Wartain.com || Warga RT 04 RW 06, Kelurahan Kebonjati, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, dibuat resah oleh dugaan pencemaran limbah yang mengalir ke selokan di lingkungan permukiman mereka. Parit kecil yang melintas di kawasan tersebut viral di media sosial karena terlihat menghitam, kotor, dan berbau tak sedap. Dugaan kuat mengarah pada salah satu hotel besar di Kota Sukabumi—Hotel Horison—sebagai sumber pencemaran.
Pantauan di lokasi pada Sabtu (19/7/2025), selokan yang berada di pemukiman padat penduduk itu dipenuhi endapan limbah pekat berwarna gelap. Bau menyengat terasa dari radius belasan meter. Warga menyebut, kejadian ini telah berlangsung cukup lama dan berdampak langsung terhadap kehidupan mereka, khususnya para pemilik kolam ikan.
Ketua RT setempat, Dede Samsudin, mengungkapkan bahwa warga mulai merasakan dampak paling parah sejak dua tahun terakhir. Salah satunya adalah insiden matinya ikan di lima kolam warga secara tiba-tiba pada Sabtu (12/7/2025).
“Airnya hitam dan menggumpal. Bau banget, sampai jarak 20 sampai 30 meter masih tercium. Ikan-ikan di kolam mati semua, total sekitar 96 kilogram,” jelas Dede.
Menurutnya, meski belum ada bukti konkret bahwa Hotel Horison menjadi penyebab utama, keluhan warga sudah sering diarahkan ke hotel tersebut.
“Warga banyak menyampaikan keluhan soal ini. Kita juga sudah beberapa kali bertemu pihak hotel. Tuntutan warga sederhana, hanya ingin air kembali bersih seperti dulu,” ujarnya.
Pihak warga mengaku telah berulang kali melaporkan hal ini ke perangkat kelurahan hingga kecamatan. Bahkan, menurut Dede, permasalahan ini telah melewati tiga pergantian ketua RT. Namun, hingga kini belum ada solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah.
Menanggapi keluhan warga yang mencuat ke media sosial, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi pun angkat bicara. Kepala Bidang Penataan dan Penaatan PPLH DLH Kota Sukabumi, Rizan Junistiar, menyatakan bahwa pihaknya telah turun ke lokasi dan menggelar pertemuan antara warga dan manajemen hotel pada Jumat (18/7/2025).
“Kami lakukan pengecekan di lapangan dan memfasilitasi musyawarah antara warga dengan pihak hotel. Turut hadir juga perwakilan dari kecamatan, kelurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas,” kata Rizan.
Dalam pertemuan tersebut, peristiwa matinya ikan menjadi fokus utama. DLH sempat melakukan pengujian air di lokasi dan menemukan tingginya kadar Biological Oxygen Demand (BOD), yang mengindikasikan rendahnya kadar oksigen terlarut.
“Namun, kami tidak bisa langsung menyimpulkan ini sebagai pencemaran dari satu sumber saja. Selain kemungkinan limbah usaha, banyak juga limbah rumah tangga yang masuk ke selokan tersebut,” jelas Rizan.
Menurutnya, kematian ikan juga bisa disebabkan oleh faktor alamiah lain, seperti perubahan suhu atau cuaca ekstrem.
“Keterangan dari ahli perikanan menyebutkan cuaca ekstrem juga bisa menjadi penyebab matinya ikan secara mendadak. Kasus serupa juga pernah terjadi di tempat lain tanpa keterkaitan dengan limbah industri,” tambahnya.
Meski belum dapat menyimpulkan secara pasti penyebab utama pencemaran, DLH memastikan akan tetap melakukan pengawasan terhadap aktivitas pembuangan limbah di kawasan tersebut.
“Kami akan terus pantau ketaatan pengelolaan limbah oleh pelaku usaha. Kami juga memperhatikan keinginan warga agar kualitas air kembali normal, apalagi aliran air ini bersinggungan dengan aktivitas budidaya ikan,” pungkas Rizan.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
