26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 30, 2026
Beranda blog Halaman 87

RT dan RW Se-Kota Sukabumi Berencana Audiensi ke DPRD, Sampaikan Sejumlah Tuntutan ke Pemkot

0

Wartain.com – Perwakilan RT dan RW dari berbagai wilayah di Kota Sukabumi berencana mendatangi Kantor DPRD Kota Sukabumi pada Rabu (20/5/2026), untuk menyampaikan aspirasi melalui agenda audiensi terbuka. Kegiatan tersebut disebut sebagai bentuk penyampaian aspirasi sekaligus respons atas kebijakan Pemerintah Kota Sukabumi yang dinilai belum memenuhi harapan para pengurus lingkungan.

Audiensi direncanakan diikuti oleh para Ketua RT dan RW yang ingin menyampaikan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan program lingkungan, insentif, hingga dukungan anggaran bagi wilayah.

Dalam agenda tersebut, terdapat empat poin tuntutan yang akan disampaikan kepada DPRD Kota Sukabumi, yakni mempertahankan Program P2RW, memastikan ketepatan waktu pencairan insentif, melakukan evaluasi dana kelurahan, serta mendorong realisasi dana abadi sebesar Rp10 juta untuk setiap RT.

Koordinator aksi, Levi, mengatakan bahwa langkah audiensi dilakukan secara damai dan melalui jalur yang sesuai dengan mekanisme penyampaian aspirasi.

“RT dan RW adalah ujung tombak pelayanan masyarakat. Kami hanya ingin adanya kepastian dan realisasi dari janji yang pernah disampaikan kepada kami,” ujar Levi.

Menurutnya, forum audiensi di DPRD diharapkan dapat menjadi ruang komunikasi antara pengurus RT/RW dengan Pemerintah Kota Sukabumi agar berbagai aspirasi yang berkembang di lingkungan masyarakat dapat ditindaklanjuti.

Selain menyampaikan tuntutan, kegiatan tersebut juga disebut menjadi momentum konsolidasi RT dan RW se-Kota Sukabumi untuk memperjuangkan perhatian terhadap pengurus lingkungan yang selama ini berperan membantu pelaksanaan program pemerintah di tingkat masyarakat.

Rencananya, audiensi akan digelar di Kantor DPRD Kota Sukabumi dengan kehadiran peserta dari berbagai kelurahan. Para peserta berharap pemerintah daerah dapat memberikan kepastian terkait berbagai program dan komitmen yang sebelumnya telah disampaikan kepada masyarakat.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Dessy Susilawati Temui Warga Sukabumi, Bahas Program Pemprov Jabar di Yayasan Al Manshuriyah

0
Oplus_131072

Wartain.com – Anggota DPRD Jawa Barat Dessy Susilawati kembali menggelar kegiatan serap aspirasi di Kabupaten Sukabumi. Pertemuan berlangsung di Yayasan Al Manshuriyah, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Senin (18/5/2026), bersama pengurus yayasan dan sejumlah warga.

Hadir dalam forum tersebut tokoh agama, masyarakat, kelompok perempuan, dan pemuda. Mereka membahas jalannya program pemerintah Provinsi Jawa Barat serta menyampaikan berbagai masukan langsung kepada anggota dewan.

“Senang bisa kembali berdiskusi dengan warga di dapil. Banyak hal yang disampaikan terkait pelaksanaan program pemerintah di lapangan,” kata Dessy, Selasa (19/5/2026).

Kegiatan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan ini merupakan bagian dari fungsi DPRD Jabar untuk mengevaluasi kebijakan, APBD, dan peraturan daerah. Fokusnya pada program prioritas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, mulai dari infrastruktur, bantuan sosial, hingga pertanian.

Dasar pelaksanaan kegiatan merujuk pada UUD 1945 Pasal 18 ayat 6, UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dan PP Nomor 12 Tahun 2018 tentang Tata Tertib DPRD.

Melalui pengawasan ini, Dessy menyebut DPRD berupaya memastikan penggunaan anggaran berjalan efisien, produk hukum berjalan efektif, dan program pemerintah daerah tepat sasaran.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Purbaya Tegaskan Pernyataan Prabowo soal Dolar Hanya dalam Konteks Desa

0

Wartain.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat desa yang disebut tidak menggunakan dolar.

