26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 30, 2026
Beranda blog Halaman 85

Upacara Harkitnas ke-118 Tingkat Kabupaten Sukabumi: Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara

0

Wartain.com – Pemerintah Kabupaten Sukabumi menggelar Upacara Peringatan ke-118 Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di Alun-alun Palabuhanratu, Rabu (20/5/2026). Upacara dipimpin langsung oleh Bupati Sukabumi, H Asep Japar, sementara komandan upacara adalah IPDA Tri Yuda Rinaldy Ruslan dari Polres Sukabumi.

Dalam amanat Menteri Komunikasi dan Digital RI yang dibacakan H Asep Japar, Meutya Viada Hafid menekankan bahwa semangat kebangkitan nasional harus terus hidup dan menyesuaikan tantangan zaman.

Menurutnya, Hari Kebangkitan Nasional yang berakar dari lahirnya Boedi Oetomo pada 1908 menjadi simbol perubahan perjuangan bangsa, dari perlawanan fisik menuju perjuangan intelektual dan diplomasi.

“Semangat 1908 adalah tonggak di mana perjuangan bangsa mulai melampaui sekat-sekat kedaerahan demi kedaulatan yang bermartabat,” kata Bupati membacakan sambutan menteri.

Ia menyebut tantangan bangsa kini telah bergeser. Jika dahulu perjuangan berfokus pada merebut kemerdekaan wilayah, maka saat ini Indonesia menghadapi pertarungan baru dalam menjaga kedaulatan informasi dan ruang digital.

Tema Harkitnas tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, disebut menjadi pengingat pentingnya perlindungan generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media digital.

Pemerintah, lanjutnya, telah menjalankan sejumlah program strategis nasional untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia. Mulai dari Program Makan Bergizi Gratis, pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, hingga layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat.

Di bidang ekonomi desa, pemerintah juga mendorong penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di tingkat desa. Program itu diharapkan mampu mendekatkan akses masyarakat terhadap pupuk, permodalan, distribusi hasil panen, hingga kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Tak hanya itu, isu perlindungan anak di ruang digital turut menjadi sorotan utama. Pemerintah disebut telah memberlakukan penuh Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP TUNAS.

Salah satu kebijakan yang mulai diterapkan sejak 28 Maret 2026 adalah penundaan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi.

“Kita ingin memastikan anak-anak sebagai tunas bangsa tumbuh di ruang digital yang sehat, aman, dan sesuai usia perkembangan mereka,” ujarnya.

Melalui momentum Harkitnas, pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari akademisi, praktisi, hingga generasi muda untuk kembali menyalakan semangat persatuan dan gotong royong ala Boedi Oetomo.

Menurutnya, kebangkitan nasional tidak hanya dimaknai sebagai peringatan sejarah, melainkan gerakan kolektif untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan literasi digital, dan memastikan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat luas.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Pemkab Sukabumi Peringati Harkitnas ke-118, Ajak Masyarakat Bangkit Membangun Sukabumi Mubarakah

0

Wartain.com – Pemerintah Kabupaten Sukabumi menyampaikan ucapan Selamat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 yang diperingati pada 20 Mei 2026. Momentum nasional tersebut menjadi pengingat penting akan semangat persatuan, perjuangan, dan kebangkitan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Dengan mengusung tema “Merawat Tunas Bangsa untuk Kedaulatan Negara”, Pemkab Sukabumi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat semangat gotong royong, menjaga persatuan, serta berkontribusi dalam pembangunan daerah dan bangsa.

Dalam ucapan resminya, Pemerintah Kabupaten Sukabumi menyampaikan harapan agar peringatan Hari Kebangkitan Nasional tidak hanya menjadi seremonial semata, tetapi juga menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.

“Mari bangkit bersama membangun Sukabumi yang Mubarakah, maju, unggul, berbudaya, dan penuh keberkahan bagi seluruh masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan Pemkab Sukabumi dalam momentum Harkitnas 2026.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap tahunnya menjadi refleksi atas lahirnya semangat nasionalisme dan persatuan bangsa yang ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

Semangat tersebut diharapkan terus hidup dalam kehidupan masyarakat sebagai landasan membangun Indonesia yang lebih kuat, mandiri, dan sejahtera.

