Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Isu tentang listrik dan internet yang dikabarkan akan padam selama tujuh hari bukanlah sekadar kabar teknis. Ia menjelma menjadi fenomena sosial, psikologis, bahkan spiritual. Informasi semacam ini menyebar cepat, viral, dan memicu kegelisahan massal. Namun pertanyaan mendasarnya bukan hanya benar atau tidak, melainkan: mengapa narasi seperti ini mudah dipercaya, dan siapa yang diuntungkan dari ketakutan kolektif tersebut?
Dalam sejarah modern, pemadaman listrik dan gangguan komunikasi memang pernah terjadi—baik akibat bencana alam, konflik geopolitik, serangan siber, maupun kegagalan sistem. Tetapi klaim “mati total selama tujuh hari” tanpa penjelasan teknis yang terverifikasi sering kali lebih dekat pada narasi apokaliptik ketimbang analisis infrastruktur. Di sinilah problem epistemik bermula: masyarakat dibanjiri informasi, namun minim literasi verifikasi.
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan negativity bias—lebih mudah percaya pada kabar buruk daripada kabar baik. Ketika listrik dan internet disebut, yang terancam bukan sekadar fasilitas, tetapi rasa aman eksistensial. Dunia modern telah menjadikan energi dan konektivitas sebagai “urat nadi kehidupan”. Maka isu pemadaman menjadi alat efektif untuk mengguncang kestabilan batin publik.
Masalahnya menjadi lebih serius ketika narasi ini dikaitkan dengan “agenda elit global”, “rekayasa besar”, atau figur tertentu yang diposisikan sebagai pembawa wahyu rahasia. Di titik ini, informasi bergeser menjadi mitologi politik. Bukan lagi berbasis data, melainkan sugesti. Bukan lagi membangunkan kesadaran, tetapi menghipnosis massa.
Polanya mirip dengan praktik dukunisme modern: ramalan besar, waktu spesifik, ancaman masif, dan klaim memiliki akses pengetahuan eksklusif.
Secara sosiologis, narasi ketakutan kolektif berfungsi sebagai alat kontrol. Masyarakat yang takut cenderung reaktif, bukan reflektif. Dalam kondisi panik, nalar kritis melemah, dan otoritas palsu mudah mendapat panggung. Ini berbahaya, karena membuka ruang bagi manipulasi ekonomi, politik, bahkan spiritual. Ketakutan yang tidak dikelola akan melahirkan kepatuhan buta.
Namun dari perspektif spiritual, isu ini justru dapat dibaca sebagai cermin. Seberapa rapuhkah iman manusia modern sehingga hidupnya runtuh hanya karena listrik padam? Seberapa miskinkah batin kita hingga tanpa internet kita kehilangan makna? Jika tujuh hari tanpa teknologi saja dianggap kiamat, maka sesungguhnya yang sekarat bukan dunia, melainkan kesadaran manusia.
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa ketakutan terbesar manusia bukan pada hilangnya fasilitas, tetapi pada hilangnya arah hidup. Ketika manusia menggantungkan makna hidup pada sistem eksternal, ia menjadi budak sistem tersebut. Listrik dan internet hanyalah alat; ketika ia diposisikan sebagai penentu hidup-mati psikologis, maka terjadi penyimpangan tauhid modern—ketergantungan total pada selain Tuhan.
Ini bukan berarti kita menafikan kemungkinan krisis energi atau komunikasi.
Kewaspadaan rasional tetap perlu. Namun kewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Persiapan berbeda dengan paranoia. Sikap dewasa adalah menuntut data, otoritas resmi, dan analisis teknis, bukan tunduk pada bisik-bisik sensasional.
Pada akhirnya, isu tujuh hari tanpa listrik dan internet adalah ujian:
Apakah kita masyarakat yang kritis atau mudah digiring?
Apakah kita beriman atau hanya nyaman?
Apakah kita manusia merdeka atau konsumen ketakutan?
Jika listrik padam, lilin bisa dinyalakan.
Jika internet mati, percakapan bisa dihidupkan.
Namun jika akal sehat dan nurani mati, maka di situlah kegelapan sejati bermula.
Dan justru di tengah gelap itulah, manusia diuji: masihkah ia berpikir, beriman, dan berperikemanusiaan? (***)
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
