26.7 C
Jakarta
Sabtu, Juli 11, 2026
Beranda blog Halaman 276

Koordinasi MBG Ramadhan 2026, SPPG Ciemas 02 Tekankan Maksimalkan Layanan

0

Wartain.com || Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki skema khusus selama bulan Ramadan 1447 H/2026 M. Dalam rapat koordinasi yang digelar Jumat, 13 Februari 2026, jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan sejumlah poin penting terkait distribusi, pengawasan, hingga tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menekankan bahwa distribusi penerima manfaat kategori 3B harus mulai diprioritaskan. Selain itu, ia menyoroti masih adanya permasalahan dan perilaku kurang baik dari sejumlah Kepala SPPG yang perlu segera dibenahi.

“Ka SPPG harus mampu mengatur manajemen SPPG dengan baik mencakup semua lini. Jika ada mitra yang melakukan mark up harga, Ka SPPG dapat menegur langsung. Bila tidak ada perubahan, segera buat laporan disertai data yang valid,” tegasnya.

Direktur Manajemen Risiko (Dir Manrisk) BGN menyampaikan bahwa distribusi MBG selama Ramadan merujuk pada Surat Edaran (SE) Nomor 3 Tahun 2026. Pendistribusian MBG Ramadan akan dimulai pada 23 Februari 2026.

Adapun pada tanggal 16–21 Februari 2026 tidak dilakukan pendistribusian reguler, karena dimanfaatkan untuk peningkatan fasilitas dapur serta pemeliharaan kebersihan SPPG. Namun demikian, MBG tetap diberikan kepada:

Seluruh penerima manfaat di daerah mayoritas masyarakat tidak berpuasa, baik kategori 3B maupun peserta didik, dengan waktu pengiriman normal. Bagi peserta didik yang berpuasa, diberikan dalam bentuk kemasan sehat.

Para santri yang tinggal di pondok pesantren dan siswa boarding school di daerah mayoritas berpuasa. Distribusi dilakukan sore hari menjelang berbuka, dengan proses memasak pada siang hari.

Dir Manrisk juga menegaskan bahwa makanan selama Ramadan harus berasal dari masakan dapur maupun UMKM, serta tidak disarankan menggunakan kemasan ultra processed food (UPF). Untuk menu kering, SPPG diwajibkan menyiapkan dua totebag dengan warna berbeda. Sementara itu, paket bundling di bulan Ramadan dibatasi maksimal tiga hari.

Dari Biro Umum dan Keuangan, setiap SPPG diminta segera melakukan approval transaksi pada virtual account (VA) serta melaporkan saldo harian VA secara rutin kepada SMO.

Sementara itu, pada jalur II, rapid test kit dan parameter pendukung lainnya akan dibagikan secara bertahap kepada SPPG. Pelatihan Training of Trainers (ToT) dari Dinas Kesehatan Provinsi dijadwalkan berlangsung secara daring pada 18 Februari, dilanjutkan pelatihan bagi PLO Gizi pada 19 Februari. Ke depan, tenaga kesehatan dari Puskesmas akan ditugaskan memberikan pelatihan rutin kepada PLO Gizi di setiap SPPG.

Seluruh detail teknis pelaksanaan MBG Ramadan diminta untuk dipahami melalui SE Nomor 3 Tahun 2026 dan materi paparan yang telah dibagikan kepada seluruh pengelola.

Menanggapi arahan tersebut, Rizal selaku PIC Dapur SPPG Ciemas 02 menyatakan kesiapan penuh dalam menjalankan seluruh instruksi BGN.

“Kami selaku pengelola mitra SPPG Ciemas 02 sangat menerima instruksi dan arahan terkait pelaksanaan MBG di bulan suci Ramadan. Setelah mengikuti zoom meeting bersama BGN, kami memahami aturan yang telah diedarkan dan siap melaksanakannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah melakukan persiapan mulai dari penataan manajemen hingga peningkatan kebersihan dan kelayakan dapur. Pembersihan rutin dilakukan guna memastikan standar higienitas terpenuhi. Selain itu, menu untuk penyaluran selama Ramadan juga telah dipersiapkan sesuai ketentuan.

