26.7 C
Jakarta
Selasa, Juli 7, 2026
Beranda blog Halaman 158

Matangkan Persiapan MTQ Ke-47, KUA Bojonggenteng Gelar Rakor Bersama Forkopimcam

0

Wartain.com || Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-47 Tingkat Kabupaten Sukabumi Tahun 2026, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bojonggenteng bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) menggelar rapat lanjutan untuk mematangkan agenda secara maksimal, Kamis (16/4/2026).

Rapat yang berlangsung di Auditorium Kantor KUA Bojonggenteng ini dihadiri unsur Forkopimcam, yaitu Sekmat Bojonggenteng Saepurnama, S.Ip., M.Si., Kepala KUA Bojonggenteng H. Asep Irwan Iskandar, S.Ag., M.H., Ketua MUI Kecamatan Bojonggenteng Dadan Ramdani, S.Pd., Tim Seleksi Arif Rahman, S.Pd., Penais KUA Bojonggenteng Saepul Hidayat, S.Pd.I., M.M. dan Endin Sa’aduddin, S.H., serta unsur lainnya.

Fokus utama pembahasan berkaitan dengan persiapan penuh dalam mensosialisasikan informasi, komunikasi, dan konsolidasi proses seleksi peserta ke semua lembaga formal yang memiliki potensi di setiap cabang mata lomba MTQ tingkat Kabupaten Sukabumi. Hal teknis terkait logistik dan persiapan tahapan seleksi secara transparan dan akuntabel juga dibahas dalam rapat.

Sekmat Bojonggenteng, Saepurnama, S.Ip., M.Si., mengungkapkan bahwa rapat ini membangun kesiapan bersama dalam kerangka menyamakan visi dan persepsi untuk mempersiapkan kafilah terbaik.

“Hasil dari kolaborasi kolektif kolegial ini menjadi representasi Forkopimcam Kecamatan Bojonggenteng secara keseluruhan yang kompak dan solid,” ungkapnya.

Matangkan Persiapan MTQ Ke-47, KUA Bojonggenteng Gelar Rakor Bersama Forkopimcam (foto : Asep)

Sementara itu,  Kepala KUA Bojonggenteng, H. Asep Irwan Iskandar, S.Ag., M.H., menegaskan bahwa persiapan yang matang merupakan kunci utama dalam meraih hasil terbaik.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap peserta yang diutus benar-benar siap, tidak hanya dari segi kemampuan tilawah, tetapi juga pemahaman dan mental bertanding. Ini bagian dari ikhtiar bersama agar Bojonggenteng dapat tampil optimal dan membanggakan,” tegas Kepala KUA.

Ia juga menambahkan bahwa sinergi antara KUA, pemerintah kecamatan, dan seluruh unsur Forkopimcam menjadi kekuatan penting dalam membangun pembinaan yang berkelanjutan.

“Kolaborasi ini bukan sekadar persiapan lomba, tetapi juga bagian dari upaya membina generasi Qur’ani yang berkarakter dan berkontribusi positif di tengah masyarakat,” tambahnya.

Adapun sejumlah poin penting yang disepakati dalam rapat tersebut meliputi pelaksanaan seleksi mandiri di tingkat kecamatan yang akan dilaksanakan di halaman kantor KUA Bojonggenteng dengan melibatkan semua unsur stakeholder, peningkatan kredibilitas bagi calon kafilah, serta penguatan koordinasi antar instansi guna mendukung seluruh tahapan persiapan.

Dengan persiapan yang terencana dan sinergi yang solid, Kafilah Bojonggenteng diharapkan mampu menorehkan prestasi gemilang pada ajang MTQ Ke-47 tingkat Kabupaten Sukabumi mendatang.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Polemik di Media Sosial, Abah Ugi Tempuh Jalur Hukum atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

0

Wartain.com || Polemik yang terjadi di media sosial berujung pada langkah hukum. Pimpinan Adat Kasepuhan Cipta Gelar, Abah Ugi, melalui kuasa hukumnya Diren Pandimas, S.H., dengan didampingi Ketua Pangauban Rahayat Buhun Apriandi serta penasihat Jaro Edik, secara resmi melaporkan sebuah akun Facebook ke pihak kepolisian atas dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik.