Pernyataan tersebut sebelumnya ramai diperbincangkan publik di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Purbaya mengatakan, ucapan Presiden Prabowo disampaikan dalam konteks operasional desa, khususnya saat menghadiri Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk.

“Bukan konteks internasional, ini ngomongnya soal koperasi desa,” ujar Purbaya di Gedung Direktorat Jenderal Pajak, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, Presiden Prabowo memahami kondisi rupiah saat ini. Namun, dalam acara tersebut, pembicaraan lebih diarahkan pada penggunaan langsung dolar di lingkungan masyarakat desa dan koperasi merah putih.

“Itu konsumsi masyarakat desa waktu kemarin. Jadi jangan anggap Pak Presiden tidak mengerti, beliau paham betul soal rupiah. Hanya saja konteksnya memang dalam acara Koperasi Desa Merah Putih,” tegasnya.

Purbaya juga menjelaskan bahwa presiden tidak berbicara sembarangan terkait pelemahan rupiah. Ia memastikan kepala negara memahami situasi ekonomi dan nilai tukar yang sedang terjadi.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa dampak pelemahan rupiah lebih banyak dirasakan oleh masyarakat yang sering bepergian atau bertransaksi ke luar negeri dibandingkan masyarakat desa.

“Nggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” kata Prabowo saat meresmikan 1.062 Koperasi Desa Merah Putih.

Purbaya menambahkan, pernyataan tersebut juga dimaksudkan untuk mencairkan suasana dan menghibur masyarakat yang hadir dalam acara tersebut.

“Untuk menghibur rakyat saja waktu itu. Saya melihat konteksnya memang pedesaan. Jadi tidak masalah disampaikan seperti itu,” kata Purbaya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

PWI Kecam Pencegatan Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla, Sejumlah Jurnalis RI Ikut Tertahan

0
Oplus_131072

Wartain.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat mengecam tindakan militer Israel yang mencegat dan menahan rombongan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 saat menuju Gaza, Palestina. Di antara peserta misi terdapat tiga jurnalis asal Indonesia yang sedang bertugas meliput.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menyebut pencegatan terhadap misi sipil dan para jurnalis sebagai tindakan yang melanggar prinsip perlindungan kerja pers di wilayah konflik.

“Kami mengecam keras pencegatan dan penahanan terhadap misi kemanusiaan menuju Gaza, termasuk jurnalis Indonesia yang menjalankan tugas jurnalistik. Keselamatan insan pers harus dihormati dalam kondisi apa pun,” ujar Munir di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Tiga jurnalis Indonesia yang ikut dalam misi tersebut adalah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari _Republika_, serta Andre Prasetyo Nugroho dari _Tempo_. Menurut Munir, kehadiran mereka murni untuk mendokumentasikan situasi kemanusiaan dan menyampaikan fakta kepada publik internasional.

“Pers hadir untuk menyuarakan kemanusiaan. Tidak boleh ada intimidasi terhadap jurnalis yang bekerja secara profesional,” tegasnya.

Data dari Kementerian Luar Negeri RI menyebutkan sedikitnya 10 kapal dalam misi GSF 2.0 ditahan, di antaranya kapal _Amanda_, _Barbaros_, _Josef_, dan _Blue Toys_. Hingga Selasa siang, kontak dengan kapal yang membawa jurnalis Indonesia masih terputus dan kondisi para awak belum dapat dipastikan.

PWI Pusat menyatakan mendukung langkah diplomatik pemerintah melalui Kemlu untuk memastikan keselamatan seluruh WNI dalam misi tersebut.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital RI menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan Kemlu dan perwakilan RI di Ankara, Kairo, serta Amman untuk memantau perkembangan dan menyiapkan opsi perlindungan maupun pemulangan jika diperlukan.

