terinovatif nasional versi IGA.
Bimtek ini turut menjadi forum diskusi terbuka bagi para peserta untuk saling bertukar ide, menyampaikan tantangan, serta merumuskan strategi pelaporan inovasi yang lebih efektif. Wali Kota berharap kegiatan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi tonggak transformasi kinerja birokrasi menuju tata kelola yang lebih partisipatif dan inovatif.
“Inovasi tidak harus mahal atau rumit. Yang terpenting, mampu menjawab persoalan riil masyarakat,” tutup Ayep Zaki.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Sukabumi tidak hanya menyiapkan laporan inovasi untuk ajang IGA, tetapi juga membangun fondasi jangka panjang yang menjadikan inovasi sebagai bagian dari budaya kerja birokrasi.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
