26.7 C
Jakarta
Selasa, Juli 7, 2026
Beranda blog Halaman 174

KAHMI Sukabumi Serahkan 13 Rekomendasi Strategis, Wali Kota Ayep Zaki Siap Tindaklanjuti

0
Oplus_131072

Wartain.com || Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Sukabumi melakukan audiensi dengan Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, di Gedung Pertemuan Kantor Wali Kota Sukabumi, Selasa (7/4/2026).

Audiensi tersebut dihadiri empat presidium MD KAHMI Sukabumi, yakni Fery Gustaman selaku koordinator, Aam Abdul Salam, Dadang Sahroni, dan Jaka Susila, bersama sejumlah anggota lainnya.

Dalam pertemuan tersebut, Fery Gustaman menyampaikan bahwa audiensi bertujuan menyerahkan rekomendasi hasil kajian strategis KAHMI untuk mendorong percepatan pembangunan di Kota Sukabumi.

“Kami membawa 13 poin rekomendasi strategis sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah, dengan harapan dapat menjadi prioritas pembangunan ke depan,” ujar Fery.

Ia menegaskan, rekomendasi tersebut merupakan hasil kajian yang disusun secara komprehensif oleh MD KAHMI Sukabumi, sebagai bentuk kontribusi nyata organisasi dalam pembangunan daerah.

Sementara itu, Aam Abdul Salam menekankan pentingnya pembenahan birokrasi secara cepat dan menyeluruh. Menurutnya, birokrasi yang efektif akan menentukan keberhasilan implementasi program pembangunan.

“Wali kota perlu memastikan birokrasi berjalan adaptif dan mampu menerjemahkan program secara tepat, agar berdampak langsung bagi kemajuan Kota Sukabumi,” kata Aam.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kontribusi MD KAHMI Sukabumi dalam memberikan masukan strategis bagi pemerintah daerah.

Ia menegaskan komitmennya untuk mengabdi kepada masyarakat serta membuka ruang kolaborasi dengan berbagai elemen, termasuk organisasi alumni seperti KAHMI.

“Saya ini pekerja bagi masyarakat Kota Sukabumi, bukan pemilik kota. Karena itu, masukan seperti ini sangat penting untuk kami tindak lanjuti,” ujar Ayep.

Sebagai penutup audiensi, MD KAHMI Sukabumi menyerahkan dokumen rekomendasi secara simbolis kepada Wali Kota. Dokumen tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan program prioritas pembangunan Kota Sukabumi ke depan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Lahan Negara di Tanah Abang Diserbu, Ara Sirait: Hari Ini Kita Kuasaikan

0

Wartain.com || Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait atau yang akrab di sapa Ara, baru-baru ini mendatangi dan melakukan pengecekan lahan kosong milik negara di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, diduga selama ini dikuasai organisasi masyarakat (ormas).

Dalam unggahan Instagram miliknya, Ara sempat beradu argumen dengan Hercules, Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya.

GRIB diketahui menguasai sejumlah lahan di kawasan Tanah Abang. Lahan milik negara tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk pembangunan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Saya mau membangun untuk rumah rakyat di sini. Jadi bukan untuk pengembang, dan sebagainya,” kata Ara kepada Ormas GRIB, pada Senin (6/6/2026).

Menanggapi hal tersebut, Hercules menegaskan, bila memang negara menginginkan lahan di Tanah Abang, ia maupun ormasnya tak keberatan jika lahan tersebut dilepaskan untuk dibangun hunian.

“HPL itu untuk mengelola lahan tapi bukan untuk memiliki, kalau ini negara punya, hari ini pun saya serahkan,” kata Hercules.

Sebelumnya di Istana Negara, Ara menyampaikan bahwa sejumlah lahan milik PT KAI di kawasan Senen hingga Tanah Abang, Jakarta Pusat, dikuasai oleh pihak lain. Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara hukum, sehingga kehadiran negara sangat diperlukan.