Dengan penguatan manajemen, pengawasan, serta kepatuhan terhadap regulasi, BGN berharap pelaksanaan Program MBG selama Ramadan tetap berjalan optimal, tepat sasaran, dan menjaga kualitas gizi bagi seluruh penerima manfaat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Normalisasi Standar Rendah dan Kekeliruan Makna “Bersyukur” dalam MBG

0

Oleh: Anisa Aulia/ Aktivis HMI sekaligus Guru Honorer

Wartain.com || Perdebatan mengenai implementasi program MBG belakangan ini memunculkan satu pola narasi yang patut dicermati: setiap kritik terhadap kualitas pelaksanaan kerap dijawab dengan ungkapan, “bersyukur saja” atau “dikasih salah, tidak dikasih juga salah.” Ungkapan tersebut terdengar sederhana, tetapi dalam konteks kebijakan publik, ia menyimpan persoalan yang lebih mendasar.

Dalam tata kelola pemerintahan yang demokratis, rasa syukur tidak dapat dijadikan pengganti evaluasi. Kebijakan publik—terlebih yang menyangkut kebutuhan dasar dan masa depan generasi—harus tunduk pada standar, pengawasan, dan perbaikan berkelanjutan. Kritik terhadap implementasi bukanlah bentuk penolakan terhadap tujuan program, melainkan bagian dari mekanisme kontrol sosial agar kebijakan berjalan sesuai mandatnya.

Retorika “dikasih salah, tidak dikasih juga salah” cenderung menyederhanakan persoalan. Kritik yang disampaikan masyarakat, pendidik, maupun aktivis pada dasarnya berfokus pada kualitas pelaksanaan: apakah standar gizi terpenuhi, apakah distribusi tepat sasaran, dan apakah pengawasan berjalan optimal. Menyamaratakan kritik dengan ketidakpuasan semata justru berpotensi mengaburkan substansi yang perlu dibenahi.

Dalam perspektif pendidikan, kualitas asupan gizi bukan sekadar urusan konsumsi, melainkan fondasi tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak. Jika implementasi di lapangan tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi program, tetapi juga kualitas generasi. Negara tentu tidak sedang membagikan hadiah, melainkan menjalankan tanggung jawab konstitusional untuk melindungi dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lebih jauh, narasi “bersyukur” sering kali diarahkan kepada penerima manfaat dan para pengkritik, bukan kepada perancang maupun pelaksana kebijakan. Padahal dalam prinsip akuntabilitas publik, pihak yang memegang kewenanganlah yang berkewajiban memastikan mutu dan efektivitas program. Rakyat berhak menyampaikan pertanyaan dan masukan; pemerintah berkewajiban memberikan penjelasan serta perbaikan jika ditemukan kekurangan.

Sebagai aktivis dan pendidik, saya memandang kritik sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual. Pendidikan tidak hanya membentuk kepatuhan, tetapi juga daya nalar. Aktivisme pun bukan sikap anti-negara, melainkan wujud kepedulian agar negara bekerja lebih baik dan lebih tepat sasaran.

Menegaskan bahwa MBG harus sesuai standar gizi bukan berarti menolak program tersebut. Sebaliknya, itu adalah bentuk dukungan agar tujuan mulianya tercapai secara optimal. Kritik yang disampaikan secara argumentatif, berbasis fakta, dan dengan itikad baik seharusnya dipandang sebagai energi korektif, bukan ancaman.

Negara yang sehat membutuhkan warga yang kritis dan pemerintah yang terbuka terhadap evaluasi. Dalam ruang demokrasi, kritik yang lahir dari kepedulian bukanlah gangguan—ia adalah penyangga nurani kebijakan agar tetap berpihak pada kepentingan publik.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Imlek Semarak dan Sarat Makna, Sukabumi Teguhkan Predikat Kota Paling Toleran di Jawa Barat

0

Wartain.com || Kota Sukabumi kembali menegaskan reputasinya sebagai kota dengan tingkat toleransi tertinggi di Jawa Barat lewat perayaan Tahun Baru Imlek yang berlangsung semarak sekaligus sarat makna. Pergantian tahun dalam kalender Tionghoa itu dipusatkan di kawasan vihara dan dipadati ratusan warga, baik masyarakat lokal maupun pendatang dari luar daerah.

