Pemkab Sukabumi Mengucapkan Selamat HUT ke 112 Kota Sukabumi “01 April 2026”
Pemkab Sukabumi Mengucapkan Selamat HUT ke 112 Kota Sukabumi “01 April 2026”
Pemkab Sukabumi Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Yang Ke 55 Bapak Gubernur Jawa Barat “Kang Dedi Mulyadi”

Pemkab Sukabumi Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Yang Ke 55 Bapak Gubernur Jawa Barat “Kang Dedi Mulyadi”
Damkar Sukabumi Evakuasi Ular Sanca di Kandang Ayam Warga Palabuhanratu
Wartain.com || Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Sukabumi kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui kegiatan animal rescue atau operasi non kebakaran.
Kali ini, petugas berhasil mengevakuasi seekor ular sanca yang masuk ke kandang ayam milik warga di Kampung Jayanti RT 01/RW 04, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, pada Sabtu (18/4/2026).
Kejadian tersebut bermula dari laporan warga yang merasa khawatir dengan keberadaan ular berukuran cukup besar di sekitar kandang ternak mereka. Menanggapi laporan itu, tim Damkarmat Kabupaten Sukabumi segera bergerak cepat menuju lokasi untuk melakukan penanganan.
Dengan menggunakan peralatan khusus dan prosedur keselamatan, petugas berhasil mengevakuasi ular sanca tersebut tanpa menimbulkan korban, baik dari pihak warga maupun petugas. Proses evakuasi berlangsung lancar dan situasi di lokasi kembali aman serta kondusif.
Kegiatan animal rescue merupakan bagian dari pemenuhan pelayanan dasar kepada masyarakat, tidak hanya dalam penanganan kebakaran, tetapi juga penyelamatan satwa yang berpotensi membahayakan.
Petugas mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan hewan berbahaya di lingkungan sekitar, serta tidak mencoba menangani sendiri demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Dengan semangat “Damkar Melayani Sepenuh Hati”, seluruh jajaran Damkarmat Kabupaten Sukabumi terus menjaga dedikasi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas.
Motto “Yudha Brama Jaya” menjadi penyemangat bagi petugas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Intan)
Beasiswa Bupati Sukabumi Resmi Dibuka, Dorong Lahirnya Generasi Mandiri, Cerdas, dan Gemilang
Wartain.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi kembali membuka program Beasiswa Bupati Sukabumi sebagai upaya nyata dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Program ini ditujukan untuk mencetak generasi unggul yang tergabung dalam konsep “MENCRANG” (Mandiri, Cerdas, dan Gemilang).
Pembukaan beasiswa tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memberikan akses pendidikan yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya bagi para pelajar berprestasi dan memiliki potensi akademik yang baik.
Bupati Sukabumi, Asep Japar, menyampaikan bahwa program beasiswa ini diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mandiri dan berakhlak baik. Menurutnya, pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun daerah yang lebih maju dan berdaya saing.
Program beasiswa ini juga memberikan kesempatan beasiswa penuh hingga lulus bagi siswa yang memiliki hafalan Al-Qur’an minimal 25 juz. Hal ini menjadi bentuk apresiasi terhadap generasi muda yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga dalam nilai-nilai keagamaan.
Pelaksanaan program ini turut melibatkan Universitas Muhammadiyah Sukabumi sebagai mitra pendidikan, yang siap mendukung proses pembelajaran dan pengembangan potensi mahasiswa penerima beasiswa.
Masyarakat yang berminat dapat segera mendaftarkan diri melalui laman resmi penerimaan mahasiswa baru yang telah disediakan. Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengajak seluruh pelajar yang memenuhi kriteria untuk memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin.
Dengan dibukanya program ini, diharapkan semakin banyak generasi muda Sukabumi yang mampu meraih pendidikan tinggi dan berkontribusi dalam pembangunan daerah, sesuai dengan semangat MENCRANG yang diusung.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Intan)
Retaknya Sejarah, Terbelahnya Umat: Membaca Konflik Islam dari Khilafah hingga Fragmentasi Modern
Dari Perspektif Historis, Filosofis, dan Kesadaran Tauhid
Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Kegamaan
Retaknya Sejarah, Terbelahnya Umat
Wartain.com || Ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan dengan jujur oleh umat Islam hari ini: di mana sebenarnya awal retaknya persatuan itu? Kita sering melihat kenyataan—umat terpecah, saling curiga, bahkan dalam beberapa kondisi saling menegasikan—namun jarang berani menelusuri akar terdalamnya. Sebagian memilih diam karena takut membuka luka lama. Sebagian lain berbicara, tapi dengan emosi dan keberpihakan yang sudah terkunci sejak awal. Akibatnya, sejarah tidak lagi menjadi cermin, melainkan berubah menjadi alat pembenaran.
