Wartain.com || Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Sukabumi yang digelar di Alun-alun Palabuhanratu pada Rabu, 4 Februari 2026, menjadi momentum bersejarah bagi umat Islam, khususnya warga nahdliyin. Puluhan jemaah, santri, tokoh masyarakat, hingga unsur pemerintahan tumpah ruah mengikuti rangkaian kegiatan.
Perayaan ini juga menjadi ruang silaturahmi besar antara ulama, umara, dan umat. Sinergi tersebut menjadi kekuatan utama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan sejuk di Kabupaten Sukabumi.
Diketahui, Acara tersebut dihadiri Bupati Sukabumi, unsur Forkopimda, para ulama, serta berbagai elemen masyarakat. Kehadiran lintas unsur ini menunjukkan bahwa NU telah menjadi rumah besar yang menaungi perbedaan dan menguatkan persatuan di tengah dinamika sosial yang terus berubah.
Menurut Fadil, Ketua PAC GP Ansor Palabuhanratu, satu abad NU bukanlah perayaan biasa, melainkan refleksi atas perjalanan panjang organisasi yang telah berkontribusi besar bagi bangsa.
“Satu abad NU adalah bukti bahwa Islam rahmatan lil alamin mampu hidup berdampingan dengan nilai kebangsaan dan budaya lokal,” ujar Fadil.
Sementara, ditengah tantangan zaman yang serba cepat, arus globalisasi dan krisis identitas generasi muda, NU dinilai cukup konsisten menjaga tradisi keislaman yang moderat. Peran NU ini tidak hanya sebatas dakwah, namun juga membangun peradaban sosial yang berlandaskan nilai toleransi dan kebersamaan.
Fadil juga menilai, kebangkitan umat harus dimaknai sebagai kebangkitan kesadaran bersama, untuk kembali pada nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri NU.
“Kebangkitan umat hari ini bukan soal jumlah masa, tapi soal kesadaran untuk menjaga akhlak, persatuan, dan kepedulian sosial,” ucap Fadil.
Sebagai organisasi kepemudaan, Fadil selaku Ketua PAC GP Ansor Palabuhanratu, memandang bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga estafet perjuangan ulama. Momentum satu abad ini menjadi pemicu agar Ansor lebih aktif hadir di tengah masyarakat dengan kerja-kerja nyata.
Fadil kembali menekankan pentingnya peran pemuda dalam merawat warisan NU.
“Kami di Ansor harus menjadi garda terdepan, bukan hanya dalam seremonial, tetapi dalam aksi sosial, pendidikan, dan kemanusiaan,” katanya.
Dalam pandangan Fadil, NU telah terbukti menjadi penyangga keutuhan bangsa sejak sebelum kemerdekaan hingga kini.
“NU tidak pernah lelah menjaga Indonesia tetap utuh, dan itu harus terus kita lanjutkan bersama,” ucapnya.
Lebih jauh, ia mengajak seluruh elemen untuk menjadikan satu abad NU sebagai titik tolak gerakan yang lebih luas, bukan sekadar kenangan masa lalu.
Fadil menambahkan bahwa tantangan ke depan membutuhkan solidaritas yang lebih kuat. “Kita harus menjadikan NU sebagai pusat nilai moderasi dan persatuan, agar generasi mendatang tidak kehilangan arah,” tuturnya.
Lanjutnya, Ia berharap peringatan ini melahirkan semangat baru bagi umat Islam di Sukabumi. “Satu abad NU adalah obor yang harus terus menyala, menerangi jalan kebangkitan umat menuju masyarakat yang religius, damai, dan berkeadaban,” pungkasnya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Ujeng)
