Wartain.com || Forum Mahasiswa Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi menyoroti banjir yang terjadi di Kecamatan Cisolok pada Senin 21/10/2025 sore. Mereka pun mengungkap biang kerok penyebab banjir itu.
Sorotan tersebut mereka sampaikan pada saat gelar diskusi yang dilakukan pada momen peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, yang berlangsung di RM. Fauzi Gozin, Citepus, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Selasa 28/10/2025.
Ditemui Wartain.com pasca diskusi, salahseorang perwakilan mahasiswa dari STKIP Bina Mutiara Palabuhanratu Sukabumi yang duduk di Semester Tujuh, Berlian Puji Lestari mengungkapkan, bencana alam seperti banjir bukan semata-mata karena faktor alamiah seperti curah hujan tinggi. Melainkan akibat dari kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh praktik manusia sendiri.
”Kita harus berani jujur bahwa banjir yang terjadi bukan hanya karena hujan yang berlebih, tapi karena rusaknya hutan di daerah hulu dan juga pendangkalan sungai,” ungkap Ketum HMI Komisariat STKIP Bina Mutiara Palabuhanratu ini.
Puji menyebut, kondisi tersebut tidak lepas dari sistem ekonomi yang dikuasai kapitalisme. Mereka, disebutnya ingin mengambil untung tanpa peduli dampak lingkungan.
”Orang ingin ambil untung sebanyak-banyaknya dari bisnis pertanian tanpa memikirkan dampak terhadap lingkungan,” tambah Puji.
Menurutnya, kerusakan lingkungan ini perlu dijawab dengan cara pandang baru terhadap alam. Ia memaparkan, bumi harus dilihat sebagai kehidupan yang saling membutuhkan antara manusia, dan alam.
”Keseimbangan antara memberi dan mengambil harus dijaga. Manusia bisa menjadi aktor penting yang penuh kasih dan merawat kehidupan,” tutur Puji.
Hal yang sama dikatakan oleh mahasiswa dari STISIP Widyapuri Mandiri Palabuhanratu, Muh. Rayhan Noval Anwar, yang duduk di semester Lima. Ia menyebut akar masalah banjir berasal dari aspek tata ruang dan geomorfologi di wilayah Kabupaten Sukabumi.
”Secara bentuk, Kabupaten Sukabumi itu teksturnya adalah pegunungan dan perbukitan yang di dalamnya banyak sungai. Kalau hujan deras terjadi bersamaan di hulu, banjir hampir pasti tak terhindarkan, oleh karenanya tata ruang nya harus dibenahi,” jelas Hima AP STISIP WPM Palabuhanratu ini.
Selain membahas akar masalah, ia menekankan pentingnya desain bangunan yang adaptif terhadap bencana. Ia mencontohkan rumah-rumah atau bangunan yang ada di sekitar sungai yang memiliki area resapan luas dan lebih ramah terhadap perubahan musim.
”Dari sisi material, kita bisa memilih bahan dengan jejak karbon rendah dan mudah diperbarui di sekitar kita. Prinsipnya, pembangunan harus berkelanjutan dan tidak memperparah kerusakan lingkungan,” ujar Rayhan.
“Belum lagi diperparah dengan perbuatan manusia yang sangat tidak adaptif dengan alam. Contohnya pembalakan liar dan membuang sampah sembarangan, ini menambah daftar panjang terjadinya bencana banjir yang melanda,” pungkas Rayhan.
Dari hasil diskusi tersebut, Forum Mahasiswa Pelabuhanratu, memberikan banyak catatan dan rekomendasi kepada pemangku kebijakan, yaitu :
1. Mendorong pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi untuk melalukan penelitian secara komprehensif dalam mengidentifikasi faktor-faktor terjadinya bencana alam di Kabupaten Sukabumi.
2. Mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi untuk segera melakukan langkah kongkrit dalam memitigasi potensi resiko yang lebih besar.
3. Mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi untuk melakukan evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) secara menyeluruh.
4. Mengkoordinasikan kepada Pemerintah Provinsi dan Pusat dalam mencegah dan menanggulangi bencana di wilayah Kabupaten Sukabumi.
5. Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi untuk bertanggung jawab terhadap berbagai kerugian yang dialami oleh masyarakat, baik kerugian ekonomi, sosial maupun psikologi.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
