Oleh: Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Kelahiran Nabi Muhammad saw tidak sekadar peristiwa sejarah di Mekah, lebih dari itu, ia adalah simbol lahirnya cahaya Tuhan di tengah kegelapan manusia. Beliau diutus ketika bangsa-bangsa dihimpit tirani, ketika jiwa-jiwa dirundung kezaliman, dan ketika kehidupan kehilangan ruh kasih dan kebenaran.
Setiap kali kita memperingati Maulid Nabi, kita dipanggil untuk menghidupkan kembali cahaya itu di dalam dada kita, di dalam keluarga, masyarakat, bahkan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hari ini, negeri kita sedang berada dalam situasi yang porak-poranda. Dinasti politik yang dibangun dengan nafsu kekuasaan telah melahirkan rasa muak rakyat. Keadilan tersisih, suara rakyat teredam, dan kekuasaan hanya menjadi alat bagi kelompok kecil untuk melanggengkan hasrat duniawi.
Chaos sosial dan politik tidak lahir dari kehendak rakyat, melainkan dari kerakusan segelintir elite yang menjadikan negeri ini ternak kepentingan.
Namun, bulan Maulid ini mengingatkan kita pada satu kebenaran: bahwa cahaya Allah selalu lahir di tengah kegelapan sejarah. Seperti Nabi lahir di tengah jahiliyah, demikian pula kita harus menyadari bahwa chaos hari ini adalah tanda bahwa cahaya harus kembali dilahirkan.
Presiden Prabowo Subianto, yang kini memimpin di tengah gelombang keresahan rakyat, memiliki momentum yang tidak biasa. Bulan Maulid Nabi menjadi panggilan ruhani baginya untuk tidak mengulangi kesalahan rezim sebelumnya. Ia mesti menempuh jalan kenabian: membangun kekuasaan bukan di atas dinasti, tetapi di atas amanah.
Melahirkan kabinet bukan dari kelompok ternak kepentingan, tetapi dari manusia-manusia yang bersih, berjiwa besar, berakhlak, dan adil.
Bangsa ini tidak hanya butuh pembangunan fisik, melainkan juga pembangunan jiwa. Rakyat bukan hanya ingin kenyang perutnya, tetapi juga ingin hidup dalam keadilan, kemanusiaan, dan kedamaian.
Di sinilah keteladanan Nabi Muhammad saw harus menjadi ruh pemerintahan: sederhana, jujur, penuh kasih, dan menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan sebagai warisan dinasti.
Kita memohon agar dalam bulan penuh cahaya ini, Presiden Prabowo benar-benar menghadirkan kabinet yang mencerminkan sila kedua dan kelima Pancasila:
“Kemanusiaan yang adil dan beradab” serta “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Tidak ada jalan lain selain kembali kepada ketuhanan dan kemanusiaan, sebab tanpa itu, bangsa ini akan terus dikuasai kegelapan.
Maulid Nabi adalah panggilan agar setiap pemimpin meneladani sifat-sifat Rasulullah: amanah, siddiq, tabligh, fathanah. Jika empat sifat itu hadir di dalam tubuh kabinet, maka bangsa ini akan lahir kembali seperti kelahiran cahaya di tengah malam jahiliyah.
Semoga Maulid Nabi tahun ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi benar-benar menjadi kelahiran baru bangsa Indonesia: lahirnya keadilan, lahirnya kabinet yang bersih, lahirnya pemerintahan yang berjiwa ketuhanan, dan lahirnya cinta rakyat kepada pemimpinnya. Sebab hanya dengan cahaya Muhammad-lah, kita dapat keluar dari kegelapan zaman.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