Melalui peringatan Harkitnas ke-118 ini, Pemerintah Kabupaten Sukabumi juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga optimisme, mempererat solidaritas sosial, serta bersama-sama mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan demi kemajuan Kabupaten Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional: Jaga Keutuhan NKRI serta Persatuan dan Kesatuan Bangsa, Kawal Semua Program Presiden Prabowo melalui Asta Cita

0
Oplus_131072

Oleh : Aam Abdul Salam/ Presidium MD KAHMI Sukabumi/Sekjen PPJNA ’98

Wartain.com – 20 Mei selalu mengingatkan kita pada satu kata: bersatu. Pada 1908, para pemuda memilih menyatukan pikiran dan tenaga untuk melepaskan diri dari keterbelakangan.

Kini, semangat itu diuji oleh tantangan baru. Disinformasi, perpecahan sosial, dan ketimpangan ekonomi bisa melemahkan fondasi kebangsaan jika tidak ditangani bersama.

Keutuhan NKRI bukan hanya soal batas wilayah, tetapi juga soal menjaga kesatuan dalam berpikir dan bertindak sebagai satu bangsa. Perbedaan adalah kekayaan, bukan alasan untuk saling menjauh.

Presiden Prabowo Subianto menjadikan Asta Cita sebagai peta jalan pembangunan lima tahun ke depan. Program ini menyentuh sektor pangan, energi, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga pertahanan nasional.

Asta Cita dirancang untuk menjawab persoalan struktural yang menghambat kemajuan. Namun keberhasilan program ini bergantung pada dukungan dan pengawasan publik yang aktif.

Mengawal kebijakan negara berarti memastikan setiap program sampai ke tangan yang membutuhkan. Masyarakat berhak tahu, berhak bertanya, dan berhak memberikan masukan agar kebijakan tidak melenceng dari tujuan.

Persatuan dan kesatuan menjadi modal utama dalam mengawal pembangunan. Ketika masyarakat terpecah, energi bangsa akan habis untuk konflik internal, bukan untuk kemajuan.

Pemerintah pusat dan daerah harus membuka ruang partisipasi yang luas. Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci agar kepercayaan publik terhadap program pemerintah tetap terjaga.

Media, organisasi masyarakat, dan akademisi memiliki peran strategis sebagai penghubung antara pemerintah dan rakyat. Mereka bisa menyuarakan aspirasi sekaligus menyampaikan informasi yang objektif.

Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi momentum evaluasi. Sudahkah kebijakan yang dijalankan memperkuat persatuan? Sudahkah program pembangunan mengurangi kesenjangan antarwilayah dan antarkelompok?

Mengawal Asta Cita bukan berarti tanpa kritik. Kritik yang disampaikan dengan data dan solusi justru memperkuat arah kebijakan agar lebih tajam dan tepat sasaran.

Mari jadikan 20 Mei 2026 sebagai titik tolak kebangkitan yang inklusif. Dengan menjaga persatuan, merawat NKRI, dan bersama mengawal Asta Cita, kita memastikan Indonesia melangkah maju dengan pondasi yang kokoh.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Dari Budi Utomo ke Sukabumi 2026, Ketua PWI Kabupaten Sukabumi:  Menyalakan Kembali Api Kebangkitan Lewat Informasi

0
Oplus_131072

Oleh : Nuruddin Zain Syamsi/Ketua PWI Kabupaten Sukabumi

Wartain.com – Atas nama Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Sukabumi, saya mengucapkan Selamat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 kepada seluruh lapisan masyarakat.

Tanggal ini selalu mengingatkan kita pada semangat Budi Utomo tahun 1908. Sebuah gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa perubahan besar dimulai dari persatuan dan keberanian berpikir.

Makna kebangkitan itu tidak berhenti pada sejarah. Ia harus terus dihidupkan dalam konteks hari ini, terutama dalam membangun daerah dan bangsa yang lebih maju.

Di era informasi seperti sekarang, kebangkitan juga berarti keberanian melawan hoaks, disinformasi, dan apatisme. Masyarakat butuh ruang informasi yang sehat untuk membuat keputusan yang cerdas.