Sejak sore hari, suasana sudah terasa berbeda. Lampion menghiasi sudut-sudut area perayaan, sementara dentuman tambur dan gemerincing simbal mengiringi atraksi barongsai yang memukau penonton. Tak sedikit pengunjung yang mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka.

Kemeriahan Imlek tahun ini dinilai memiliki daya tarik khas. David dan Yeni, wisatawan asal Bandung, mengaku sengaja datang untuk merasakan atmosfer perayaan di Sukabumi. Mereka menilai ada nuansa berbeda yang sulit ditemukan di kota lain.

“Luar biasa meriah, berbeda juga dengan kota-kota lain. Mereka punya ciri khas juga, terutama tadi ada penampilan barongsai yang berbeda dari kota lain,” ujar David dan Yeni.

Apresiasi serupa disampaikan Budianto Saripudin, warga asal Tangerang yang memiliki kedekatan emosional dengan Sukabumi karena masa kecilnya dihabiskan di kota ini. Ia menilai kualitas perayaan Imlek di Sukabumi tetap konsisten dari tahun ke tahun, baik dari sisi penyelenggaraan maupun antusiasme masyarakat.

Bagi komunitas Tionghoa, Imlek bukan sekadar pesta budaya, melainkan momen untuk menata harapan dan memperkuat doa. Budianto menyampaikan harapannya yang sederhana namun penuh makna.

“Harapan lebih untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang tersayang, semoga semuanya dikasih kesehatan, kesejahteraan, rezeki yang melimpah, kemudian juga karirnya yang semakin meningkat,” tutur Budianto.

Ia juga menyampaikan doa untuk Indonesia secara keseluruhan. “Kita mengharapkan kesehatan untuk semuanya. Kesejahteraan untuk negara kita sendiri, rakyatnya, pemimpinnya semua bisa adil, bijaksana, dan makmur di segala bidang tentunya,” imbuhnya.

Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menyebut keberhasilan penyelenggaraan Imlek menjadi cerminan kuatnya kerukunan antarumat beragama di daerahnya. Ia menegaskan bahwa Sukabumi kini menempati posisi pertama sebagai kota paling toleran di Jawa Barat dan peringkat keenam secara nasional.

“Yang pertama, Sukabumi sudah tercatat sebagai kota toleransi. Terbaik nomor satu di Jawa Barat dan nomor enam se-Indonesia, ini harus dipertahankan. Artinya kerukunan umat beragama di Kota Sukabumi sudah sesuai dengan harapan dan tinggal kita tingkatkan ke level nasional,” tegas Ayep Zaki.

Menurutnya, harmoni sosial adalah fondasi penting dalam membangun kekuatan ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Di sisi lain, aparat keamanan turut memastikan perayaan berjalan aman dan tertib. Polres Sukabumi Kota menurunkan personel di sejumlah titik strategis untuk mengantisipasi potensi gangguan.

Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Sentot Kunto Wibowo, memastikan situasi tetap kondusif sepanjang rangkaian acara.

“Kami semua aparat penegak hukum mendukung perayaan Imlek ini dan kami selalu menjaga ketertiban wilayah hukum Sukabumi Kota. Sehingga tercipta situasi kamtibmas yang aman terkendali. Siapapun agamanya, kita tetap rukun,” jelas AKBP Sentot.

Pengaturan arus lalu lintas pun dilakukan dengan mengacu pada standar operasional prosedur yang berlaku. Langkah tersebut diambil agar mobilitas masyarakat tetap lancar dan perayaan dapat dinikmati tanpa hambatan.

Perayaan Imlek di Sukabumi bukan sekadar agenda tahunan, melainkan penegasan bahwa keberagaman dapat tumbuh berdampingan dalam suasana saling menghormati. Di kota ini, toleransi tidak hanya menjadi slogan, tetapi nyata terasa di setiap perayaan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

PW Himi Persis Jawa Barat Tegaskan Peran Strategis Organisasi dalam Musda X Tasikmalaya Raya

0
Oplus_131072

Wartain.com || Pimpinan Wilayah Himi Persis Jawa Barat menegaskan arah dan peran strategis organisasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) X Himi Persis Tasikmalaya Raya yang digelar Senin, 16 Februari 2026, di Bale Morosono, Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya.

