26.7 C
Jakarta
Sabtu, April 25, 2026

Latest Posts

Abrasi Sungai Terjang Cidadap Sukabumi, Delapan Rumah Hanyut dan Ratusan KK Terpaksa Mengungsi

Wartain.com || Bencana abrasi sungai kembali menerjang kawasan selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Arus sungai yang semakin deras menggerus bantaran hingga menyebabkan sedikitnya delapan rumah warga hilang terseret aliran air. Dampaknya, sekitar 500 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi karena permukiman mereka berada dalam ancaman serius.

Kondisi abrasi yang kian parah membuat sejumlah kampung di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, berada di ambang hilang. Kampung Cisarua, Babakan, Sawah Tengah, hingga Cipanas menjadi wilayah paling terdampak. Bahkan, akses menuju desa tersebut sempat terputus akibat longsor yang menutup jalan utama.

Warga setempat menyebut, meski gejala abrasi sudah terasa sejak tahun lalu, kerusakan terparah terjadi dalam sebulan terakhir. Aliran sungai yang melebar perlahan mendekati permukiman dan mengikis tanah penyangga rumah-rumah warga.

Muhammad Rian Adriansyah (23), salah seorang warga terdampak, menuturkan bahwa derasnya arus sungai membuat tanah di sekitar rumah kehilangan kekuatan. Bangunan pun ambruk satu per satu sebelum akhirnya hanyut terbawa arus.

“Air makin deras, tanah terus terkikis. Setelah mulai ambruk, sekitar 10 menit kemudian rumah langsung hanyut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar rumah di kawasan tersebut kini rusak berat. Bagian dapur hingga struktur utama bangunan runtuh karena pondasi sudah tak lagi mampu menahan gerusan air.

Meski kejadian berlangsung mendadak, seluruh warga berhasil menyelamatkan diri berkat kewaspadaan dan gotong royong antarwarga. Bahkan, ada warga yang nyaris menjadi korban karena masih tertidur saat air mulai masuk ke rumah.

“Ada yang hampir hanyut karena masih tidur. Untung cepat dibangunkan warga lain,” kata Rian.

Menurutnya, sebelumnya jarak antara sungai dan permukiman mencapai lebih dari 200 meter, dipisahkan oleh area kebun dan sawah. Namun, abrasi membuat alur sungai semakin melebar hingga kini berada sangat dekat dengan rumah warga.

Rian mengaku rumahnya sudah tak dapat diselamatkan. Dapur lebih dulu roboh, disusul bagian bangunan lain yang kini hanya menunggu waktu untuk runtuh.

“Barang-barang masih bisa diselamatkan, tapi rumahnya sudah tidak mungkin. Sekarang kami mengungsi di sekolah dasar,” ucapnya.

Nasib serupa dialami Siti Nurlela (18), warga Kampung Babakan Cisarua. Rumahnya hanyut sepenuhnya saat banjir susulan menerjang kawasan tersebut.

“Rumah saya habis, cuma tersisa keramik. Tidak ada barang yang bisa diselamatkan,” katanya.

Saat kejadian, ibu Siti berada seorang diri di rumah. Ia harus memecahkan jendela untuk menyelamatkan diri ketika air sudah setinggi dada. Proses evakuasi dilakukan secara manual oleh warga pada malam hari dengan menyeberangi sungai, tanpa bantuan alat khusus.

Siti menambahkan, bencana serupa sebelumnya terjadi pada 6 Maret 2025 dan melanda Kampung Cisarua serta Babakan. Peristiwa tersebut bahkan menelan satu korban jiwa di Kampung Babakan.

Kini, banjir dan abrasi kembali terjadi dan meluas hingga Kampung Sawah Tengah. Longsor yang menutup akses jalan membuat warga sempat terisolasi selama dua hari.

“Yang tersisa cuma badan dan pakaian yang dipakai,” ujarnya lirih.

Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, menyampaikan bahwa pendataan jumlah warga terdampak masih terus dilakukan. Namun, estimasi sementara mencapai sekitar 500 KK.

“Yang terpenting saat ini seluruh pengungsi sudah tertangani, baik kebutuhan logistik, layanan kesehatan, maupun tempat tidur,” kata Andreas saat meninjau lokasi pengungsian.

Ia memastikan proses evakuasi telah rampung dan seluruh pengungsi dipusatkan di satu lokasi. Pemerintah daerah juga mencatat sejumlah kebutuhan mendesak, termasuk penyediaan pasokan listrik melalui genset.

Terkait solusi jangka panjang, Andreas menyebut opsi relokasi akan dibahas pada tahap pascabencana. Saat ini, pemerintah masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.

“Soal relokasi sudah disampaikan. Kita fokus dulu pada penanganan saat ini, nanti pasca bencana baru kita rumuskan langkah selanjutnya,” ujarnya.

Sementara itu, warga berharap pemerintah segera merealisasikan relokasi atau menyediakan hunian sementara yang aman. Mereka menilai kawasan permukiman saat ini sudah tidak layak huni.

“Bukan hanya kampung saya, ada lima kampung yang terdampak. Kami hanya ingin dipindahkan ke tempat yang aman,” tutup Rian.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.