Laporan tersebut telah diajukan ke Polres Sukabumi, sebagaimana disampaikan langsung oleh kuasa hukum Diren Pandimas, S.H., yang membenarkan langkah hukum yang ditempuh oleh kliennya, Abah Ugi, pada Rabu (15/04/2026).

“Hari ini saya menerima surat kuasa khusus dari orang yang saya hormati dan saya anggap sebagai orang tua saya sendri yaitu Abah Ugi untuk melaporkan adanya dugaan tindak pidana penghinaan dan pencemaran nama baik di media sosial facebook sebagaimana di atur dalam Pasal 310 KUHP dan Pasal 27A jo. Pasal 45 ayat (4) UU 1/2024,” ungkapnya.

Diren juga menambahkan, bahwa abah merasa komentar di Facebook tersebut tidak benar, dan selaku kuasa hukum ia menganalisis bahwa terlapor telah menyerang kehormatan atau nama baik abah.

“Ya abah merasa bahwa komentar di Facebook tersebut tidak benar, saya selaku kuasa hukum menganalisa bahwa terlapor telah menyerang kehormatan atau nama baik abah,” tambahnya.

Diren juga menegaskan kepada pihak kepolisian di Polres Sukabumi bahwa apabila dalam waktu 3×24 jam pelaku belum berhasil diamankan, maka pihaknya bersama jajaran kasepuhan akan mengambil langkah penindakan sesuai dengan ketentuan hukum adat yang berlaku.

“Ketika raja kami di usik maka urusannya sampai cucu cicit, dan sampai keliang lahat pun kami akan cari anda,” tegas Diren.

Kronologis awal bermula saat Abah Ugi menerima informasi dari masyarakat mengenai adanya komentar bernada tidak baik di platform Facebook yang ditujukan kepadanya oleh akun atas nama Bah Enden Sudendi. Abah Ugi menilai komentar tersebut tidak benar dan mengarah pada dirinya, sehingga ia merasa nama baiknya telah dicemarkan.

Kini kasusnya telah ditangani oleh pihak aparat penegak hukum Polres Sukabumi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Stunting di Ciamis Belum Ideal, Dokter Anak Dorong Konsumsi Protein Hewani

0
Oplus_131072

Wartain.com || Peringatan Hari Balita Nasional 2026 yang mengusung tema “Balita Sehat, Generasi Hebat: Cegah Stunting, Optimalkan Tumbuh Kembang” menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak dini.

Hal tersebut disampaikan dalam sebuah podcast yang digelar di RSUD Ciamis, Kamis (16/4/2026), bersama dokter spesialis anak dr. Hj. Suherjati, Sp.A yang akrab disapa “Oma Dokter”. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya edukasi serta perubahan pola pikir masyarakat sebagai kunci utama menekan angka stunting.

Dokter yang telah berpraktik selama lebih dari tiga dekade dan bertugas di RSUD Ciamis sejak 2003 tersebut mengungkapkan, angka stunting di Kabupaten Ciamis masih berada di kisaran 20 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Barat yang berada di angka sekitar 15 persen.

“Dengan potensi yang dimiliki, seharusnya Ciamis bisa menekan angka stunting lebih rendah, bahkan di bawah 15 persen. Namun, kita masih menghadapi tantangan dari sisi budaya dan kebiasaan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah masih rendahnya konsumsi protein hewani pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia dini. Ia menyebut masih adanya kepercayaan yang keliru di masyarakat, seperti anggapan bahwa konsumsi ikan dapat berdampak buruk bagi kesehatan ibu.

“Masih ada yang bertanya apakah ibu menyusui boleh makan ikan. Padahal itu sangat penting. Informasi seperti itu tidak benar dan harus diluruskan,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut cukup ironis mengingat Ciamis memiliki potensi sumber pangan yang melimpah, seperti peternakan ayam serta ketersediaan ikan yang mudah dijangkau. Bahkan, banyak rumah tangga memiliki kolam ikan, namun konsumsi ikan masih belum optimal.