Ketua PW Himi Persis Jawa Barat, Siti Ressa Muthohharoh, dalam sambutannya menekankan bahwa Himi Persis memiliki posisi penting dalam lanskap gerakan kader Persatuan Islam, baik secara ideologis maupun sosial. Ia memaparkan empat peran strategis Himi Persis yang harus terus diperkuat.

Pertama, Himi Persis sebagai kader muda Persatuan Islam yang menjadi estafet perjuangan nilai, pemikiran, dan manhaj organisasi. Mahasiswa Persis, menurutnya, harus tampil sebagai representasi intelektual yang berintegritas dan berakar pada tradisi keilmuan.

Kedua, sebagai organisasi kemahasiswaan, Himi Persis memiliki tanggung jawab menjadi penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Fungsi advokasi, kontrol sosial, serta partisipasi dalam pembangunan daerah harus dijalankan secara konstruktif dan solutif.

Ketiga, Himi Persis sebagai organisasi keperempuanan yang memperkuat kepemimpinan perempuan muda Islam di ruang publik. PW Himi Persis Jawa Barat, tegasnya, berkomitmen mendorong kader-kader perempuan agar tampil percaya diri, kompeten, dan berdaya saing.

Keempat, Himi Persis sebagai organisasi perkaderan yang sistematis dan berkelanjutan. Proses kaderisasi tidak boleh berhenti pada formalitas kegiatan, melainkan harus membentuk karakter, kapasitas intelektual, dan sensitivitas sosial kader.

Dalam kesempatan tersebut, Siti Ressa Muthohharoh juga menyampaikan apresiasi dan rasa haru atas soliditas keluarga besar Persis Tasikmalaya Raya. Ia menilai dukungan penuh dari unsur otonom dan badan khusus Persis terhadap agenda kader muda menjadi kekuatan utama dalam membangun gerakan yang kokoh dan berkelanjutan.

PW Himi Persis Jawa Barat berharap Musda X Tasikmalaya Raya menjadi momentum konsolidasi ideologis dan organisatoris, sekaligus memperkuat posisi Himi Persis sebagai gerakan mahasiswa Islam yang inklusif, konkret, dan visioner di Jawa Barat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Gie Say, Jejak Lama yang Tetap Hidup di Malam Imlek Sukabumi

0

Wartain.com || Malam menjelang Imlek di Sukabumi selalu menghadirkan suasana yang khas. Dentum tambur bersahutan, aroma dupa menguar dari pelataran vihara, dan barongsai bersiap menyambut pergantian tahun. Di antara barongsai modern yang ringan dan atraktif, Barongsai Gie Say tampil berbeda—lebih berat, lebih sederhana, namun menyimpan sejarah panjang.

Bagi Persaudaraan Gie Say Sukabumi, barongsai bukan sekadar hiburan tahunan. Ia tumbuh dari tradisi perguruan dan latihan fisik yang mengakar kuat di komunitas.

Sesepuh Persaudaraan Gie Say Sukabumi, Wan Gus Halim, menuturkan bahwa barongsai di komunitasnya berawal dari perguruan silat.

“Kalau zaman dahulu itu dimulai dari perguruan silat. Mereka menggunakan barongsai untuk permainan otot. Gie Say itu akulturasi antara China dan Indonesia,” ujarnya.

Dari sana, Gie Say berkembang dengan identitasnya sendiri. Ia tidak sepenuhnya mengikuti bentuk baku dari Tiongkok, melainkan lahir dari tafsir lokal masyarakat Sukabumi.

Wan Gus Halim menegaskan keunikan tersebut terlihat dari bentuk fisiknya. “Karena ini dibuat di Sukabumi dengan bentuk begini saya cari ke pusatnya nggak ada satu pun mirip. Kita ambil lambang dari abu dupa, pinggirnya ada gambar singa. Orang tua kita dulu,” katanya.

Detail abu dupa dan ornamen singa menjadi penanda khas yang membedakan Gie Say dari barongsai modern yang banyak beredar saat ini.