“Doa dan harapan kami menyertai seluruh jurnalis dan relawan agar diberikan keselamatan dan bisa segera kembali dengan selamat,” tutup Munir.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Pentas PAI SD Tingkat Kabupaten Sukabumi 2026 Resmi Dibuka, Jadi Ajang Pembinaan Karakter dan Prestasi

0

Wartain.com – Kegiatan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) jenjang Sekolah Dasar tingkat Kabupaten Sukabumi Tahun 2026 resmi dibuka. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para peserta didik untuk mengembangkan potensi, kreativitas, serta memperkuat karakter religius sejak usia dini.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menyampaikan bahwa Pentas PAI bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga sarana pembinaan mental, spiritual, dan karakter siswa.

“Semangat berkompetisi, semangat berprestasi. Mari jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk menumbuhkan karakter religius, sportivitas, kreativitas, dan prestasi peserta didik Kabupaten Sukabumi,” ujarnya, Selasa (19/05/2026).

Menurutnya, melalui Pentas PAI para siswa dapat menampilkan kemampuan terbaiknya dalam berbagai bidang keagamaan, sekaligus mempererat ukhuwah dan kebersamaan antar pelajar dari berbagai wilayah di Kabupaten Sukabumi.

Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, percaya diri, dan semangat berprestasi.

Selain itu, Pentas PAI menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter yang selaras dengan penguatan pendidikan agama di lingkungan sekolah dasar. Suasana pembukaan berlangsung meriah dan penuh antusiasme.

Para peserta, guru pendamping, serta tamu undangan tampak bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan yang digelar sebagai ajang pengembangan bakat dan potensi siswa di bidang Pendidikan Agama Islam.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Dinas Pertanian Sukabumi Intensif Dampingi Petani Kembangkan Beras Premium Berkualitas

0

Wartain.com – Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pertanian terus mendorong peningkatan kualitas hasil pertanian dengan memperkuat pendampingan kepada para petani, khususnya dalam pengembangan produksi beras premium.

Upaya tersebut disampaikan dalam kegiatan wawancara bersama Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cisaat, Andi, pada Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa peran penyuluh pertanian sangat penting dalam meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani di lapangan.

Menurutnya, BPP memiliki sejumlah tugas utama, mulai dari memberikan fasilitasi, pendampingan teknologi pertanian, hingga layanan konsultasi bagi petani agar mampu meningkatkan kualitas produksi pertanian secara berkelanjutan.

“Saat ini kami melakukan pembinaan terhadap sekitar 65 kelompok tani dari total 1.365 kelompok tani yang tersebar di Kabupaten Sukabumi. Pendampingan dilakukan pada sektor tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan,” ujarnya.

Andi mengatakan, pengembangan beras premium tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses pembinaan yang berkesinambungan.

Program tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI, termasuk penguatan program Agrihub dari tahap produksi hingga pemasaran.

Ia menuturkan, keberhasilan menghasilkan beras berkualitas premium merupakan hasil kolaborasi antara penyuluh pertanian, kelompok tani, dan dukungan berbagai program pemerintah yang berjalan secara terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi sendiri terus berkomitmen meningkatkan mutu produk pertanian daerah melalui penguatan kelembagaan petani, penerapan teknologi pertanian modern, serta optimalisasi peran penyuluh di lapangan.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan tersebut, pemerintah daerah berharap sektor pertanian di Kabupaten Sukabumi semakin berkembang, produktif, dan mampu menghasilkan komoditas unggulan yang memiliki daya saing di tingkat regional maupun nasional.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Sapi Jumbo “Predator” Berbobot 1,170 Ton Dipilih Jadi Hewan Kurban Presiden Prabowo Subianto di Kota Sukabumi

0

Wartain.com – Kota Sukabumi kembali menerima bantuan sapi kurban dari Presiden Prabowo Subianto menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Seekor sapi jenis limosin berbobot jumbo mencapai 1,170 ton telah dibeli oleh Sekretariat Presiden (Setpres) untuk disalurkan kepada masyarakat di Kota Sukabumi.

Sapi berwarna cokelat tersebut saat ini berada di lapak hewan kurban di Jalan Kibitay, Kelurahan Situmekar, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi. Rencananya, sapi bantuan kemasyarakatan presiden itu akan disembelih di sebuah pondok pesantren di wilayah Cigunung.

Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki mengaku telah melihat langsung kondisi sapi jumbo tersebut.