Di sinilah peran pers menjadi penting. Pers yang profesional dan bertanggung jawab adalah bagian dari proses kebangkitan bangsa, karena ia menjaga agar suara publik tetap terdengar dan kekuasaan tetap terkontrol.

PWI Kabupaten Sukabumi berkomitmen untuk menjaga marwah jurnalisme yang independen, berimbang, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Tanpa itu, demokrasi akan kehilangan salah satu penyeimbangnya.

Kami menyadari tantangan dunia pers semakin berat. Tekanan ekonomi media, derasnya arus media sosial, dan tuntutan kecepatan sering menguji integritas. Namun semangat kebangkitan nasional menuntut kami untuk tetap tegak pada kode etik.

Pembangunan Sukabumi tidak akan optimal tanpa keterbukaan informasi. Karena itu, pers siap menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah dan masyarakat.

Kebangkitan daerah terjadi ketika semua elemen mau bekerja bersama. Pemerintah membuka ruang, masyarakat berpartisipasi aktif, dan pers menjalankan fungsi kontrol serta edukasi dengan jujur.

Mari jadikan Hari Kebangkitan Nasional ini sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi, saling menguatkan demi kemajuan bersama.

Sekali lagi, selamat Hari Kebangkitan Nasional 2026. Mari bangkit bersama dengan pikiran yang terbuka, hati yang peduli, dan tanggung jawab yang nyata untuk Sukabumi dan Indonesia.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026: Bangkit untuk Peningkatan Kinerja dan Pertumbuhan Ekonomi

0
Oplus_131072

Oleh: Siti Ratna Maymunah, CEO http://Wartain.com

Wartain.com – 20 Mei 2026 kembali mengingatkan kita pada semangat Kebangkitan Nasional 1908. Ketika itu, sekelompok pemuda berani berpikir jauh ke depan: bahwa bangsa ini hanya bisa maju jika bersatu dan bergerak bersama.

Semangat itu tidak boleh berhenti menjadi seremoni tahunan. Di era sekarang, kebangkitan berarti keberanian meningkatkan kinerja di setiap lini, dari pemerintahan, dunia usaha, hingga masyarakat sipil.

Pertumbuhan ekonomi yang sehat tidak lahir dari angka-angka di atas kertas. Ia lahir dari produktivitas, inovasi, dan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan publik.

Pemerintah daerah memiliki peran kunci dalam menciptakan iklim yang kondusif. Birokrasi yang cepat, transparan, dan bebas dari pungli adalah prasyarat agar investasi dan usaha kecil bisa tumbuh.

Pelaku usaha pun dituntut adaptif. Mereka harus mampu membaca perubahan teknologi, menyesuaikan model bisnis, dan membuka lapangan kerja yang layak bagi masyarakat sekitar.

Di tengah itu semua, media memiliki tanggung jawab menjaga arus informasi tetap sehat. Informasi yang akurat dan konstruktif membantu masyarakat memahami kebijakan, mengawasi jalannya pembangunan, dan mengambil keputusan ekonomi yang tepat.

Kabupaten Sukabumi memiliki potensi besar di sektor pertanian, pariwisata, dan UMKM. Namun potensi itu belum maksimal jika infrastruktur, literasi digital, dan akses pasar belum ditangani serius.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi momentum evaluasi. Sudahkah program-program pembangunan benar-benar meningkatkan daya saing daerah? Sudahkah anggaran digunakan untuk hal yang produktif?

Kinerja birokrasi dan BUMD perlu diukur bukan hanya dari serapan anggaran, tetapi dari dampaknya terhadap pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu bangkit dari mental konsumtif menjadi produktif. Literasi keuangan, kewirausahaan, dan keterampilan digital harus menjadi bagian dari gerakan kebangkitan hari ini.

Sinergi adalah kata kunci. Tanpa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan media, pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi wacana tanpa hasil nyata.

Mari jadikan 20 Mei 2026 sebagai titik tolak. Bangkitkan kinerja, percepat pertumbuhan, dan pastikan hasilnya dirasakan seluruh masyarakat Sukabumi. Karena kebangkitan yang sesungguhnya adalah ketika ekonomi bergerak, dan kesejahteraan ikut naik.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Rumah Literasi Merah Putih, Ucapkan Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2026

0

Oleh : Dede Heri/ Sekjen Rumah Literasi Merah Putih

Wartain.com – Kebangkitan nasional bukan hanya tentang mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga tentang keberanian membangkitkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat hari ini. Di tengah semangat membangun Indonesia yang maju, masih banyak pembangunan di Kabupaten Sukabumi yang terbengkalai dan belum dirasakan manfaatnya secara maksimal oleh masyarakat.