Persaudaraan Gie Say disebut telah berdiri sebelum tahun 1952. Pada masa awal, barongsai yang dimainkan masih berbentuk asli dari China. Perubahan terjadi ketika generasi lama mulai menciptakan bentuk baru yang khas.

“Berdirinya sebelum tahun 1952 cuman pada saat itu barongsai bukan seperti ini tapi barongsai asli dari China. Setelah dibuat, kita generasi penerus tidak menemukan jejak yg pasti tahun berapa, kita ambil acuan dari pembuatan barong Gie Say. Dia mengatakan dibuat tahun 1952,” ungkapnya.

Tahun 1952 pun dijadikan tonggak lahirnya bentuk barongsai khas Gie Say yang dikenal hingga kini.

Perbedaan paling mencolok terletak pada bobotnya. Jika barongsai modern umumnya berbobot 3 hingga 5 kilogram, Gie Say bisa mencapai 12 sampai 15 kilogram.

“Pada dasarnya semua hampir sama, cuma kita polos. Karena berat jadi tidak bisa selincah yang lain. Yang lain 3-5 kg, Gie Say ini 12-15 kg,” jelas Wan Gus Halim.

Namun bobot tersebut justru menjadi bagian dari filosofi awalnya. “Menurut cerita orang tua dulu itu sengaja dibuat untuk melatih otot. Yang mendirikan itu Tung Gi Ken,” katanya.

Nama Tung Gi Ken dikenang sebagai sosok yang merintis dan mengembangkan tradisi barongsai Gie Say di Sukabumi.
Seiring waktu, barongsai berkembang menjadi cabang olahraga prestasi.

“Sekarang barongsai sudah berkembang. Ada yang tradisi dan prestasi. Kalau prestasi di bawah KONI, masuk ke cabor dan telah dipertandingkan di Aceh,” ujarnya.

Perkembangan itu juga membawa penyesuaian ukuran. “Akibat dari perkembangan ya itu agak sedikit kecil, dibuat lagi tahun 1957,” tuturnya. Meski demikian, ciri khas Gie Say tetap dipertahankan.

Perayaan Imlek di Sukabumi sendiri terpusat di Vihara Widhi Sakti. Di sana, rangkaian acara digelar sejak malam pergantian tahun.

Staf pengurus vihara, Dani Tirta, menjelaskan susunan kegiatan yang telah disiapkan. “Untuk sesi malam ini akan dibagi menjadi 3 sesi, untuk dari jam 8 sampai jam 10 kita akan melakukan atraksi barongsai penghormatan dari Persaudaraan Gie Say terhadap Yang Mulia Kongco Han Tan Kong, lalu dilanjutkan dengan ibadah bersama, lalu jam 12 sampai jam 1 kita ada penyalaan lilin,” ujarnya.

Atraksi barongsai menjadi simbol penghormatan sekaligus pembuka ibadah. Setelah doa bersama, penyalaan lilin tepat tengah malam menjadi penanda harapan menyongsong tahun baru.

Di tengah modernisasi barongsai yang semakin kompetitif dan atraktif, Gie Say tetap bertahan dengan bentuknya yang khas. Ia mungkin tak melompat tinggi di atas tonggak seperti barongsai lomba, tetapi setiap geraknya membawa jejak sejarah, latihan ketahanan, dan identitas lokal yang diwariskan lintas generasi.
Barongsai itu mungkin tak ditemukan di China.

Namun di Sukabumi, ia tumbuh, hidup, dan menemukan rumahnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Evaluasi Satu Tahun Pemerintahan Kabupaten Sukabumi: Antara Luas Wilayah dan Keterbatasan Daya Kelola

0
Oplus_131072

Oleh : Mantra Sugrito – Wakil Ketua OKK DPD KNPI Kabupaten Sukabumi

Wartain.com || Satu tahun pemerintahan daerah adalah waktu yang cukup untuk membaca arah, meski belum cukup untuk menghakimi hasil. Di Kabupaten Sukabumi, tantangan terbesar bukan semata pada siapa yang memimpin, melainkan pada struktur persoalan yang diwariskan: wilayah yang sangat luas, kapasitas fiskal terbatas, dan birokrasi yang belum sepenuhnya adaptif.

