Wartain.com || Kontroversi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sukabumi kian mengemuka. Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghentikan sementara operasional dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni SPPG Cikole Cisarua 2 dan SPPG Citamiang Citamiang, setelah ditemukan sejumlah pelanggaran dalam penyajian makanan.
Kebijakan tersebut tertuang dalam dua surat resmi BGN, masing-masing bernomor 915/D.TWS/03/2026 tertanggal 13 Maret 2026 untuk SPPG Cikole Cisarua 2, serta 1025/D.TWS/03/2026 tertanggal 19 Maret 2026 untuk SPPG Citamiang Citamiang.
Dalam dokumen itu disebutkan bahwa kedua SPPG belum memenuhi standar tata kelola program MBG sesuai ketentuan yang berlaku.
Permasalahan di SPPG Cikole Cisarua 2 mencuat setelah ditemukannya menu ikan nila yang diduga belum matang sempurna dan berbau saat dibagikan kepada siswa.
Sementara itu, di SPPG Citamiang Citamiang, kualitas makanan juga menjadi sorotan karena ditemukan buah yang sudah tidak layak konsumsi hingga adanya bangkai hewan dalam paket makanan.
Ketua Satgas MBG Kota Sukabumi, Andri Setiawan, menegaskan bahwa langkah penghentian operasional ini diambil untuk menjaga kualitas gizi sekaligus menjamin keamanan pangan bagi para penerima manfaat.
“Penghentian ini merupakan langkah tegas untuk memastikan standar mutu tetap terjaga. Keputusan diambil berdasarkan laporan serta hasil evaluasi internal,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, penghentian berlaku sejak tanggal surat diterbitkan dan baru dapat dicabut apabila pihak SPPG melakukan pembenahan serta melengkapi bukti perbaikan yang akan diverifikasi oleh BGN.
Menurut Andri, kejadian ini menjadi peringatan bagi seluruh penyelenggara program MBG, termasuk mitra dan yayasan, agar lebih bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.
“Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar ke depan tidak terulang kembali,” katanya.
Pihaknya juga memastikan pengawasan terhadap program MBG akan diperketat. Langkah ini dilakukan agar kualitas makanan yang disalurkan kepada pelajar tetap sesuai standar gizi dan aman untuk dikonsumsi.
“Kami akan terus meningkatkan pengawasan. Program ini penting untuk mendukung terciptanya generasi sehat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