Padahal, kalau kita mau jujur, umat ini tidak runtuh dalam satu malam. Ia retak perlahan, dimulai dari titik yang sangat dekat dengan masa paling mulia: masa setelah wafatnya Nabi Muhammad. Di titik inilah paradoks besar itu dimulai—bagaimana mungkin umat yang dibimbing langsung oleh seorang nabi, yang dibentuk dengan tauhid paling murni, justru kemudian mengalami konflik yang begitu dalam?
Pertanyaan ini tidak untuk menyalahkan generasi awal. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kejujuran intelektual untuk memahami bahwa bahkan generasi terbaik pun tetap manusia—yang hidup dalam realitas, tekanan, dan kompleksitas. Dari sinilah kita belajar satu hal penting: kesucian ajaran tidak selalu identik dengan kesempurnaan praktik manusia.
Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan setelah Nabi berlanjut kepada para sahabat utama—Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Uthman ibn Affan, hingga Ali bin Abi Thalib. Masa ini sering disebut sebagai periode ideal, dan memang dalam banyak aspek ia mendekati cita-cita kepemimpinan Islam. Namun di balik itu, benih-benih ketegangan mulai muncul—perlahan, halus, dan sering kali tersembunyi di balik niat yang sama: menjaga agama.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam. Apakah konflik itu lahir karena hilangnya iman? Ataukah justru karena perbedaan cara memahami dan menjalankan iman dalam situasi yang berubah? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana kita membaca seluruh sejarah setelahnya.
Ketika konflik mulai terbuka—terutama pada masa Ali bin Abi Thalib—umat dihadapkan pada realitas yang belum pernah terjadi sebelumnya: perbedaan di antara orang-orang terbaik. Peristiwa seperti Battle of Siffin bukan hanya perang biasa, tetapi simbol dari benturan antara keadilan, kekuasaan, dan persepsi manusia. Dari titik ini, sejarah tidak lagi berjalan lurus, melainkan mulai bercabang.
Kemudian datang satu peristiwa yang mengguncang nurani umat hingga hari ini: Battle of Karbala. Di sana, Husayn ibn Ali berdiri dengan jumlah yang sangat kecil menghadapi kekuasaan besar di bawah Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini sering dipersempit menjadi konflik politik atau dijadikan simbol keberpihakan mazhab. Padahal, lebih dari itu, Karbala adalah cermin yang memperlihatkan satu hal mendasar: bahwa dalam sejarah manusia, kebenaran tidak selalu bersama mayoritas, dan kekuasaan tidak selalu berjalan seiring dengan nilai.
Namun, di sinilah letak bahaya terbesar dalam membaca sejarah. Ketika satu kelompok menjadikan tokoh tertentu sebagai simbol kebenaran mutlak, sementara kelompok lain mengambil posisi sebaliknya, maka sejarah berubah menjadi arena pertarungan identitas. Dari sinilah kemudian lahir pembelahan yang kita kenal sebagai Sunni dan Syiah. Awalnya, ia berakar pada persoalan politik dan legitimasi kepemimpinan. Tetapi seiring waktu, ia berkembang menjadi perbedaan teologis yang semakin dalam.
Artikel ini tidak ditulis untuk memperkuat sekat itu. Justru sebaliknya, buku ini berusaha menelusuri akar konflik tersebut dengan pendekatan yang lebih jernih: historis, filosofis, dan spiritual. Historis—agar kita memahami apa yang benar-benar terjadi, bukan sekadar narasi yang diwariskan. Filosofis—agar kita mampu melihat pola, bukan hanya peristiwa. Dan spiritual—agar kita tidak kehilangan ruh tauhid dalam membaca semua ini.
Karena pada akhirnya, masalah umat bukan sekadar siapa yang benar di masa lalu, tetapi bagaimana kita memahami kebenaran itu hari ini. Jika sejarah hanya dijadikan alat untuk menyalahkan, maka ia akan terus melahirkan perpecahan. Tetapi jika ia dibaca sebagai pelajaran, maka ia bisa menjadi jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi.
Kita juga harus berani melihat bahwa fragmentasi umat hari ini tidak hanya disebabkan oleh konflik masa lalu. Ia diperparah oleh realitas modern: kolonialisme, dominasi global, manipulasi informasi, dan elit-elit yang sering kali lebih dekat pada kepentingan kekuasaan daripada kepentingan umat. Luka lama bertemu tekanan baru, dan hasilnya adalah umat yang kehilangan arah.