“Ini menunjukkan masalahnya bukan pada ketersediaan, tapi pada pola konsumsi dan pemahaman masyarakat,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peran ibu sangat menentukan dalam tumbuh kembang anak, terutama sejak masa kehamilan hingga menyusui. Hubungan antara ibu dan anak, kata dia, memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam aspek kesehatan dan nutrisi.

“Intervensi pencegahan stunting harus dimulai sejak calon ibu, masa kehamilan, hingga masa menyusui. Asupan nutrisi, khususnya protein hewani, sangat berpengaruh,” jelasnya.

Selain itu, peran keluarga, khususnya ibu dan nenek, juga dinilai penting dalam menentukan pola makan anak. Oleh karena itu, edukasi harus terus dilakukan secara berkelanjutan, terutama kepada kelompok usia lanjut yang masih memegang kuat kepercayaan tradisional.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap optimistis angka stunting dapat ditekan apabila didukung dengan kebijakan yang tepat serta edukasi yang masif dan berkelanjutan.

“Indonesia memiliki sumber daya pangan yang sangat melimpah. Tinggal bagaimana kita mengelola dan memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ape/Biro Ciamis)

Disdik Jabar Gandeng Marinir TNI AL, 123 Ruang Kelas Siap Direhab

0
Oplus_131072

Wartain.com || Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat (Jabar) bersama Korps Marinir TNI AL menandatangani kerja sama program rehabilitasi ruang kelas, Selasa (14/4/2026).

Sebanyak 123 ruang kelas di berbagai wilayah di Jabar akan segera diperbaiki untuk menghadirkan sarana belajar yang lebih aman, nyaman, dan layak bagi para siswa dalam mendukung proses pembelajaran yang optimal.

Brigjen TNI (Mar) Jasiman Purba menyampaikan, kolaborasi ini merupakan sebuah kehormatan, sekaligus komitmen untuk melaksanakan pembangunan dengan kualitas yang baik dan bertanggung jawab. Pihaknya siap mengerahkan personel untuk memastikan proses rehabilitasi berjalan tepat waktu dan sesuai standar.

Sedangkan Kadisdik Jabar, Purwanto, menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya merealisasikan prioritas gubernur di bidang sarana pendidikan. “Dengan harapan ruang kelas yang telah direhabilitasi dapat segera digunakan pada tahun ajaran baru,” ujarnya.

Purwanto menambahkan, kondisi ruang kelas yang layak menjadi kunci utama peningkatan mutu pembelajaran. Karena itu, Disdik Jabar mendorong percepatan perbaikan agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Program rehabilitasi ini menyasar ruang kelas yang mengalami kerusakan sedang hingga berat. Data teknis dan titik lokasi telah diverifikasi bersama antara Disdik Jabar dan Korps Marinir sebelum penandatanganan kerja sama dilakukan.

Sinergi bersama, menghadirkan pendidikan yang lebih baik untuk Jawa Barat Istimewa.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Skrining TBC Digencarkan di Bantaragung, Puluhan Warga Diperiksa

0

Wartain.com || Upaya percepatan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan melalui kegiatan skrining yang melibatkan berbagai pihak. Kali ini, kegiatan skrining TBC digelar di wilayah Jampang Tengah tepatnya di Desa Bantaragung dengan dukungan yayasan serta kolaborasi bersama Kementerian Kesehatan dan pemerintah provinsi, Kamis (16/04/2026).

Dokter Puskesmas Jampang Tengah, Fitriya Yulianti Fauziah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini kasus TBC di masyarakat, baik pada warga yang memiliki gejala maupun yang tidak bergejala.

“Hari ini kita melaksanakan skrining TBC. Target kita tentu Indonesia bebas TBC, mudah-mudahan ke depan bisa tercapai nol kasus. Skrining ini menyasar pasien yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC maupun masyarakat umum,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, warga mendapatkan fasilitas pemeriksaan secara lengkap, mulai dari skrining awal, rontgen dada, hingga pemeriksaan lanjutan seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) melalui sampel dahak. Khusus anak-anak, juga dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti tes mantoux.