“Saya melihat langsung sapi yang dikasih oleh Presiden Prabowo Subianto, beratnya 1 ton 170 kilogram atau 1,170 ton. Tadi sudah saya lihat dan insya Allah akan dipotong di Pondok Pesantren di Cigunung,” kata Ayep, Selasa (19/5/2026).

Ayep menyebut bantuan sapi kurban dari presiden untuk masyarakat Kota Sukabumi rutin diberikan setiap tahun. Lokasi penyembelihan pun dilakukan secara bergiliran di sejumlah wilayah.

“Satu ekor. Itu rutin setiap tahun dan bergiliran. Waktu tahun pertama saya menjabat disembelih di Babakan Muncang, Ciaul. Sekarang pindah ke Cigunung, tahun depan kita pilih nanti tempat pemotongannya ya,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi, Adrian Hariadi mengatakan, proses penentuan sapi dilakukan melalui tahapan seleksi ketat. Pemerintah daerah sebelumnya mengajukan sapi dengan bobot di atas satu ton dan kondisi kesehatan yang prima.

“Jadi awalnya kita juga menawarkan, pertama ya sapinya harus bobotnya di atas 1 ton, kondisinya sehat, nah terus dilihat, disurvei ke sini dan layak. Termasuk kita kirim-kirim dokumen ke provinsi, terus dicek ya memenuhi kriteria. Kemarin Senin dilakukan pembayaran oleh Setpres,” kata Adrian.

Menurut Adrian, bobot sapi terus mengalami peningkatan sejak pertama kali diajukan. Awalnya sapi memiliki berat sekitar 1,130 ton, namun kini bertambah menjadi 1,170 ton.

“Setiap hari ada penambahan bobot ya, karena memang terus diberi makanan, makanannya cukup banyak juga. Penawaran awalnya di 1,130 ton, sekarang sudah hampir satu bulan ini ya, itu sudah ada kenaikan 40 kilo,” ujarnya.

Pemilik lapak hewan kurban, Tisa Dera menjelaskan, sapi jantan bernama Predator itu telah dipelihara selama delapan bulan setelah didatangkan dari Jawa. Saat pertama datang, bobotnya sekitar 900 kilogram.

“Umurnya, udah tiga tahun lebih. Sudah sangat cocok untuk kurban, dagingnya sudah oke insya Allah,” ucap Tisa.

Ia mengatakan nama “Predator” diberikan karena ukuran tubuh sapi yang besar dan terlihat gagah dibanding sapi pada umumnya. Selain itu, kondisi kesehatannya juga terus dipantau oleh petugas peternakan.

“Kelebihannya tentu sapi ini sehat sesuai syariat ya. Sehat, tidak ada cacat. Dinas Peternakan juga selalu update kesehatannya, feses dan segala rupa dicek. Jadi insya Allah yang utama sehat. Dan bobot yang besar insya Allah supaya manfaatnya lebih banyak aja,” sebutnya.

Tisa juga mengaku bersyukur karena lapaknya kembali dipercaya menjadi salah satu pemasok hewan kurban bantuan Presiden.

“Alhamdulillah, kami mendapat kepercayaan dari tahun ke tahun menjadi salah satu penyuplai. Banyak sekali memang Bapak Prabowo ini pesan hewan kurban tapi kami salah satunya, sudah bertahun-tahun,” jelasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Melihat Papua Utuh: Saat Sorotan ke Pesta Babi Mengaburkan Lubang di Mimika

0

Wartain.com – Film dokumenter _Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita_ belakangan ramai dibahas di media sosial, ruang diskusi kampus, hingga warung kopi. Karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Dwi Laksono ini mendapat perhatian besar dari jaringan NGO dan akademisi yang mengangkatnya sebagai representasi penderitaan masyarakat adat di Papua.

Film tersebut menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Fokusnya pada pembukaan hutan adat untuk industri sawit dan tebu yang dinilai mengancam tradisi masyarakat, termasuk tradisi bakar batu dan pesta babi yang memiliki makna sosial dan spiritual mendalam.