Gedung mangkrak, infrastruktur yang lambat diselesaikan, hingga fasilitas publik yang belum optimal menjadi pekerjaan rumah bersama. Pembangunan seharusnya bukan sekadar proyek, tetapi wujud nyata pelayanan dan keberpihakan kepada rakyat.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak cukup hanya dengan seremoni, melainkan membutuhkan keseriusan, pengawasan, transparansi, dan keberanian mengambil langkah nyata demi kepentingan masyarakat.

Rumah Literasi Merah Putih mengajak seluruh elemen pemerintah, pemuda, akademisi, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya kritis, peduli, dan solutif. Kritik bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengingatkan agar pembangunan di Kabupaten Sukabumi benar-benar membawa manfaat dan tidak meninggalkan persoalan baru.

Mari bangkit bersama.
Bangkit pikirannya, bangkit kepeduliannya, dan bangkit tanggung jawabnya demi Sukabumi yang lebih maju, adil, dan bermartabat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Makna Hari Kebangkitan Nasional: Bangkit dari Kesadaran, Bukan Sekadar Peringatan

0

Oleh : Hilman Nulhakim/Kepala Desa Pawenang/Ketum Rajapati

Wartain.com – Setiap 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal itu dipilih untuk mengenang berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, organisasi modern pertama yang menyuarakan persatuan bangsa di luar batas kesukuan dan kedaerahan.

Makna paling dasar dari kebangkitan nasional adalah lahirnya kesadaran kolektif. Sebelum 1908, perlawanan terhadap kolonialisme bersifat lokal dan sporadis. Budi Utomo mengubah itu menjadi gerakan yang punya visi kebangsaan.

Kebangkitan bukan dimulai dari senjata, tapi dari gagasan. Para pendiri Budi Utomo adalah pelajar dan intelektual Jawa yang menyadari bahwa kemajuan hanya bisa dicapai jika bangsa ini bersatu dalam pendidikan dan organisasi.

Makna itu masih relevan hari ini. Kebangkitan tidak selalu berarti perang fisik. Di era modern, kebangkitan berarti keberanian berpikir kritis, berinovasi, dan keluar dari zona nyaman komunal menuju kepentingan nasional.

Hari Kebangkitan Nasional mengingatkan kita bahwa persatuan tidak datang dengan sendirinya. Ia dibangun melalui kesadaran bahwa perbedaan suku, agama, dan daerah tidak boleh menjadi penghalang untuk bergerak bersama.

Pada 1908, tantangan utamanya adalah buta huruf dan dominasi kolonial. Hari ini tantangannya bergeser: disrupsi teknologi, banjir informasi, krisis iklim, dan persaingan ekonomi global. Tapi logikanya sama—bangsa yang tidak bangkit akan tertinggal.

Kebangkitan nasional juga berarti kebangkitan karakter. Budi Utomo menanamkan nilai gotong royong, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai itu menjadi fondasi yang lebih penting dari sekadar infrastruktur fisik.

Bagi generasi muda, peringatan ini adalah ajakan untuk tidak menjadi penonton. Kebangkitan bangsa hari ini bergantung pada seberapa besar anak muda mau terlibat dalam riset, wirausaha, politik yang sehat, dan penguatan budaya.

Makna kebangkitan juga terletak pada kemandirian. Bangsa yang bangkit adalah bangsa yang tidak mudah bergantung pada pihak luar untuk menentukan arah ekonominya. Hilirisasi, industrialisasi, dan penguatan SDM adalah bentuk nyata kebangkitan itu.

Namun kebangkitan tidak bisa dipaksakan dari atas. Ia harus tumbuh dari bawah, dari sekolah, kampus, desa, dan komunitas. Negara bertugas membuka ruang, masyarakat yang mengisinya dengan kerja nyata.