Hingga pelaksanaan hari ini, tercatat sebanyak 73 orang telah menjalani pemeriksaan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring masih adanya warga yang belum diperiksa.

“Alhamdulillah hari ini kita sudah melayani 73 orang, dan masih ada yang belum diperiksa. Dari hasil sementara, ditemukan sekitar lima orang yang terkonfirmasi positif TBC,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, kegiatan ini sangat penting mengingat masih sulitnya menemukan kasus TBC di masyarakat, terutama pada individu tanpa gejala. Dengan skrining aktif seperti ini, diharapkan kasus-kasus terduga dapat segera ditemukan dan ditangani lebih cepat.

“Harapannya, baik yang bergejala maupun tidak bergejala bisa kita temukan. Jika terkonfirmasi, pengobatan bisa segera dilakukan sehingga rantai penularan dapat diputus,” jelasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan TBC dengan menerapkan perilaku hidup sehat, salah satunya dengan menggunakan masker.

“Penularan TBC terjadi melalui udara, terutama dari percikan dahak penderita. Kadang terlihat sehat, tidak bergejala, tapi ternyata positif. Maka penting bagi masyarakat untuk tetap memakai masker dan menjaga kesehatan,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

DP3A Sukabumi Tanggapi Laporan Dugaan Rudapaksa dan Pernikahan Dini, UPTD PPA Lakukan Pendampingan Korban

0

Wartain.com || Seorang perempuan berinisial IJ melaporkan mantan suami sirinya, H, ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Sukabumi pada Selasa (14/4/2026). Laporan tersebut mencakup dugaan tindak pidana rudapaksa serta pernikahan di bawah umur yang diduga dilakukan oleh terlapor.

Kasus ini mencuat ke publik setelah sebelumnya terjadi insiden penganiayaan terhadap Ardhi Pebrian Fadilah (24) di Jalan Raya Cisolok–Palabuhanratu pada Selasa (7/4/2026).

Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detikcom, H diduga sebagai pelaku pemukulan terhadap korban, yang dipicu oleh tuduhan perselingkuhan antara Ardhi dan IJ.

Kepala DP3A melalui Kepala UPTD PPA Wilayah Palabuhanratu, Wulandari, SE., M.Si, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima aduan dari IJ dan langsung menindaklanjutinya melalui sejumlah tahapan pendampingan.

“UPTD PPA Wilayah Palabuhanratu telah melakukan penjangkauan kasus untuk memastikan keberadaan korban serta berkoordinasi dengan pihak kecamatan,” ujarnya, Kamis (16/04/2026).

Selain itu, pihaknya juga melakukan kunjungan ke RSUD Palabuhanratu, mengingat saat ini korban sedang berada di rumah sakit untuk menjaga ayahnya.

Pendampingan juga diberikan saat korban melaporkan kasus tersebut ke Polres Sukabumi, termasuk saat bertemu dengan kuasa hukum yang ditunjuk oleh keluarga. UPTD PPA juga telah menawarkan layanan psikologis kepada korban sebagai bagian dari proses pemulihan.

Layanan tersebut awalnya dijadwalkan pada Kamis (16/4/2026), namun pelaksanaannya masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari pihak kuasa hukum terkait waktu dan tempat.

Wulandari menegaskan bahwa untuk kasus yang melibatkan H dan korban penganiayaan Ardhi Pebrian Fadilah (24), penanganannya menjadi kewenangan aparat penegak hukum (APH).

“Permasalahan antara H dan APF merupakan ranah APH. Sementara itu, UPTD PPA memiliki fokus pada perlindungan perempuan dan anak,” jelasnya.