Di titik ini, kita perlu kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah masalah utama umat adalah perbedaan mazhab, atau justru hilangnya kedalaman tauhid dalam diri? Apakah kita terpecah karena sejarah, atau karena kita tidak lagi memiliki kemampuan untuk membaca sejarah dengan jernih?
Artikel ini mengajak pembaca untuk keluar dari jebakan tersebut. Tidak untuk menjadi hakim atas masa lalu, tetapi untuk menjadi pembelajar yang jujur. Tidak untuk memilih satu kubu dan menolak yang lain, tetapi untuk memahami mengapa perbedaan itu terjadi, dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya hari ini.
Karena jika tidak, kita akan terus mengulang pola yang sama: menghidupkan konflik lama dalam wajah baru, memperdebatkan tokoh masa lalu tanpa memperbaiki diri di masa kini, dan berharap perubahan besar tanpa membangun fondasi yang benar.
Sejarah telah berbicara. Pertanyaannya sekarang:
apakah kita mau mendengarnya dengan hati yang jernih,
atau tetap terjebak dalam gema suara kita sendiri?
Di sinilah perjalanan artikel ini dimulai.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
Innalillahi, Zulmansyah Sekedang Tutup Usia, Dikenang Pejuang Profesionalisme Wartawan
Wartain.com || Kabar duka menyelimuti dunia pers Indonesia. Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang (54), mengembuskan napas terakhir pada Sabtu dini hari pukul 00.10 WIB di Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Almarhum wafat akibat serangan jantung.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan keterangan Wakil Bendahara Umum PWI Pusat, Sumber Rajasa Ginting, almarhum sempat menghadiri acara Deklarasi Peluncuran Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) pada Jumat malam di Kampus LSPR, Jakarta.
Setelah kegiatan tersebut, Zulmansyah bersama sejumlah pengurus PWI lainnya melanjutkan makan malam di kawasan Jalan Jaksa, Jakarta Pusat.
Sekitar pukul 21.00 WIB, ia tiba-tiba mengalami anfal dengan keluhan sesak dada hebat, lemas, hingga muntah-muntah. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Berdasarkan diagnosis dokter, almarhum mengalami serangan jantung, sejalan dengan riwayat penyakit jantung yang dimilikinya.
Pihak rumah sakit sempat merekomendasikan rujukan ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita untuk penanganan lanjutan. Namun, di tengah upaya medis tersebut, almarhum dinyatakan meninggal dunia pada pukul 00.10 WIB.
Sosok Aktivis Organisasi yang Tangguh
Kepergian Zulmansyah Sekedang merupakan kehilangan besar bagi PWI dan komunitas pers nasional. Almarhum dikenal sebagai pribadi yang ramah, riang, serta memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia jurnalistik dan organisasi.
Rekam jejak pengabdiannya di PWI terbilang panjang dan signifikan, antara lain:
Ketua PWI Provinsi Riau selama dua periode (2017–2022 dan 2022–2027)
Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat hasil Kongres ke-24 di Bandung tahun 2023
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PWI Pusat dalam masa transisi organisasi
Ketua Umum PWI Pusat hasil Kongres Luar Biasa (KLB)
Sekretaris Jenderal PWI Pusat hasil Kongres Persatuan pada 29–30 Agustus 2025 di Cikarang, Jawa Barat
Dalam perjalanan organisasi, almarhum dikenal sebagai figur pemersatu yang berperan penting dalam mengakhiri dualisme kepengurusan PWI Pusat melalui Kongres Persatuan.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menyampaikan duka mendalam atas kepergian sahabatnya itu.
“Kami kehilangan salah satu kader terbaik yang selalu total dalam bekerja untuk organisasi. Semangat dan dedikasi beliau akan selalu kami kenang,” ujarnya, Sabtu (18/04).
Keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia memohon doa dari seluruh pengurus dan anggota, insan pers, serta masyarakat luas.***
Editor : Aab Abdul Malik
(SRM)
Kabar Duka, Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
Wartain.com || Berita duka, Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang meninggal dunia pada Sabtu dini hari, (18/4/2026).
Zulmansyah Sekedang mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 00.05 WIB di RS Budi Kemuliaan, Jakarta.
Berdasarkan informasi yang beredar di internal PWI, Zulmansyah wafat akibat serangan jantung setelah sempat mendapatkan penanganan medis.
