Wartain.com || Sudah sepuluh hari berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menerjang Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, pada 28 Desember 2025. Namun hingga kini, warga Kampung Cihanjuang, Desa Sukamaju, masih hidup dalam bayang-bayang bencana susulan serta ancaman gagal panen menyeluruh.
Bencana tersebut nyaris mematikan roda perekonomian warga. Sekitar 10 hektare lahan persawahan dipastikan rusak berat dan tidak dapat dipanen, sementara akses transportasi dan komunikasi menuju kampung terputus akibat tertimbun material longsor.
Ketua RT 03/07 Kampung Cihanjuang, Cece, menjelaskan bahwa longsor yang awalnya hanya terjadi di satu titik, kini berkembang menjadi sedikitnya 21 titik longsoran yang tersebar di wilayah tersebut.
“Awalnya cuma satu titik, tapi sekarang hampir di seluruh wilayah Cihanjuang ada longsoran,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Sektor pertanian menjadi korban paling parah. Sawah-sawah yang baru selesai ditanami padi luluh lantak diterjang banjir bandang. Padahal, wilayah Cihanjuang biasanya mampu memproduksi lebih dari 20 ton gabah setiap musim panen.
“Seharusnya empat bulan lagi sudah panen. Tapi sekarang dipastikan gagal total,” kata Cece.
Lahan pertanian kini tertutup material berat seperti batu, pasir, kayu, dan bambu. Dari seluruh sawah yang terdampak, hanya sekitar 40 persen yang berpeluang dipulihkan, itupun membutuhkan biaya besar yang tidak sanggup ditanggung warga secara mandiri.
Tak hanya merusak mata pencarian, longsor juga memutus akses utama menuju kampung. Jalan desa hingga kini masih tertimbun tanah. Sementara jalur alternatif di wilayah Cijoho hanya bisa dilalui sepeda motor saat cuaca cerah, dan kembali berbahaya setiap kali hujan turun.
Kondisi diperparah dengan ketiadaan jaringan komunikasi. Kampung Cihanjuang dikenal sebagai wilayah blank spot, sehingga warga kesulitan menyampaikan informasi darurat maupun meminta bantuan.
“Dari dulu memang tidak ada sinyal. Kalau ada keadaan mendesak, kami benar-benar kesulitan,” ungkapnya.
Sebanyak 47 kepala keluarga di RT 03/07 terdampak langsung secara ekonomi. Hilangnya sumber penghasilan membuat ketersediaan bahan pangan warga mulai menipis.
Warga berharap pemerintah daerah segera menyalurkan bantuan darurat berupa beras dan kebutuhan pokok lainnya, serta mengirimkan alat berat untuk membuka akses jalan yang tertutup longsor. Mereka juga meminta perhatian serius bagi kelompok tani yang kini kehilangan sumber penghidupan.
“Yang paling kami butuhkan sekarang bantuan untuk makan dan membuka jalan. Pertanian sebagai sumber ekonomi warga benar-benar terhenti,” pungkas Cece.*** (RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