Sebagai salah satu kabupaten terluas di Pulau Jawa dengan pusat pemerintahan di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi menghadapi persoalan klasik: jarak geografis yang berdampak langsung pada kualitas pelayanan publik. Warga di wilayah utara seperti Cicurug dan Cibadak harus menempuh perjalanan jauh untuk mengakses layanan administratif. Ketika akses jalan belum sepenuhnya baik, maka pelayanan terasa lambat—bukan semata karena kinerja, tetapi karena desain tata kelola yang belum menjawab realitas spasial.

Ketimpangan Pembangunan: Persepsi atau Fakta?

Pembangunan yang lebih terlihat di wilayah industri utara memunculkan kesan bahwa selatan dianaktirikan. Persepsi ini penting dicermati secara serius. Ketimpangan, jika tidak dikelola dengan komunikasi yang transparan dan perencanaan berbasis data, dapat berkembang menjadi ketidakpercayaan publik.

Pemda perlu memastikan bahwa setiap prioritas pembangunan memiliki dasar yang jelas dan terpublikasi secara terbuka. Transparansi bukan hanya soal laporan, tetapi soal narasi yang menjelaskan mengapa suatu wilayah didahulukan dan bagaimana wilayah lain akan menyusul dalam tahapan perencanaan.

Ketergantungan Fiskal dan Ruang Gerak yang Sempit

Kelemahan struktural berikutnya adalah ketergantungan tinggi terhadap dana transfer pusat. Ketika Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum optimal, ruang inovasi menjadi sempit. Potensi pariwisata pesisir, pertanian, dan perikanan sejatinya bisa menjadi pengungkit ekonomi lokal jika dikelola dengan pendekatan hilirisasi dan kemitraan investasi yang sehat.

Di sisi lain, belanja pegawai yang menyerap porsi besar APBD membuat fleksibilitas anggaran semakin terbatas. Kondisi ini menuntut efisiensi, bukan sekadar penghematan. Reformasi birokrasi harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, bukan hanya penyesuaian struktur.

Reformasi Birokrasi: Mendesak dan Tidak Bisa Ditunda

Di era digital, pelayanan publik yang masih berlapis dan belum sepenuhnya terintegrasi menjadi ironi. Sistem perizinan dan administrasi kependudukan perlu bergerak ke arah yang lebih sederhana dan berbasis teknologi.

Merit system dalam penempatan pejabat juga menjadi kunci. Publik membutuhkan keyakinan bahwa jabatan diberikan atas dasar kompetensi, bukan kedekatan atau senioritas semata. Reformasi birokrasi bukan hanya jargon, melainkan prasyarat untuk mempercepat pelayanan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Pengawasan dan Lingkungan: Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan

Alih fungsi lahan produktif dan isu kerusakan lingkungan harus menjadi perhatian serius. Ketahanan pangan dan kelestarian ekosistem bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga isu ekonomi jangka panjang. Pengawasan yang lemah akan berujung pada biaya sosial yang lebih besar di masa depan.

Pemda perlu memperkuat fungsi kontrol—baik melalui pengawasan internal maupun kolaborasi dengan masyarakat sipil dan media. Pencegahan jauh lebih murah dibanding pemulihan.

Komunikasi Publik: Dari Reaktif ke Proaktif

Di era media sosial, respons lambat terhadap isu viral dapat memperburuk persepsi publik. Pemerintah daerah harus membangun sistem deteksi dini dan manajemen krisis komunikasi yang profesional. Transparansi anggaran juga perlu ditingkatkan, misalnya melalui dashboard publik yang mudah diakses dan dipahami warga.

Kritik masyarakat bukan ancaman, melainkan energi korektif. Pemerintahan yang sehat adalah pemerintahan yang mau mendengar dan memperbaiki diri.

Catatan Penutup: Membangun dengan Kesadaran Realitas

Evaluasi satu tahun ini menunjukkan bahwa tantangan Kabupaten Sukabumi bersifat struktural dan kompleks. Luas wilayah yang besar membutuhkan desain tata kelola yang berbeda dari kabupaten lain. Desentralisasi pelayanan, optimalisasi PAD, reformasi birokrasi berbasis merit, serta penguatan pengawasan menjadi agenda mendesak.

Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengingatkan bahwa harapan masyarakat tidak pernah kecil. Pemerintah daerah memiliki kesempatan untuk menjadikan tahun kedua sebagai momentum pembenahan yang lebih terukur dan berani.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya pada serapan anggaran, tetapi pada seberapa jauh kebijakan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga—dari pesisir selatan hingga kawasan industri di utara.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Harga Emas Antam di Hari Imlek Turun, Sentuh Rp2,94 Juta per Gram

0

Wartain.com || Perayaan Tahun Baru Imlek yang bertepatan dengan Senin (16/2/2026) diwarnai penyesuaian harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Meski pasar domestik cenderung sepi karena libur, harga emas tetap bergerak mengikuti dinamika global.

Berdasarkan laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam pada hari Imlek dibanderol Rp2.940.000 per gram, turun Rp14.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya. Penurunan ini juga terjadi pada harga buyback atau pembelian kembali yang terkoreksi Rp13.000 menjadi Rp2.728.000 per gram.

Dengan demikian, selisih antara harga beli dan harga buyback (spread) pada momen Imlek tercatat sebesar Rp212.000 per gram.
Koreksi harga ini terjadi di tengah minimnya aktivitas transaksi domestik akibat cuti bersama Imlek. Kendati demikian, pembentukan harga tetap mengacu pada pergerakan emas global serta fluktuasi nilai tukar.

Daftar Harga Emas Batangan Antam – 16 Februari 2026 (Imlek)
0,5 gram: Rp1.520.000
1 gram: Rp2.940.000
2 gram: Rp5.820.000
3 gram: Rp8.705.000
5 gram: Rp14.475.000
10 gram: Rp28.895.000
25 gram: Rp72.112.000
50 gram: Rp144.145.000
100 gram: Rp288.212.000
250 gram: Rp720.265.000
500 gram: Rp1.440.320.000
1.000 gram: Rp2.880.600.000

Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar global meskipun bertepatan dengan hari libur nasional Imlek.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Rupiah Menguat Tipis di Hari Imlek, Perdagangan NDF Tetap Bergerak Saat Pasar Domestik Libur

0

Wartain.com || Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada momentum libur Imlek, Senin (16/2/2026). Meski pasar keuangan domestik tutup karena cuti bersama, rupiah tetap diperdagangkan di pasar offshore melalui skema Non-Deliverable Forwards (NDF).

Di pasar luar negeri, rupiah tercatat menguat sekitar 0,0^ persen ke level Rp16.839 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah pergerakan indeks dolar yang relatif stabil di kisaran 96,87–96,98, menandakan belum adanya tekanan signifikan dari sisi global.

Momentum Imlek yang identik dengan aktivitas ekonomi masyarakat Tionghoa justru bertepatan dengan sentimen eksternal yang cukup kondusif. Dari Amerika Serikat, data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan memicu ekspektasi bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga acuan tahun ini.

Harapan tersebut mendorong penurunan imbal hasil obligasi dan mengurangi daya tarik dolar dalam jangka pendek, sehingga memberi ruang penguatan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Kendati demikian, penguatan rupiah di hari Imlek ini masih bersifat terbatas dan belum mencerminkan pembalikan tren secara menyeluruh. Pelaku pasar masih menilai pergerakan rupiah sebagai respons taktis terhadap dinamika global.

Dari dalam negeri, perhatian investor tetap tertuju pada sejumlah isu krusial, seperti potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta sensitivitas pasar terhadap independensi kebijakan moneter Bank Indonesia.

Dalam waktu dekat, Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya. Konsensus pasar memperkirakan suku bunga akan tetap ditahan di level 4,75 persen, sekaligus menjadi momentum bagi otoritas moneter untuk menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah.

Dengan demikian, meski bertepatan dengan perayaan Imlek dan pasar domestik libur, arah rupiah ke depan tetap akan sangat dipengaruhi perkembangan global serta kejelasan kebijakan moneter dalam negeri.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Bangkit di Babak Kedua, Persita Tundukkan PSBS Biak 2-1

0

Wartain.com || Persita Tangerang berhasil meraih kemenangan 2-1 atas PSBS Biak dalam lanjutan kompetisi BRI Super League Indonesia di Stadion Indomilk Arena, Senin (16/2/2026). Pendekar Cisadane bangkit setelah sempat tertinggal lebih dulu.