Hari Kebangkitan Nasional juga menjadi cermin untuk mengevaluasi. Sudah sejauh mana kita benar-benar bersatu? Apakah perpecahan identitas masih lebih kuat dari identitas kebangsaan? Pertanyaan itu harus dijawab dengan jujur.

Kebangkitan bukan nostalgia. Mengenang 1908 bukan untuk hidup di masa lalu, tapi untuk mengambil semangatnya: berani bermimpi besar, berani berorganisasi, dan berani menghadapi risiko demi masa depan bangsa.

Dalam konteks global, kebangkitan nasional adalah soal daya saing. Bangsa yang bangkit adalah bangsa yang bisa bersaing dalam teknologi, ekonomi kreatif, dan diplomasi. Tanpa itu, kedaulatan hanya menjadi jargon.

Makna terdalamnya adalah tanggung jawab. Setiap generasi mendapat tugas kebangkitannya sendiri. Generasi 1908 melawan kebodohan dan penjajahan. Generasi hari ini dituntut melawan korupsi, apatisme, dan ketergantungan.

Hari Kebangkitan Nasional bukan libur untuk berhenti, tapi pengingat untuk bergerak. Bangkit berarti tidak puas dengan keadaan. Bangkit berarti memilih untuk membangun, bukan merusak. Dan bangkit berarti percaya bahwa Indonesia masih bisa menjadi lebih baik, asal kita mau bekerja bersama.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Terlihat Kaya di Media Sosial, Namun Realitas Finansial Banyak yang Rapuh

0

Oleh : Dede Heri/Sekjen Rumah Literasi Merah Putih

Wartain.com — Fenomena gaya hidup digital semakin marak di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat berbagi aktivitas, tetapi juga ajang membangun citra diri. Tidak sedikit orang berlomba-lomba tampil mewah demi mendapat pengakuan sosial, meski kondisi keuangan sebenarnya jauh dari kata stabil.

Dalam kehidupan digital saat ini, ukuran kesuksesan kerap dinilai dari tampilan luar. Mulai dari pakaian bermerek, nongkrong di tempat elit, gawai terbaru, hingga liburan yang dipamerkan di media sosial dianggap sebagai simbol keberhasilan. Padahal, di balik unggahan tersebut, sebagian orang justru sedang menghadapi tekanan ekonomi dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Fenomena ini menjadi perhatian karena gaya hidup konsumtif perlahan mendorong masyarakat, terutama Gen Z, lebih mengutamakan gengsi dibanding kebutuhan pokok. Keinginan untuk terlihat “mapan” membuat sebagian orang rela memaksakan keadaan finansial demi mengikuti tren digital.

Pengamat sosial menilai, media sosial menciptakan tekanan psikologis yang besar. Banyak anak muda merasa harus tampil sempurna agar dianggap berhasil oleh lingkungan sekitarnya. Akibatnya, muncul perilaku konsumtif yang tidak seimbang dengan kemampuan ekonomi.

Kemudahan akses belanja digital, layanan pembayaran instan, hingga budaya flexing di internet semakin memperkuat pola hidup konsumtif tersebut. Tidak sedikit masyarakat akhirnya mengorbankan kestabilan keuangan hanya demi mempertahankan citra di media sosial.

Ironisnya, kehidupan yang terlihat mewah di internet sering kali tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Sebagian orang rela menutupi kesulitan ekonomi demi menjaga penampilan di ruang digital. Fenomena “terlihat kaya di media sosial namun rapuh secara finansial” kini menjadi realitas yang semakin sering ditemukan di masyarakat modern.

Pakar literasi keuangan mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kemampuan mengelola keuangan dinilai menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam budaya konsumtif yang hanya mengejar pengakuan sosial semata.

Selain itu, masyarakat juga diimbau lebih bijak menggunakan media sosial. Kehidupan sederhana namun stabil secara ekonomi dinilai jauh lebih penting dibanding pencitraan yang dipaksakan.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, literasi keuangan dan kesadaran hidup realistis menjadi tantangan besar bagi generasi masa kini. Tanpa pengendalian diri, budaya “ingin terlihat kaya” dikhawatirkan akan terus memengaruhi pola pikir dan kehidupan sosial masyarakat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Dasco dan Rosan ke BEI, Aktivis: Sinyal Kuat Negara Jaga Ekonomi

0
Oplus_131072

Wartain.com – Langkah Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mendapat apresiasi aktivis nasional. Kehadiran keduanya dinilai bukan sekadar simbol politik, melainkan bentuk konsolidasi elite negara untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

Ketua PPJNA 98, Anto Kusumayuda, mengatakan langkah itu menunjukkan keseriusan pemerintah dan pimpinan parlemen membaca situasi ekonomi yang berat. Tekanan nilai tukar rupiah, dinamika geopolitik, dan ketidakpastian pasar internasional disebut menjadi latar belakangnya.