“Innalillahi wainailaihi rojiun. Kami semua sahabatmu menyayangimu, tetapi Allah SWT lebih mencintaimu. Selamat jalan saudaraku. Kami bersaksi engkau orang baik,” kata salah seorang pengurus PWI Kabupaten Sukabumi.
Kepergian Zulmansyah Sekedang bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia pers nasional. Sosoknya dikenang sebagai wartawan senior yang konsisten memperjuangkan profesionalisme dan solidaritas jurnalis di Indonesia.
Semasa menjabat, almarhum aktif mendorong peningkatan kompetensi wartawan dan menjaga marwah organisasi di tengah tantangan industri media. Rekan sejawat mengenang Zulmansyah sebagai pribadi yang tegas, ramah, dan selalu terbuka untuk berdiskusi.
Selamat jalan, Zulmansyah Sekedang. Dedikasi dan pengabdianmu untuk pers Indonesia akan selalu dikenang.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
Laskar Sape Kerrab Bungkam Bonek, Persebaya Telan Kekalahan Beruntun
Wartain.com || Persebaya Surabaya kembali gagal mengamankan poin setelah dipaksa menyerah dengan skor tipis 1-2 oleh Madura United dalam laga lanjutan BRI Super League yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Jumat (17/4/2026) malam. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi tim berjuluk Bajul Ijo yang sebelumnya juga menelan kekalahan telak 3-0 dari Persija Jakarta.
Pertandingan dimulai dengan intensitas tinggi, namun tim tamu justru mengejutkan publik Surabaya pada menit ke-11. Lulinha berhasil membuka keunggulan bagi Madura United melalui sebuah tembakan “roket” dari luar kotak penalti yang gagal dihalau kiper Persebaya. Gol cepat ini mengubah alur permainan, memaksa tuan rumah untuk keluar menyerang lebih masif demi mengejar ketertinggalan.
Meski sempat tertekan, Persebaya menunjukkan semangat pantang menyerah untuk menyamakan kedudukan. Melalui skema kerja sama tim yang apik dan operan satu-dua yang rapi, Riyan Ardiansyah akhirnya sukses memecah kebuntuan pada menit ke-82. Gol tersebut sempat membangkitkan asa para Bonek yang memadati stadion, seiring dengan dominasi penguasaan bola Persebaya yang mencapai 71 persen sepanjang laga.
Sayangnya, kegembiraan tuan rumah hanya bertahan singkat. Madura United yang bermain sangat efektif kembali unggul melalui skema serangan balik. Riquelme menjadi aktor antagonis bagi publik GBT setelah dengan tenang melepaskan tembakan di dalam kotak penalti pada menit ke-63 (berdasarkan catatan waktu resmi), memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan Persebaya yang asyik menyerang.
Berdasarkan statistik akhir, Persebaya sebenarnya tampil sangat dominan dengan melepaskan 23 tembakan dan melakukan 60 sentuhan di kotak penalti lawan. Namun, rapatnya barisan pertahanan Madura United yang mencatatkan 35 sapuan (clearances) membuat serangan bertubi-tubi dari Bruno Moreira dan kawan-kawan selalu menemui jalan buntu. Skor 1-2 pun bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Kekalahan ini membuat posisi Persebaya semakin sulit di papan klasemen sementara. Pelatih Persebaya dituntut segera melakukan evaluasi besar-besaran, mengingat timnya tampil dominan secara statistik namun lemah dalam penyelesaian akhir dan koordinasi pertahanan. Sementara itu, bagi Madura United, kemenangan ini menjadi modal berharga berkat strategi serangan balik mematikan yang mereka terapkan dengan sempurna.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Yosep)
Kepala UPTD P3DW Cibadak Pastikan Pelayanan Samsat Transparan dan Mudah Diakses Masyarakat
Wartain.com || Kepala UPTD Pusat Pengelolaan Pendapatan Daerah Wilayah (P3DW) Kabupaten Sukabumi I Cibadak, Rendy Supriyatna, memastikan pelayanan di Samsat Cibadak terus ditingkatkan guna memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat, khususnya dalam mengurus perpanjangan STNK.
Hal tersebut disampaikan Rendy saat mendampingi Bupati Sukabumi H. Asep Japar dan Wakil Bupati H. Andreas dalam peninjauan langsung pelayanan Samsat Cibadak, Jumat (17/04/2026).
Menurut Rendy, pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan yang transparan, cepat, dan bebas dari praktik yang merugikan masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menghadirkan sistem pelayanan yang lebih fleksibel, termasuk implementasi kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait perpanjangan STNK tanpa KTP pemilik lama.