Ia menyampaikan bahwa banyak lahan milik negara yang saat ini dikuasai oleh pihak lain, dan pemerintah berkomitmen untuk mengambil kembali penguasaan tersebut guna dimanfaatkan bagi kepentingan negara serta kesejahteraan rakyat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah.

“Banyak sekali tanah negara yang dikuasai oleh pihak lain. Dan kita akan kuasai kembali untuk kepentingan negara dan kepentingan rakyat. Khususnya masyarakat berpenghasilan rendah,” jelasnya.

Ara menegaskan bahwa lahan negara di sejumlah wilayah seperti Tanah Abang, Bandung, dan Medan memiliki nilai strategis, sehingga harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, serta menekankan pentingnya kehadiran negara dalam pengelolaannya.

“Di Tanah Abang itu lahan negara sangat strategis, di Bandung sangat strategis, di Medan sangat strategis. Kita menggunakan itu untuk kepentingan rakyat dan negara harus hadir,” tegas Ara.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Prabowo Pimpin Ratas, Pemerintah Percepat Program Perumahan Rakyat Nasional

0

Wartain.com-Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas (ratas) di Istana Merdeka, Senin (6/4/2026), guna membahas percepatan program perumahan rakyat secara nasional.

Dalam rapat tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak melalui sejumlah langkah strategis.

Salah satunya adalah peningkatan program bedah rumah rakyat yang ditargetkan mencapai 400 ribu unit pada tahun ini, dengan cakupan di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Presiden juga mengarahkan optimalisasi pemanfaatan lahan negara, termasuk aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta kawasan strategis perkotaan, untuk pembangunan hunian.

Program ini mencakup pembangunan rumah tapak maupun rumah susun dengan skema yang inklusif, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.

Melalui sinergi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah berharap program percepatan perumahan ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hunian layak, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Menjernihkan Persepsi Publik: Memahami Kehadiran Motor Operasional BGN Secara Utuh

0

Ruang Informasi yang Perlu Dijaga Bersama

Wartain.com || Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, sebuah tayangan mengenai sepeda motor berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) sempat memantik beragam tafsir di ruang publik. Potongan visual yang beredar luas tanpa penjelasan utuh kemudian berkembang menjadi kesimpulan yang terburu-buru — seolah-olah terdapat pengadaan besar yang tidak selaras dengan kepentingan masyarakat.

Situasi semacam ini bukan hal baru. Di era digital, informasi yang belum lengkap kerap lebih cepat membentuk opini dibandingkan klarifikasi yang disusun dengan kehati-hatian. Karena itu, menjaga kejernihan pemahaman menjadi penting, agar setiap kebijakan dapat dilihat secara proporsional dan tidak terlepas dari konteksnya.

Penjelasan Resmi: Fungsi, Bukan Simbol

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, telah memberikan penjelasan yang terang dan terukur. Sepeda motor yang dimaksud merupakan bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025, yang dipersiapkan untuk menunjang operasional para Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, peran SPPG berada di garis depan — mengawal distribusi, memastikan ketepatan sasaran, serta menjaga kualitas layanan gizi bagi masyarakat. Dengan cakupan wilayah yang luas dan kondisi geografis yang beragam, kendaraan operasional menjadi kebutuhan fungsional, bukan sekadar pelengkap administratif.

Motor tersebut, dengan demikian, adalah alat kerja. Ia hadir bukan sebagai simbol, melainkan sebagai sarana yang memungkinkan pelayanan berjalan lebih efektif, menjangkau lebih banyak titik, dan hadir lebih dekat dengan masyarakat.

Meluruskan Angka dan Narasi yang Berkembang

Di antara berbagai informasi yang beredar, muncul pula klaim mengenai jumlah pengadaan dalam skala yang sangat besar. Klarifikasi resmi menegaskan bahwa angka-angka tersebut tidak benar dan tidak mencerminkan perencanaan riil program.

Kesalahpahaman ini menunjukkan betapa mudahnya narasi berkembang tanpa pijakan data yang sahih. Padahal dalam tata kelola kebijakan publik, setiap pengadaan melalui proses perencanaan, penganggaran, serta pengawasan yang berlapis.

