Oleh : Ibang Lukmanudin/ Mahasiswa S3 UIN SGD Bandung, Prodi Filsafat Agama
Wartain.com || Allah ﷻ berfirman :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Artinya : Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raf 7: 96)
Dalam bahasa Arab, barokah bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu. Tabriik adalah mendoakan seseorang agar mendapatkan keberkahan. Sedangkan tabarruk adalah istilah untuk meraih berkah.
Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah atau barokah ialah kebaikan yang banyak dan abadi. Para ulama pun menjelaskan bahwa berkah atau barokah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah secara material dan spiritual, keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, dan sebagainya.
Allah ﷻ berfirman :
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِى مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍۖ كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Artinya : Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS Saba’ 34:15)
Mewujudkan negeri yang penuh berkah tidaklah mudah, harus ada peran pemimpin dan masyarakat untuk mewujudkannya menjadi negeri yang adil, sejahtera, aman, makmur sehingga kasih sayang dan ampunan Allah terus mengalir.
Syarat agar sebuah negeri menjadi berkah dan tenteram, penduduknya harus beriman dan bertakwa. Penduduknya selalu dalam ketaatan, tak boleh bermaksiat.
Allah ﷻ berfirman :
وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ اَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْكُلّش مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللهِ فَاَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ (النحل
Artinya : Dan Allah telah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman, tentram, rizkinya datang melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi karena penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka allah merasakan bencana kelaparan dan ketakutan sebab ulah prilaku mereka sendiri (QS An-Nahl 16 :112)
Penduduk negeri yang kufur nikmat-nikmat Allah itu adalah penduduk yang tidak tahu bersyukur. Karena yang namanya mensyukuri nikmat itu tidak hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah, namun juga harus diwujudkan dalam bentuk tindakan amal yang nyata, yang tidak lain adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Karena itu, agar negeri ini aman dari berbagai ancaman dan bencana, menjadi negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, hendaknya pemimpin memberikan tauladan diikuti dengan masyarakatnya.
Allah ﷻ berfirman :
يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلاَئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ( التحريم
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu , penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintah-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At-Tahrim 66 : 6)
Sesungguhnya Allah ﷻ telah memberikan langkah-angkah mudah, namun penuh dengan tantangan bagaimana menuju masyarakat yang baik dan negeri yang penuh berkah.
Apabila masing-masing dari kita sebagai warga negara bisa menjaga diri dan keluarga dari perbuatan-perbuatan yang maksiat maka dengan sendirinya juga akan terbentuk baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Namun apabila masing-masing diri dan keluarga hidup bergelimang dosa-dosa dan kemaksiatan maka terbentuklah sebuah negeri yang kufur nikmat yang setiap saat mengundang azab-Nya.
Firman Allah ﷻ :
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (البقرة 74 )
Artinya : Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut pada Allah, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah 2:74)
Sesungguhnya banyak jalan dalam meraih keberkahan-Nya, karena itu, sudah sepantasnya kita banyak bersyukur melaksanakan perintah-Nya menjauhi segala larangan-Nya. Temukan keberkahan hidup dengan beriman dan bertakwa pada Allah ﷻ.
Nabi Muhammad SAW bersabda, jika para ulama dan umara (pemimpin) baik, maka seluruh manusia akan baik. Jika keduanya rusak, maka seluruh manusia akan rusak. Hadis ini menekankan pentingnya peran ulama dan pemimpin dalam membentuk akhlak dan kesejahteraan masyarakat.
Hadis ini, yang diriwayatkan dalam berbagai sumber seperti Ibnu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, menegaskan bahwa ulama (ahli agama) dan umara (pemimpin/penguasa) memiliki pengaruh besar terhadap kondisi masyarakat. Jika mereka menjaga akhlak yang baik, menjalankan tugas dengan amanah, dan mengedepankan keadilan, maka dampak positifnya akan terasa luas pada masyarakat. Sebaliknya, jika mereka lalai, buruk akhlaknya, dan tidak menjalankan tugas dengan baik, maka masyarakat akan merasakan dampak negatifnya.
Pewaris Nabi adalah Ulama dianggap sebagai pewaris para nabi dan penerus dakwah mereka.
Mereka memiliki peran penting dalam memberikan bimbingan, nasihat, dan peringatan kepada masyarakat, termasuk kepada para pemimpin.
Amar Makruf Nahi Mungkar adadal maqom penting , diantaranya bagi para Ulama. Ulama harus mendorong kebaikan dan mencegah keburukan, sehingga masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang lebih baik.
Amanah Allah: Umara adalah pemegang amanah dari Allah untuk mengurus kehidupan rakyat.mewujudkan
Keadilan dan Amanah: Mereka harus mengedepankan keadilan, amanah, dan takwa kepada Allah dalam menjalankan tugas.
Kesejahteraan Rakyat: Umara yang baik akan berusaha untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi rakyat.
Dengan demikian, hadis ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga akhlak baik dan menjalankan tugas dengan amanah, baik sebagai ulama maupun sebagai umara, demi kebaikan seluruh masyarakat. ***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