“Kami pastikan pelayanan di Samsat Cibadak berjalan secara transparan. Bahkan saat ini pojok pengaduan relatif sepi karena masyarakat sudah merasa terlayani dengan baik dan maksimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak kendaraan. Hal ini juga berimbas pada meningkatnya capaian pendapatan pajak kendaraan di wilayah Sukabumi.
“Berkat fleksibilitas kebijakan ini, terjadi peningkatan pendapatan pajak kendaraan tahunan. Ini tentu akan berdampak pada peningkatan dana bagi hasil yang nantinya dapat digunakan untuk mendukung pembangunan di Kabupaten Sukabumi,” jelasnya.
Selain itu, Rendy juga menegaskan komitmennya dalam menjaga integritas seluruh aparatur di lingkungan Samsat Cibadak. Ia menyatakan tidak akan segan memberikan sanksi tegas kepada petugas yang terbukti melanggar aturan.
“Kami terus mengingatkan seluruh petugas untuk bekerja sesuai aturan dan menjaga integritas. Jika ada yang melanggar, tentu akan kami tindak tegas,” tegasnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, pihaknya berharap kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik, khususnya di Samsat Cibadak, semakin meningkat serta mampu mendorong kepatuhan wajib pajak kendaraan di Kabupaten Sukabumi.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Intan)
Comeback Manis di Lampung: Bhayangkara Lampung FC Tekuk PSIM Yogyakarta 2-1
Wartain.com || Pertandingan sengit tersaji dalam lanjutan kompetisi BRI Super League saat Bhayangkara Lampung FC menjamu PSIM Yogyakarta pada Jumat (17/4/2026). Bermain di hadapan pendukung sendiri di Stadion Sumpah Pemuda, tim tuan rumah berhasil mengamankan poin penuh setelah melalui drama comeback yang berakhir dengan skor 2-1. Kemenangan ini menjadi bukti ketangguhan mental skuad tuan rumah dalam membalikkan keadaan meski sempat tertinggal lebih dulu.
Laga dimulai dengan kejutan bagi pendukung tuan rumah ketika PSIM Yogyakarta berhasil unggul cepat pada menit ke-8. Melalui skema serangan yang terencana, Savio Sheva sukses merobek jala gawang lawan. Gol pembuka tersebut tercipta melalui tembakan terukur yang memanfaatkan celah di lini pertahanan Bhayangkara Lampung FC, memaksa tuan rumah bekerja ekstra keras sejak awal babak pertama.
Memasuki babak kedua, Bhayangkara Lampung FC meningkatkan intensitas serangan dan membuahkan hasil pada menit ke-48. Sadiki menjadi aktor utama yang menyamakan kedudukan lewat penyelesaian akhir yang cerdik. Ia melepaskan sebuah sundulan yang sebenarnya tidak terlalu kencang, namun arah bola yang sangat akurat ke sudut sulit gagal diantisipasi oleh penjaga gawang PSIM. Skor imbang 1-1 ini menjadi titik balik kebangkitan tuan rumah.
Momentum kemenangan akhirnya dikunci oleh Bhayangkara Lampung FC pada menit ke-55. Berawal dari visi bermain yang api, umpan silang matang ke jantung pertahanan lawan. Umpan presisi tersebut disambut sidibe dengan sebuah sundulan bertenaga yang menggetarkan gawang Laskar Mataram untuk kedua kalinya. Gol ini sekaligus memastikan keunggulan 2-1 bagi tim berjuluk The Guardian tersebut.
Secara statistik, PSIM Yogyakarta sebenarnya menguasai jalannya pertandingan dengan ball possession mencapai 62% dan akurasi operan 87%. Namun, efektivitas serangan menjadi milik tuan rumah. Bhayangkara Lampung FC mampu mencatatkan 9 tembakan tepat sasaran dari 13 percobaan, serta menunjukkan pertahanan yang sangat solid dengan melakukan 22 kali sapuan (clearances) sepanjang 90 menit laga berjalan.
Kemenangan comeback ini membawa kebahagiaan bagi publik sepak bola Lampung yang memadati stadion. Tambahan tiga poin ini sangat krusial bagi posisi Bhayangkara Lampung FC di klasemen, sementara PSIM Yogyakarta harus pulang dengan tangan hampa meski mendominasi statistik permainan. Laga ini membuktikan bahwa penguasaan bola yang dominan tidak menjamin kemenangan tanpa penyelesaian akhir yang klinis.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Yosep)