Lebih dari itu, unit kendaraan yang menjadi perbincangan juga belum didistribusikan. Seluruhnya masih berada dalam tahapan administratif sebagai Barang Milik Negara (BMN), yang harus melalui prosedur sebelum dapat dimanfaatkan. Artinya, apa yang terlihat di ruang publik belum merepresentasikan tahap penggunaan, melainkan baru sebatas kesiapan sistem.

Infrastruktur Layanan Gizi yang Menjangkau

Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar agenda distribusi makanan. Ia merupakan bagian dari upaya besar membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini — melalui pemenuhan gizi yang merata, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam kerangka tersebut, setiap unsur pendukung, termasuk kendaraan operasional, merupakan bagian dari infrastruktur layanan. Kehadirannya membantu memastikan bahwa proses pemantauan, koordinasi, dan distribusi dapat berjalan secara konsisten, bahkan hingga ke wilayah yang tidak mudah dijangkau.

Pendekatan ini mencerminkan prinsip dasar pelayanan publik: mendekatkan layanan kepada masyarakat, bukan menunggu masyarakat mendatangi layanan.

Menguatkan Literasi, Menjaga Kepercayaan

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kualitas ruang publik sangat ditentukan oleh cara kita menyikapi informasi. Ketika potongan fakta diterima tanpa verifikasi, maka ruang dialog dapat dengan mudah dipenuhi prasangka.

Sebaliknya, ketika klarifikasi dijadikan rujukan, kepercayaan dapat tumbuh dengan lebih kokoh. Apa yang disampaikan oleh Dadan Hindayana merupakan bagian dari komitmen transparansi — bahwa setiap kebijakan perlu dijelaskan, dan setiap pertanyaan publik layak dijawab.

Menjaga keseimbangan antara kecepatan informasi dan ketepatan pemahaman adalah tanggung jawab bersama. Di situlah ruang publik dapat tetap sehat, teduh, dan produktif.

Menempatkan Fakta sebagai Dasar Penilaian

Ketika sebuah kebijakan dilihat secara utuh — mulai dari tujuan, proses, hingga implementasinya — maka penilaian yang lahir pun menjadi lebih adil. Sepeda motor berlogo Badan Gizi Nasional bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem yang lebih besar dalam menghadirkan layanan gizi bagi masyarakat.

Dengan memahami konteks ini, publik dapat melihat bahwa yang sedang dibangun bukan sekadar program, melainkan ekosistem pelayanan yang berupaya menjangkau, merawat, dan memastikan generasi masa depan tumbuh dengan lebih sehat dan kuat.***

Penulis : Ari Supit

Editor : Aab Abdul Malik

Membongkar Konflik Sunni vs Syiah dalam Hijab Tauhid Ma’rifatullah

0
Oplus_131072

Membongkar Konflik Sunni vs Syiah dalam Hijab Tauhid Ma’rifatullah

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Konflik antara Sunni dan Syiah selama ini lebih banyak dibaca dalam kerangka sejarah, politik, dan bahkan propaganda global. Namun jika kita naik satu maqam—masuk ke dalam perspektif. Ma’rifatullah—maka kita akan melihat bahwa konflik ini sesungguhnya terjadi karena umat terhijab dari Tauhid itu sendiri.

1. Akar Masalah: Ketika Tauhid Turun Menjadi Identitas.

Tauhid sejatinya adalah penyaksian: Laa maujuda illa Allah — tiada yang benar-benar wujud selain Allah.
Namun dalam realitas umat, Tauhid sering direduksi menjadi:
Identitas kelompok,
–Mazhab fiqh,
–Afiliasi politik,
–Bahkan simbol kekuasaan

Di titik ini, Sunni dan Syiah tidak lagi berdiri sebagai jalan menuju Allah, tetapi sebagai “bendera” yang dipertahankan. Ketika bendera lebih penting daripada Allah, maka konflik menjadi tak terhindarkan.
Padahal dalam Ma’rifatullah, semua bentuk (Sunni, Syiah, bahkan label lainnya) hanyalah tajalli, bukan hakikat.