PSBS Biak membuka keunggulan pada menit ke-45 melalui gol Ruyery. Gol tersebut membuat tim tamu menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0.

Memasuki babak kedua, Persita tampil lebih agresif. Upaya mereka membuahkan hasil pada menit ke-68 lewat gol Rayco yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Hanya berselang dua menit, tepatnya menit ke-70, Nur Hardianto membalikkan keadaan sekaligus memastikan kemenangan tuan rumah menjadi 2-1.

Secara statistik, Persita tampil dominan sepanjang pertandingan. Penguasaan bola mencapai 63 persen berbanding 37 persen milik PSBS. Persita juga mencatatkan 24 tembakan dengan enam mengarah ke gawang, sementara PSBS melepaskan 14 tembakan dengan enam tepat sasaran.

Dalam distribusi bola, Persita membukukan 305 umpan sukses dari 350 percobaan dengan akurasi 88 persen, unggul atas PSBS yang mencatatkan 184 umpan sukses dari 258 percobaan dengan akurasi 72 persen. Persita juga unggul dalam peluang tercipta (17 berbanding 9), sentuhan di kotak penalti lawan (60 berbanding 19), serta umpan ke sepertiga akhir (44 berbanding 20).

Kemenangan ini memastikan Persita mengamankan tiga poin di kandang sendiri meski sempat tertinggal lebih dulu, sekaligus memperbaiki posisi mereka di papan klasemen.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Jus Buah Segar Dimas Kembali Hadir di Alun-alun Gadobangkong, Minuman Sehat Harga Merakyat

0
Oplus_131072

Wartain.com || Usaha minuman segar Jus Buah Segar Dimas kini kembali hadir di Alun-alun Gadobangkong. Lapak kecil ini mulai menarik perhatian pengunjung yang ingin menikmati minuman sehat dengan harga terjangkau, khususnya saat sore hingga menjelang malam.

Berlokasi di area yang ramai dikunjungi warga, Jus Buah Segar Dimas menawarkan berbagai varian jus buah segar dengan harga mulai dari Rp10.000. Menu yang tersedia di antaranya jus alpukat, jus buah naga, jus mangga, serta beberapa pilihan buah lainnya.

Dimas, pemilik usaha, mengatakan bahwa kehadiran lapaknya merupakan langkah awal untuk kembali menekuni dunia usaha. “Usaha ini sebenarnya sudah pernah saya jalani, namun sempat vakum karena beberapa kendala. Sekarang saya memberanikan diri untuk memulainya lagi dari awal,” ujar Dimas saat ditemui bisnisnewsnet di lapak pada Senin (16/2/2026).

Lapak Jus Buah Segar Dimas mulai beroperasi setiap hari sejak pukul 15.00 WIB sampai malam pukul 23.00 WIB. Kini baru berjalan sekitar satu minggu sudah mulai dikenal oleh pengunjung alun-alun yang mencari minuman segar di sore hari.

Menurut Dimas, ide usaha ini lahir dari diskusi bersama kekasih, Rizki, yang kini turut membantunya berjualan. “Kami berdua ingin punya usaha sendiri sambil kuliah, dari sini kami belajar mandiri dan bertanggung jawab, meski harus membagi waktu dengan kegiatan kampus,” ucapnya.

Meski baru berjalan satu minggu, usaha ini sudah mampu menghasilkan omzet perhari sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000. Capaian tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi Dimas dan Rizki untuk terus mengembangkan usahanya.

Dimas dan Rizki diketahui merupakan mahasiswa semester enam di salah satu perguruan tinggi. Keduanya menilai usaha ini tidak hanya sebagai sumber penghasilan tambahan, tetapi juga sebagai sarana belajar kewirausahaan secara langsung.

Dengan konsep sederhana namun menyasar kebutuhan minuman sehat, Jus Buah Segar Dimas diharapkan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati jus segar berkualitas dengan harga ramah di kantong.

Ke depan, Dimas berharap usahanya dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas. Ia juga berencana menambah variasi menu agar pelanggan memiliki lebih banyak pilihan saat berkunjung ke Alun-alun Gadobangkong.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)