Namun di balik apresiasi terhadap estetika dan pesan budaya yang disampaikan, muncul pertanyaan kritis: mengapa narasi ini berhenti pada proyek dalam negeri, sementara persoalan lain yang lebih besar justru nyaris tidak disinggung?

Lubang Besar yang Luput dari Sorotan

Di tanah yang sama tempat tradisi pesta babi hidup, ada tambang Grasberg di Mimika yang sudah beroperasi lebih dari 50 tahun. PT Freeport Indonesia telah mengeruk miliaran ton bijih tembaga dan emas dari pegunungan Papua. Skala eksploitasinya jauh melampaui proyek sawit dan tebu yang disorot film.

Bagi masyarakat Amungsa, gunung bukan sekadar tanah. Ia adalah bagian dari identitas dan spiritualitas. Ketika gunung itu dibongkar, yang hilang bukan hanya lanskap, tapi juga relasi manusia dengan alam dan leluhur mereka.

Anehnya, isu Freeport jarang muncul dalam diskusi yang dipicu film ini. Suara yang biasanya lantang membela hak masyarakat adat tiba-tiba meredup ketika berhadapan dengan korporasi multinasional yang beroperasi sejak 1967.

Pertanyaan untuk Arah Narasi

Pengamat politik dan perwakilan partai pernah menyinggung bahwa tidak semua narasi emosional merepresentasikan keseluruhan kenyataan. Sebuah film dokumenter, meski kuat secara visual, tidak otomatis netral.

Ada catatan bahwa agenda pendanaan internasional sering memengaruhi fokus gerakan sipil. Isu budaya, konflik lokal, dan lingkungan akibat kebijakan dalam negeri lebih sering diangkat, sementara persoalan neokolonialisme ekonomi oleh korporasi asing cenderung dihindari.

Ketika satu isu disorot terang-benderang, isu lain bisa saja terdorong ke belakang layar. Menyorot pergeseran budaya lokal tanpa menyinggung aliran kekayaan alam yang keluar negeri dinilai sebagian pihak sebagai ironi intelektual.

Menolak Melihat Papua Secara Sepotong

Menikmati _Pesta Babi_ sebagai refleksi budaya dan kritik kebijakan sah-sah saja. Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra bahkan menyebut kritik semacam itu wajar, meski ada narasi yang provokatif. Menurutnya, masyarakat bebas menonton lalu mendiskusikannya.

Masalahnya muncul ketika film ini dijadikan satu-satunya lensa untuk melihat Papua. Kenyataannya, tantangan di Papua tidak hanya datang dari proyek domestik, tapi juga dari eksploitasi sumber daya berskala global yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Melihat Papua secara utuh berarti menempatkan api bakar batu dan dinding tambang asing dalam satu bingkai. Jika para pengamat dan NGO memilih diam pada isu tertentu, maka tanggung jawab untuk menyuarakan gambaran lengkap jatuh pada publik yang membaca dan menonton.

Keadilan tidak bisa lahir dari kamera yang hanya mau melihat sebagian cerita.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Resmikan Masjid Jami Nurulhuda, Bupati Sukabumi : Bantu Pembangunan Sarana Pendukungnya

0

Wartain.com – Bupati Sukabumi H. Asep Japar meresmikan Masjid Jami Nurul Huda yang berlokasi di Kampung Sinagar, Desa Nagrak Utara, Kecamatan Nagrak, Selasa, 19 Mei 2026. Hal itu ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita.

Tak hanya meresmikan, Bupati pun turut memberikan bantuan untuk pembangunan area masjid tersebut.

“Melihat masjid ini masih ada yang perlu dilengkapi, Insya Allah saya ikut membantu pembangunan sarana pendukung lainnya,” ujarnya.

Apalagi menurut bupati, masjid bukan sekadar tempat beribadah. Namun masjid dapat dijadikan fondasi peradaban umat.

“Selain tempat beribadah, masjid dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan, sosial, budaya, pemerintahan, dan administrasi,” ucapnya.

Oleh karena itu, bupati mendorong masyarakat untuk memakmurkan masjid ini. Hal itu melalui kajian-kajian keagamaan.