2. Hijab Terbesar: Melihat Perbedaan, Lupa Sumber Kesatuan.

Dalam perspektif Tauhid, perbedaan bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika:
Perbedaan dilihat sebagai pemisah, bukan sebagai variasi dalam satu sumber.
Sunni dan Syiah sama-sama:
Bersyahadat kepada Allah dan Rasul-Nya,
Bersandar pada Al-Qur’an
Mencintai Ahlul Bait,
Menantikan tegaknya keadilan Ilahi.
Namun hijab membuat umat melihat:
Perbedaan sejarah sebagai permusuhan abadi,
Perbedaan fiqh sebagai kesesatan,
Perbedaan politik sebagai pengkhianatan,
Padahal jika dilihat dengan mata Ma’rifat:
Yang berbeda itu bentuknya, yang satu itu sumbernya.

3. Distorsi Sejarah dan Peran Kekuatan Global.

Konflik Sunni–Syiah tidak bisa dilepaskan dari intervensi kekuatan global yang berkepentingan memecah umat.
Sejarah modern menunjukkan:
Narasi konflik terus diperkuat melalui media
Perpecahan dijaga agar umat tidak menjadi satu kekuatan.
Munculnya “versi ekstrem” dari kedua sisi untuk memperkeruh keadaan
Dalam konteks ini, penting dibedakan:
Syiah sebagai tradisi keilmuan dan spiritual
Syiah sebagai alat politik yang disusupi kepentingan asing.
Begitu pula dengan Sunni:
Ada Sunni yang membawa rahmat,
Ada pula yang terjebak dalam fanatisme sempit.

Jadi persoalannya bukan pada label, tetapi pada kesadaran Tauhid yang hidup atau mati dalam diri umat.

4. Iran dalam Perspektif Ma’rifatullah.
Melihat Iran secara jernih harus keluar dari propaganda.

Dalam realitas geopolitik:
Iran berdiri melawan dominasi global
Mengusung kemandirian politik dan perlawanan terhadap hegemoni.
Menghidupkan kembali semangat keberanian umat.
Namun dalam perspektif Ma’rifatullah:
Yang dinilai bukan mazhabnya, tapi sejauh mana ia menjadi alat tajalli sifat Allah: Al-‘Adl (Maha Adil), Al-Qahhar (Maha Mengalahkan), Al-Haqq (Kebenaran).
Jika suatu kekuatan:
-Membela yang tertindas,
-Melawan kezaliman,
-Menegakkan kehormatan umat
-Maka di sana ada pantulan sifat Ilahi, terlepas dari label mazhabnya.

5. Pelajaran dari Sejarah: Kesatuan dalam Keragaman.

Sejarah Islam tidak pernah tunggal dalam mazhab:
Ada fase di mana berbagai mazhab hidup berdampingan,
Perbedaan tidak menghalangi kekuatan peradaban.
Spirit utama adalah Tauhid, bukan uniformitas.
Kesalahan umat hari ini adalah:
Menganggap kesatuan harus berarti keseragaman.
Padahal dalam Tauhid:
Allah itu Esa
Tapi tajalli-Nya beragam
Begitu pula umat:
Sumbernya satu
Jalannya bisa berbeda.

6. Menuju Kesadaran Tauhid yang Membebaskan.

Solusi konflik Sunni–Syiah bukan debat tanpa akhir, tetapi naik maqam:
Dari:
“Siapa yang benar?”
Menuju:
“Apakah kita sudah melihat Allah dalam semua ini?”
Ketika seseorang sampai pada Ma’rifat:
Ia tidak mudah mengkafirkan,
Tidak mudah membenci ,
Tidak terjebak dalam propaganda
Karena ia melihat:
Semua berada dalam kehendak Allah, dan kembali kepada-Nya.

7. Prinsip Dasar: No Sunni, No Syiah — Hanya Tauhid.

Ungkapan seperti:
“No Sunni, No Syiah, Hanya Islamiyah Wahdah”.
Harus dipahami bukan sebagai penghapusan identitas, tetapi sebagai pengembalian pusat:
Bukan Sunni yang dihapus,
Bukan Syiah yang dihilangkan,
Tapi ego sektarian yang diluruhkan
Yang tersisa adalah:
Tauhid yang hidup, yang menyatukan, bukan memecah.