Pihaknya memastikan akan terus memberikan pendampingan kepada IJ sesuai dengan tugas dan fungsi lembaga, terutama dalam aspek perlindungan dan pemulihan korban.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Derbi Nusantara di Gelora Joko Samudro: Garuda Muda Bidik Kemenangan Beruntun

0

Wartain.com || Stadion Gelora Joko Samudro bersiap menjadi saksi bisu duel sarat gengsi antara Timnas Indonesia U-17 melawan Malaysia dalam lanjutan fase grup ASEAN U-17 Boys’ Championship 2026. Laga yang dijadwalkan kick-off pada Kamis (16/4/2026) pukul 19.30 WIB ini diprediksi akan berjalan dengan tensi tinggi mengingat sejarah rivalitas panjang kedua negara di kancah sepak bola Asia Tenggara.

Indonesia menatap laga ini dengan modal yang sangat positif setelah tampil dominan pada pertandingan sebelumnya. Skuad Garuda Muda sukses mengandaskan perlawanan Timor Leste dengan skor meyakinkan 4-0. Ketajaman lini depan dan solidnya koordinasi di sektor pertahanan menjadi senjata utama yang akan kembali diandalkan oleh tim pelatih dalam upaya mengamankan poin penuh malam nanti.

Di sisi lain, Malaysia datang ke Gresik dengan kondisi mental yang sedang teruji. Tim berjuluk Harimau Malaya muda tersebut baru saja menelan pil pahit setelah dihantam Vietnam dengan skor telak 4-0 pada laga perdana mereka. Kekalahan tersebut memaksa Malaysia tampil habis-habisan saat melawan Indonesia demi menjaga asa mereka untuk tetap bertahan di turnamen ini.

Secara taktis, Indonesia diperkirakan akan langsung menekan sejak menit awal guna memanfaatkan celah di lini belakang Malaysia yang tampak rapuh di laga sebelumnya. Dukungan penuh dari ribuan suporter tuan rumah yang memadati stadion diharapkan menjadi pemain ke-12 bagi Garuda Muda untuk meruntuhkan kepercayaan diri pemain lawan sejak peluit pertama dibunyikan.

Kendati berada di atas angin, pelatih Timnas Indonesia U-17 mengingatkan anak asuhnya untuk tidak jemawa. Malaysia tetaplah lawan yang berbahaya, terutama ketika mereka berada dalam posisi terdesak. Fokus dan disiplin posisi menjadi kunci utama agar gawang Indonesia tetap perawan sekaligus memperlebar peluang lolos otomatis ke babak semifinal sebagai juara grup.

Bagi masyarakat Indonesia yang tidak dapat hadir langsung di Gresik, perjuangan Garuda Muda dapat disaksikan melalui layar kaca. Pertandingan ini akan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi Indosiar dan juga tersedia melalui layanan live streaming di platform Vidiosports tepat pada pukul 19.30 WIB.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Disnakertrans Sukabumi Terima Audiensi GSBI, Siap Fasilitasi Penyelesaian Hak Eks Karyawan PT TML

0

Wartain.com || Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sukabumi menerima audiensi dari serikat buruh yang tergabung dalam GSBI Kabupaten Sukabumi terkait persoalan belum dibayarkannya hak pesangon eks karyawan PT Tirta Mas Lestari (TML), Rabu (15/4/2026).

Dalam audiensi tersebut Kepala Disnakertrans mendelegasikan untuk diterima oleh jajaran Disnakertrans yang diwakili Sekretaris Dinas dan Kepala Bidang Hubungan Industrial. Dalam pertemuan itu, GSBI menyampaikan aspirasi serta harapan agar pemerintah daerah turut mendorong penyelesaian hak-hak pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pihak Disnakertrans Kabupaten Sukabumi menyampaikan apresiasi atas penyampaian aspirasi yang dilakukan secara dialogis. Disnakertrans menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti persoalan tersebut sesuai dengan kewenangan yang dimiliki.

“Kami menerima dan mencatat seluruh aspirasi yang disampaikan. Pada prinsipnya, Disnakertrans siap memfasilitasi dan mengkomunikasikan permasalahan ini dengan pihak-pihak terkait,” ujar perwakilan Disnakertrans dalam audiensi tersebut.

Lebih lanjut, Disnakertrans akan berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Perizinan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Pengawas Ketenagakerjaan, guna mendorong kejelasan penyelesaian hak eks karyawan PT TML.

