26.7 C
Jakarta
Sabtu, April 25, 2026

Latest Posts

Literasi Digital Anak Dimulai dari Rumah, Ranty Rachmatilah: Orang Tua Harus Jadi Pendamping Sekaligus Teladan

Wartain.com || Teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak masa kini. Namun, di balik akses yang semakin luas terhadap informasi, tersimpan pula tantangan besar: bagaimana memastikan anak tetap tumbuh dengan karakter kuat dan nilai moral yang kokoh. Menjawab tantangan ini, Ketua TP PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, mengajak orang tua untuk menjadi pendamping digital utama bagi anak-anak mereka.

Hal itu disampaikannya dalam Seminar Parenting Digital yang berlangsung di Auditorium Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kamis (19/6/2025), sebagai bagian dari rangkaian Milad ke-108 ‘Aisyiyah. Kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur dari masyarakat, akademisi, dan pemerintah, sebagai bentuk kepedulian kolektif terhadap tantangan pengasuhan di era digital.

Menurut Ranty, literasi digital anak seharusnya tidak dibebankan sepenuhnya kepada sekolah atau perangkat teknologi itu sendiri. Justru, rumah dan keluarga menjadi benteng utama dalam membentuk pola pikir dan perilaku digital anak.

“Anak tidak dibentuk oleh algoritma media sosial, tapi oleh kehadiran orang tua yang konsisten memberi contoh. Literasi digital dimulai dari ruang tamu, dari obrolan harian, dan dari bagaimana kita memperlakukan gawai di depan mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa peran orang tua hari ini tidak cukup hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pendamping aktif yang memahami risiko dan manfaat dunia digital. Dalam paparannya, Ranty juga menyoroti pentingnya komunikasi emosional antara orang tua dan anak, serta perlunya membangun koneksi spiritual, bukan hanya koneksi internet.

“Golden time anak tidak bisa diulang. Maka kehadiran orang tua harus utuh—secara fisik, emosional, spiritual, dan digital,” tegasnya.

Ranty juga memaparkan pentingnya sinergi peran ibu dan ayah dalam pendidikan karakter anak. Ibu berperan dalam membentuk nilai empati dan kejujuran, sementara ayah menjadi figur keteladanan, kedisiplinan, dan perlindungan. Keduanya harus hadir untuk menanamkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan rasa hormat yang terus dibangun melalui kebiasaan harian.

“Karakter tidak terbentuk dari nasihat yang sesekali diucapkan, tetapi dari perilaku yang setiap hari ditunjukkan. Anak meniru lebih banyak daripada mendengar,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ranty juga menegaskan bahwa teknologi ibarat pisau bermata dua. Bisa jadi alat pembelajaran, tetapi juga bisa berdampak negatif jika tak diarahkan dengan bijak. Oleh karena itu, orang tua perlu membatasi waktu layar anak dengan aturan yang disepakati bersama, sekaligus menjadikan teknologi sebagai sarana edukatif, bukan sekadar hiburan.

Seminar ini turut dihadiri oleh tokoh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Dinas Pendidikan, DP2KBP3A, Diskominfo, MUI, RTIK, serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa penguatan peran keluarga dalam literasi digital bukan hanya tugas rumah tangga, tetapi juga tanggung jawab bersama.

Melalui forum ini, Pemerintah Kota Sukabumi menegaskan komitmennya untuk membangun generasi muda yang cakap digital namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur. Visi Kota Sukabumi sebagai kota IMAN (Inovatif, Mandiri, Agamis, Nasionalis) pun dijalankan salah satunya melalui penguatan keluarga sebagai pusat pendidikan karakter.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.