Penutup: Kembali ke Sumber.

Konflik Sunni–Syiah akan terus ada selama umat:
Berpikir di level identitas,
Terjebak dalam sejarah tanpa hikmah.
Kehilangan rasa حضور (kehadiran Allah).
Namun ketika umat kembali ke Ma’rifatullah:
Perbedaan menjadi rahmat.
Kekuatan menjadi terhimpun.
Umat kembali menjadi satu tubuh.
Akhirnya kita memahami:
Bukan Sunni atau Syiah yang akan menyelamatkan umat,
tetapi Tauhid yang disaksikan dan dihidupkan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Geger, Seekor Sanca Kembang Dievakuasi dari Samping Rumah Warga di Gunung Simping

0

Wartain.com || Seekor ular sanca kembang (Python reticulatus) berukuran besar ditemukan di pemukiman warga di Kampung Gunung Simping, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada Senin malam (6/4/2026). Penemuan predator ini sempat memicu kekhawatiran warga sekitar sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh petugas Pemadam Kebakaran (Damkar).

Peristiwa ini bermula ketika seorang warga bernama Reza, yang sedang berkunjung ke rumah saudaranya, Kusnadi, melihat pergerakan mencurigakan di area samping rumah. Setelah diperiksa menggunakan alat penerangan, ternyata seekor ular sanca berukuran cukup besar tengah melata di pinggir dinding rumah tersebut.

Reza mengungkapkan bahwa dirinya menemukan ular tersebut secara tidak sengaja saat hendak masuk ke rumah saudaranya. Karena khawatir keselamatan penghuni rumah, ia segera berinisiatif menghubungi petugas Damkar Palabuhanratu untuk melakukan evakuasi.

“Awalnya saya lagi main ke rumah saudara saya, Pak Kusnadi. Pas lewat ke samping rumah, saya lihat ada yang meliuk-liuk di gelap. Pas saya senter, ternyata ular sanca ukurannya lumayan besar. Saya nggak berani ambil risiko, jadi langsung telepon Damkar supaya segera ditangani,” ujar Reza saat dikonfirmasi di lokasi kejadian, Selasa (7/4/2026).

Sementara itu, pemilik rumah, Kusnadi, mengaku terkejut dengan keberadaan ular tersebut. Menurut penuturannya, teror ular ini ternyata bukan yang pertama kali terjadi di lingkungan rumahnya dalam pekan ini.

“Sehari sebelumnya juga sempat ditemukan ular sanca, tapi ukurannya masih kecil. Nah, yang semalam ini ukurannya jauh lebih besar. Kami khawatir kalau didiamkan malah masuk ke dalam rumah atau memangsa ternak warga,” ungkap Kusnadi.

Proses evakuasi yang dilakukan petugas Damkar berlangsung dramatis namun terkendali. Petugas menggunakan peralatan khusus untuk mengamankan ular tersebut agar tidak melukai warga maupun petugas. Hingga Selasa pagi, situasi di lokasi dinyatakan kondusif, dan ular tersebut telah dibawa ke pos Damkar untuk nantinya dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari pemukiman.

Warga diimbau untuk selalu waspada terhadap keberadaan hewan melata, terutama saat cuaca lembap atau memasuki musim hujan, serta segera melapor ke pihak berwenang jika menemukan hewan berbahaya di sekitar rumah.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Yosep)

Hj. Rina Rosmaniah Japar Terpilih Sebagai Ketua Perwosi Masa Bakti 2026-2030

0

Wartain.com || Hj. Rina Rosmaniar Japar terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) masa bakti 2026-2030. Pemilihan Hj. Rina Rosmaniar Japar dilakukan dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) tingkat Kabupaten Sukabumi 2026 yang digelar di Wilayah Sukabumi, Senin, 6 April 2026.