“Dasco menunjukkan pemimpin politik tidak boleh hanya bicara kekuasaan. Ketika ekonomi tertekan, beliau hadir langsung bersama Pak Rosan ke BEI. Ini pesan kuat bahwa negara tidak tinggal diam menjaga kepercayaan pasar,” ujar Anto, Selasa (19/5/2026).

Menurut Anto, pasar tidak hanya membaca angka, tapi juga membaca gesture politik dan soliditas elite. Kehadiran Dasco yang mewakili kekuatan politik dan Rosan yang mewakili kekuatan ekonomi dinilai memberi sinyal bahwa negara satu suara.

“Kalau politik dan ekonomi solid, Indonesia punya peluang besar menghadapi tekanan global,” katanya.

Anto juga mengingatkan agar langkah ini tidak berhenti pada simbol. Ia mendorong pemerintah segera menindaklanjuti dengan kebijakan konkret untuk memperkuat hilirisasi, menjaga cadangan devisa, dan meredam kepanikan publik.

“Ketika pemimpin hadir langsung di pusat ekonomi seperti BEI, itu memberi keyakinan bahwa negara hadir menjaga keadaan,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Hari Kebangkitan Nasional: Uji Nyali Generasi Muda di Tengah Tantangan Zaman

0
Oplus_131072

Oleh : Dadang Sahroni/ Warek I UMN Sukabumi, Presidium MD KAHMI Sukabumi

Wartain.com – Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118 pada Selasa, 20 Mei 2026. Momen ini menjadi pengingat semangat persatuan yang pertama kali digelorakan oleh berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

Hari Kebangkitan Nasional ditetapkan pemerintah sebagai hari bersejarah untuk mengenang awal pergerakan nasional yang melampaui batas suku, agama, dan daerah. Budi Utomo menjadi organisasi modern pertama yang menyuarakan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Tema dan Makna 2026

Setiap tahun, pemerintah menetapkan tema peringatan untuk mengarahkan semangat kebangkitan sesuai tantangan zaman. Tema tahun ini fokus pada penguatan persatuan, inovasi teknologi, dan peran generasi muda dalam membangun Indonesia.

Peringatan bukan sekadar upacara seremonial. Maknanya adalah mendorong seluruh elemen bangsa untuk bangkit menghadapi tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga ketahanan ekonomi.

Upacara di Berbagai Daerah

Upacara bendera digelar serentak di tingkat pusat, provinsi, kabupaten, dan kota. Instansi pemerintah, sekolah, dan organisasi masyarakat turut mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang jika jatuh pada hari libur, atau penuh jika hari kerja.

Di Jawa Barat, sejumlah daerah seperti Bandung, Bogor, dan Sukabumi menggelar upacara dengan peserta dari pelajar, ASN, TNI, dan Polri. Pembacaan teks Kebangkitan Nasional dan pidato seragam dari Menteri Komunikasi dan Digital menjadi agenda utama.

Refleksi untuk Generasi Muda

Ketua MPR RI dalam pesannya menekankan bahwa semangat kebangkitan harus diwarisi generasi muda lewat karya nyata. “Bangkit bukan hanya soal masa lalu. Hari ini, kebangkitan berarti berani berinovasi, menjaga persatuan, dan berkontribusi untuk Indonesia maju,” ujarnya.

Hari Kebangkitan Nasional berbeda dengan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Jika 17 Agustus merayakan proklamasi, 20 Mei merayakan bangkitnya kesadaran kolektif bangsa untuk merdeka.

Pemerintah mengajak masyarakat mengibarkan bendera Merah Putih dan mengikuti rangkaian kegiatan yang digelar di daerah masing-masing.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)