Bisnisnews-Disnakertrans juga menekankan pentingnya sinergi antar pihak agar proses penyelesaian dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, terutama mengingat persoalan ini telah melalui proses hukum.

Dengan adanya audiensi ini, Disnakertrans berharap dapat menjadi jembatan komunikasi antara pekerja dan pihak terkait, sehingga hak-hak eks karyawan dapat segera menemukan titik terang.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

WFH Diterapkan, Layanan Disnakertrans Sukabumi Tetap Berjalan Normal

0

Wartain.com || Penerapan kebijakan Work From Home (WFH) di lingkungan pemerintah daerah tidak berdampak pada kualitas layanan publik di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sukabumi. Masyarakat tetap dapat mengakses berbagai layanan ketenagakerjaan tanpa hambatan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, Sigit Widarmadi melalui Pengantar Kerja Ahli Pertama Bidang Penempatan Tenaga Kerja, Alpian Indra Gumilar. Ia memastikan bahwa pelayanan seperti pembuatan akun SIAPKerja maupun penerbitan AK-1 atau Kartu Kuning tetap berlangsung seperti biasa.

“Selama pelaksanaan WFH, layanan pembuatan akun SIAPKerja dan AK-1 tetap berjalan normal. Kantor juga tetap membuka pelayanan seperti hari biasa,” ujar Alpian, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, masyarakat diberikan kemudahan dalam mengakses layanan, baik melalui sistem daring maupun dengan datang langsung ke kantor Disnakertrans. Fleksibilitas ini diharapkan mampu menjaga kelancaran pelayanan di tengah kebijakan kerja jarak jauh.

Ia juga menegaskan bahwa pada hari Jumat, yang menjadi salah satu jadwal penerapan WFH, operasional pelayanan tetap berjalan tanpa perubahan berarti. “Untuk hari Jumat, pelayanan tetap seperti biasanya. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tambahnya.

Dengan kebijakan ini, Disnakertrans Kabupaten Sukabumi berharap masyarakat tetap mendapatkan pelayanan optimal serta kemudahan dalam mengurus berbagai kebutuhan ketenagakerjaan, meski sistem kerja fleksibel tengah diberlakukan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Pendidikan Kita: Memanusiakan Manusia atau Mencetak Sekrup Industri?

0

​Oleh: Yosep Maulana
(Mahasiswa STKIP Bina Mutiara Sukabumi)

Wartain.com || ​Pendidikan hari ini seringkali terjebak dalam lorong sempit yang pragmatis. Di ruang-ruang kelas, dari sekolah dasar hingga bangku perkuliahan, aroma persaingan bukan lagi soal kedalaman ilmu, melainkan seberapa cepat seseorang bisa mendapatkan slip gaji setelah wisuda. Fenomena ini menciptakan pergeseran orientasi yang mengkhawatirkan, siswa dan mahasiswa seolah dididik hanya untuk menjadi pemohon kerja (job seeker) ketimbang menjadi pencipta lapangan kerja (job creator). Pendidikan telah direduksi menjadi sekadar birokrasi perburuan ijazah, sebuah kertas formalitas yang dianggap sebagai tiket otomatis menuju keamanan ekonomi.

​Padahal, arti sesungguhnya dari pendidikan adalah sebuah usaha sadar, terencana, dan berkelanjutan. Ia merupakan proses panjang untuk mengembangkan potensi, karakter, dan kepribadian individu. Pendidikan sejatinya bertujuan untuk memanusiakan manusia sebuah proses transisi dari ketidaktahuan menuju pencerahan, yang membekali seseorang dengan keterampilan hidup, pola pikir kritis, serta akhlak mulia. Jika pendidikan hanya berhenti pada urusan perut, maka esensi dari pembentukan jiwa yang bermanfaat bagi masyarakat luas akan tercerabut dari akarnya.

​Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, telah meletakkan fondasi filosofis yang sangat kuat melalui konsep Among. Beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam pandangan Ki Hajar, pendidik bukanlah penguasa, melainkan petani yang hanya bisa menuntun tumbuhnya padi. Output yang diharapkan bukanlah hamba bagi industri, melainkan jiwa yang merdeka secara lahir dan batin, yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.

