Wartain.com – Sebanyak 433 siswa kelas XII SMAN 3 Kota Sukabumi mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Dalam pelaksanaannya, keterbatasan perangkat komputer menjadi perhatian pihak sekolah karena tidak seluruh peserta dapat menggunakan fasilitas yang tersedia.
Kepala SMAN 3 Kota Sukabumi, Dudung Nurullah Koswara, mengatakan pelaksanaan ujian dibagi menjadi dua gelombang, dengan masing-masing gelombang terdiri atas tiga sesi.
“Jumlah siswa alhamdulillah mengikuti TKA itu sebanyak 433, mereka ikut serta rencananya,” ujar Dudung.
Ia mengungkapkan, sekolah menyediakan 55 perangkat untuk menunjang ujian. Sementara itu, sejumlah siswa lainnya menggunakan laptop pribadi agar dapat mengikuti tes sesuai jadwal.
“Jadi sekolah hanya menyiapkan 55 perangkat yang tersedia,” katanya.
Menurut Dudung, kondisi tersebut mengharuskan sekolah mengatur penggunaan perangkat sekaligus mendata siswa yang memiliki laptop dan bersedia meminjamkannya kepada teman.
Ia berharap pemerintah dapat menambah fasilitas komputer, terutama untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu yang tidak memiliki perangkat sendiri.
“Kalau bisa pemerintah lebih menambah perangkat dan fasilitas sekolah, terutama anak-anak yang tidak mampu, anak yatim, anak tidak mampu berkebutuhan,” tuturnya.
Dudung menilai, ketersediaan perangkat yang memadai dapat membuat pelaksanaan ujian lebih efisien sehingga pembagian peserta ke dalam banyak sesi dan gelombang bisa dikurangi.
“Ketika perangkatnya memadai, kemungkinan kalau pemerintah sudah menyediakan untuk semua anak, mungkin lebih cepat dan tidak harus banyak sesi dan gelombang,” jelasnya.
Meski menghadapi keterbatasan fasilitas, pelaksanaan TKA di SMAN 3 Kota Sukabumi berlangsung lancar dan tertib.
Salah seorang siswa kelas XII, Oktarian, menilai laboratorium komputer di sekolah cukup menunjang. Namun, jumlah siswa dalam satu angkatan yang mencapai 12 kelas membuat sebagian peserta harus membawa laptop pribadi.
“Bagi perangkat yang ada di sekolah, sebenarnya perangkat yang ada di sekolah itu cukup memadai karena kita sudah punya beberapa lab komputer lebih dari satu itu untuk menunjang dalam TKA ini,” ujar Oktarian.
Ia mengaku tidak mengalami kendala teknis saat mengerjakan soal menggunakan laptop pribadi karena sudah terbiasa mengoperasikan perangkat tersebut.
“Alhamdulillahnya enggak ada, karena aku menguasai laptop aku itu bagaimana,” katanya.
Oktarian juga menyebut soal Bahasa Indonesia membutuhkan ketelitian, terutama dalam memahami informasi tersirat. Ia berharap hasil tes tersebut dapat mendukung peluangnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Secara nasional, TKA menjadi instrumen untuk mengukur capaian akademik siswa secara terstandar. Tes ini tidak wajib diikuti, tidak dipungut biaya, dan bukan penentu kelulusan. Hasilnya dapat digunakan sebagai validator nilai rapor dalam seleksi melalui jalur SNBP.
Pemerataan fasilitas pendidikan pun menjadi perhatian agar seluruh siswa memiliki kesempatan yang setara dalam mengikuti asesmen, tanpa terkendala kepemilikan perangkat pribadi.***(RAF)
Editor: Aab Abdul Malik
