26.7 C
Jakarta
Jumat, April 24, 2026

Latest Posts

Aksi Tolak UU TNI di Sukabumi Diwarnai Bentrokan Mahasiswa dan Jurnalis

Wartain.com || Insiden bentrokan antara mahasiswa dan jurnalis mewarnai aksi demonstrasi menolak pengesahan UU TNI di Kota Sukabumi. Kericuhan terjadi akibat kesalahpahaman terkait peliputan jurnalistik, yang berujung pada perlakuan tidak menyenangkan terhadap wartawan yang sedang bertugas.

Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Sukabumi, Apit Haeruman, mengungkapkan bahwa kejadian bermula saat jurnalis mendokumentasikan proses evakuasi seorang mahasiswa yang pingsan di tengah aksi. Beberapa mahasiswa yang tidak diketahui identitasnya kemudian melontarkan kata-kata kasar dan berusaha menghalangi peliputan.

“Teman-teman kami hanya menjalankan tugas jurnalistik, tetapi ada mahasiswa yang berteriak dan bahkan menarik tas salah satu wartawan,” ujar Apit, Kamis (20/3/2025) malam.

Situasi semakin memanas ketika Apit mencoba menegur mahasiswa yang diduga melakukan tindakan tersebut. Ketegangan berujung pada bentrokan fisik, di mana Apit sendiri sempat menjadi korban kekerasan.

“Saya sempat dicekik dalam insiden itu. Tapi saya anggap ini sebagai situasi chaos yang tidak terkendali,” katanya.

Menurut Apit, kejadian ini mencerminkan kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai kode etik jurnalistik dan hak jurnalis dalam meliput peristiwa di ruang publik. Ia menegaskan bahwa kerja pers dilindungi oleh undang-undang dan bertujuan untuk menyebarluaskan informasi, termasuk menyuarakan aspirasi mahasiswa.

“Kami bukan musuh mereka. Justru kami membantu menyuarakan perjuangan mereka agar lebih luas terdengar,” tegasnya.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama, dan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Andri Moewashi Idharoel Haq, menilai insiden ini menunjukkan perlunya edukasi lebih lanjut bagi mahasiswa mengenai peran dan hak jurnalis.

“Saya rasa banyak mahasiswa yang tidak tahu bahwa media memiliki perlindungan hukum saat meliput di ruang publik. Tidak ada yang boleh menghalangi mereka,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kebebasan berekspresi tetap harus diiringi dengan etika yang baik dalam menyampaikan aspirasi.

“Demokrasi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bersuara, tetapi nilai-nilai kesopanan harus tetap dijaga. Jangan sampai emosi menguasai dan menyebabkan tindakan yang merugikan,” katanya.

Setelah insiden ini, perwakilan mahasiswa akhirnya bertemu dengan jurnalis dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Kedua belah pihak sepakat untuk menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran agar aksi-aksi ke depan bisa berjalan lebih tertib dan tetap menghormati kebebasan pers.

“Kami harap ada edukasi lebih lanjut agar mahasiswa memahami pentingnya kebebasan pers dan kode etik jurnalistik. Dengan begitu, kejadian seperti ini tidak akan terulang,” tutup Andri.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.