​Selaras dengan itu, Nurcholish Madjid atau Cak Nur menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan inklusif. Bagi Cak Nur, pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan intelektualitas yang dibarengi dengan integritas moral. Pendidikan seharusnya melahirkan sosok yang modern namun tetap berakar pada etika, di mana ilmu pengetahuan digunakan untuk memecahkan masalah sosial (problem solving), bukan sekadar menjadi koleksi gelar yang steril dari realitas masyarakat di sekelilingnya.

​Jika kita membedah lebih dalam melalui kacamata Paulo Freire dalam buku legendarisnya, “Pendidikan Kaum Tertindas”, kita akan menemukan kritik tajam terhadap “sistem bank” dalam pendidikan. Freire melihat bahwa pendidikan seringkali hanya berupa proses mendepositokan informasi ke dalam kepala siswa yang dianggap kosong. Hal ini menciptakan mentalitas tertindas yang pasif dan penurut. Freire menawarkan pendidikan yang membebaskan (conscientization), di mana pendidikan menjadi alat bagi manusia untuk menyadari realitas sosialnya dan tergerak untuk melakukan perubahan atau transformasi sosial secara aktif.

​Relevansinya dengan keadaan hari ini sangatlah mencolok. Di era disrupsi teknologi, di mana kecerdasan buatan mulai mengambil alih pekerjaan-pekerjaan repetitif, mentalitas asal kerja menjadi sangat rentan. Banyak lulusan sarjana yang terombang-ambing karena hanya memiliki keterampilan teknis tanpa kemandirian berpikir. Jika orientasi pendidikan tetap statis pada mencetak pekerja, maka angka pengangguran intelektual akan terus meroket karena pasar kerja memiliki batas jenuh, sementara kreativitas manusia yang terdidik secara benar seharusnya tidak terbatas.

​Ketakutan untuk memulai usaha atau membuka lapangan kerja seringkali lahir dari sistem pendidikan yang terlalu menekankan pada kepatuhan terhadap instruksi, bukan pada keberanian mengambil risiko. Ruang kuliah jarang sekali memberikan ruang bagi kegagalan sebagai proses belajar, sehingga mahasiswa tumbuh menjadi pribadi yang takut salah dan hanya mencari zona nyaman di bawah naungan perusahaan besar. Pendidikan seolah-olah telah memenjarakan imajinasi kolektif kita bahwa sukses hanya berarti menjadi karyawan.

​Kenyataannya, tantangan global saat ini menuntut individu yang mampu melihat peluang di tengah krisis. Kita membutuhkan manusia-manusia yang memiliki empati untuk melihat masalah di lingkungannya dan memiliki keberanian untuk menciptakan solusi melalui kewirausahaan sosial maupun ekonomi. Inilah yang dimaksud dengan pendidikan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat; sebuah proses yang melahirkan pemimpin, inovator, dan penggerak, bukan sekadar pengikut yang menunggu arahan.

​Oleh karena itu, reorientasi pendidikan nasional harus segera dilakukan. Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading yang memproduksi tenaga kerja murah bagi korporasi. Kurikulum harus diisi dengan penguatan literasi kemandirian dan pembebasan berpikir. Kita perlu mengembalikan marwah sekolah sebagai tempat untuk belajar menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar untuk melakukan sesuatu (learning to do) yang memiliki dampak luas, bukan sekadar menghafal teori untuk ujian akhir.

​Sebagai penutup, pendidikan sesungguhnya adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia, namun senjata itu tumpul jika penggunanya hanya berpikir tentang bagaimana bertahan hidup hari ini. Mari kita memaknai kembali ijazah bukan sebagai bukti berakhirnya masa belajar, melainkan sebagai lisensi untuk mulai berkarya. Pendidikan harus membebaskan kita dari belenggu ketergantungan dan mengantarkan kita pada kemerdekaan yang sesungguhnya: menjadi manusia yang berdaulat atas pikirannya dan bermanfaat bagi sesama.***

Editor : Aab Abd Malik

(YM)