26.7 C
Jakarta
Sabtu, Januari 17, 2026

Latest Posts

Disdik Sukabumi: Larangan Roblox Jadi Momentum Perkuat Literasi Digital Keluarga

Wartain.com || Imbauan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, yang menyarankan agar anak-anak tidak bermain gim daring Roblox karena mengandung unsur kekerasan dan konten tak layak, mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi.

Kepala Seksi Kesiswaan SMP Disdik Kabupaten Sukabumi, Devi Indra Kusuma mengatakan, larangan tersebut tidak semata-mata harus dimaknai sebagai pelarangan total terhadap gim daring, tetapi sebagai alarm penting bagi keluarga untuk memperkuat literasi digital dan memastikan ruang digital anak tetap aman dan sehat.

“Roblox memang populer, menarik, dan sangat mudah diakses anak-anak. Tapi dalam keseruan itu, ternyata banyak konten yang tidak pantas, dari kekerasan sampai interaksi yang bisa jadi celah eksploitasi. Maka di sinilah pentingnya peran orang tua, bukan sekadar melarang, tapi mendampingi dan memahami apa yang dimainkan anaknya,” ungkap Devi, Kamis (7/8/2025).

Ia mengingatkan bahwa dunia digital sudah menjadi bagian dari keseharian anak, sehingga justru orang dewasa—khususnya orang tua—yang harus mendapat penguatan literasi digital, agar tidak gagap terhadap apa yang dikonsumsi anak di gawai mereka.

“Anak bisa saja anteng di rumah, terlihat aman, padahal ia sedang menyerap konten kekerasan, konten dewasa, bahkan melakukan interaksi dengan orang tak dikenal. Ini yang berbahaya kalau tak ada kontrol,” ujar Devi.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan siap memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam menciptakan kesadaran bersama soal dampak dunia digital terhadap perkembangan karakter anak.

Bagi Devi, Roblox hanyalah satu contoh dari banyak gim atau platform lain yang perlu dikawal penggunaannya secara bijak. Ia menyebut bahwa gim seperti Mobile Legends, Free Fire, dan PUBG juga bisa dimainkan anak-anak asal dalam batas wajar dan disertai pengawasan.

“Teknologi itu tidak bisa kita hindari, tapi kita bisa kendalikan. Maka pendekatannya bukan hanya pelarangan, tapi pembiasaan. Anak perlu diajarkan apa yang baik dan tidak, mana yang pantas dan mana yang harus dihindari,” tuturnya.

Ia juga mengajak para orang tua agar tidak terlalu menyerahkan sepenuhnya proses pengasuhan ke sekolah atau pemerintah. Justru, kata dia, rumah adalah ruang pertama anak mengenal dunia, termasuk dunia digital.

“Ini tanggung jawab bersama. Mari kita jaga ruang digital anak-anak kita agar tetap sehat, aman, dan mendidik. Kalau tidak sekarang, dampaknya bisa panjang ke masa depan,” pungkas Devi.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.