“Mari kita ramaikan masjid ini melalui kajian kajian keagamaan dan pembentukan karakter ahlakul karimah. Sehingga diharapkan lahir generasi taat beribadah, bermoral, dan kepedulian sosial yang tinggi,” pesannya.

Selain itu, bupati berharap masyarakat dapat menjaga dan merawat masjid tersebut. Sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan dalam waktu yang lama.

“Mari kita jaga dan makmurkan masjid ini bersama-sama,” ajaknya.

Sementara itu, DKM Masjid Nurul Huda Dadang Saepudin mengatakan, masjid terbangun berkat para donatur yang luar biasa. Baik dari masyarakat maupun dari luar negeri.

“Alhamdulillah dukungan masyarakat dan donatur dari Arab Saudi, bangunan utama sudah selesai,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Kecelakaan dan Kematian: Antara Takdir dan Ikhtiar Manusia

0
Oplus_131072

Wartain.com  – Frasa “kecelakaan dan kematian adalah takdir yang tidak bisa dihindari” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Kalimat ini terdengar pasrah, tapi juga membawa ketenangan bagi sebagian orang yang berusaha menerima kenyataan hidup.

Dalam banyak tradisi agama, kematian memang dipahami sebagai sesuatu yang sudah ditetapkan waktunya. Manusia bisa berencana, bisa berusaha, tetapi ujungnya tetap kembali pada ketentuan yang berada di luar kendali. Pandangan ini membantu seseorang menerima kehilangan tanpa merasa perlu menyalahkan diri sendiri tanpa henti.

Namun, menerima takdir bukan berarti manusia harus berhenti berusaha. Konsep takdir dalam banyak ajaran juga berjalan beriringan dengan ikhtiar. Artinya, manusia tetap diberi ruang untuk menjaga diri, mencegah bahaya, dan membuat pilihan yang lebih aman.

Dari sisi sains, kecelakaan jarang terjadi tanpa sebab. Ia biasanya merupakan hasil dari rantai peristiwa: kelalaian, kondisi jalan, cuaca, kelelahan, atau faktor teknis. Memahami sebab-akibat ini membuka ruang untuk pencegahan. Helm, sabuk pengaman, rambu lalu lintas, dan pemeriksaan kesehatan adalah contoh ikhtiar nyata.

Di sinilah muncul titik temu antara takdir dan tanggung jawab. Manusia tidak bisa mengontrol semua variabel di dunia, tapi ia bisa mengurangi risiko yang berada dalam jangkauannya. Mengabaikan ikhtiar dengan alasan “sudah takdir” justru bisa berubah menjadi kelalaian.

Secara psikologis, keyakinan bahwa kematian adalah bagian dari siklus hidup membantu mengurangi kecemasan berlebihan. Ketika seseorang menerima bahwa ada hal yang tidak bisa dikontrol, pikiran menjadi lebih tenang. Fokus pun bisa dialihkan pada hal-hal yang masih bisa diupayakan.

Sebaliknya, jika pandangan takdir dipahami secara kaku, ia bisa membuat seseorang menjadi pasif. Sikap “biar saja, toh sudah digariskan” berisiko mengabaikan langkah pencegahan yang sebenarnya bisa menyelamatkan nyawa. Maka penting untuk menjaga keseimbangan.

Filsafat Stoikisme menyebutnya dengan bijak: bedakan antara yang bisa kamu kendalikan dan yang tidak. Kamu tidak bisa mengontrol mobil yang melaju dari arah berlawanan, tapi kamu bisa memilih untuk tidak mengemudi saat mengantuk. Di situlah peran manusia bekerja.

Kecelakaan dan kematian memang tidak bisa dihindari selamanya. Tapi cara kita menjalani waktu sebelum itu tiba sepenuhnya berada dalam kendali kita. Menjaga kesehatan, berhati-hati di jalan, dan menjaga relasi dengan orang lain adalah bentuk penghormatan terhadap hidup itu sendiri.

Pada akhirnya, menerima takdir bukan tentang menyerah, melainkan tentang menemukan ketenangan di tengah ketidakpastian. Dan ikhtiar adalah cara manusia menunjukkan bahwa ia menghargai hidup yang telah diberikan, seberapa panjang atau singkat pun waktunya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)