Ketua Perwosi Kabupaten Sukabumi Terpilih Hj. Rina Rosmaniar Japar mengatakan, dirinya telah menyiapkan sejumlah inovasi di organisasi ini. Hal itu agar organisasi ini dapat terus berkembang dan menjadi motor penggerak olahraga di Kabupaten Sukabumi.

“Kita ini organisasi olahraga, mari kita giatkan berolahraga. Kita coba gebrakan awal lewat senam bersama di Pendopo, nanti,” ujarnya.

Tak hanya itu saja, berbagai gebrakan lain pun tengah di siapkan untuk organisasi di bawah kepemimpinan mantan atlet Volly ini ke depannya.

“Olahraga telah menjadi bagian saya. Dulu saya aktif sebagai atlet Volly,” ucapnya

Namun tak sekadar olahraga, Perwosi pun bukan organisasi baru baginya. Dirinya telah lama berkecimpung di organisasi ini.

“Saya merupakan bagian dari Perwosi dan Alhamdulillah diberi kesempatan untuk memimpin organisasi ini,” ungkapnya.

Sekretaris Umum (Sekum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sukabumi Ahmad Fakhrizal mengaku bangga dengan aktifnya wanita dalam berorganisasi, terutama di bidang olahraga. Apalagi peran wanita dalam berolahraga sangat dibutuhkan.

“Atlet asal Kabupaten saja, banyak wanitanya. Bahkan atlet wanita kita menjadi peraih medali emas sepakbola putri,” bebernya.

Dirinya berharap, kepengurusan yang baru dapat membawa Perwosi semakin baik lagi ke depannya.

“KONI siap membantu Perwosi agar melahirkan atlet wanita Sukabumi yang bisa berkiprah di level nasional hingga internasional,” tegasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Kasus Dugaan Pelecehan di Ponpes Cicantayan, Enam Santriwati Jadi Korban

0

Wartain.com || Dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Dalam laporan yang berkembang, sebanyak enam santriwati diduga menjadi korban dalam peristiwa yang kini tengah ditangani aparat penegak hukum (APH).

Pemerintah daerah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi langsung mengambil langkah cepat dengan memberikan pendampingan kepada para korban melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA).

Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, menegaskan bahwa pihaknya memprioritaskan kondisi psikologis korban agar tetap terjaga selama proses penanganan berlangsung.

“Fokus utama kami adalah memastikan pemulihan psikologis korban agar tetap terlindungi dan mendapatkan hak-haknya,” ujarnya, Senin (6/4/2026) di Kantor DP3A.

Kasus ini mulai terungkap pada akhir Februari 2026 setelah orang tua korban mencurigai adanya perubahan perilaku pada anaknya.

Kecurigaan tersebut semakin kuat usai ditemukan percakapan WhatsApp yang berisi curahan hati korban kepada rekannya mengenai dugaan perlakuan tidak pantas yang dialaminya. Dari hasil asesmen awal, dugaan peristiwa tersebut disebut telah berlangsung sejak tahun 2021.

Terduga pelaku diduga menggunakan modus pendekatan melalui praktik pengobatan tradisional serta dalih memberikan ilmu kepada para santri.

Hingga kini, proses penanganan kasus masih terus berjalan, sementara pemerintah daerah memastikan para korban mendapatkan perlindungan serta pendampingan secara berkelanjutan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Ditengah Berjuang Menerjang Ombak Krisis Ekonomi Global: Elit Sakit Hati dan Agen Asing berupaya jatuhkan Presiden Prabowo ..!!!

0

Oleh : Anto Kusumayuda (Ketum PPJNA 98) dan Abdul Salam Nur Ahmad (Sekjen PPJNA 98)

Wartain.com || Di panggung geopolitik yang sedang membara, Indonesia berada pada titik nadir sejarah yang menentukan. Konflik AS-Israel vs Iran bukan sekadar drama berita di layar kaca; ia adalah alarm eksistensial bagi ketahanan nasional. Di tengah guncangan ini, langkah Presiden Prabowo Subianto untuk mengakselerasi ketahanan pangan dan kemandirian energi bukanlah sekadar kebijakan teknokratis, melainkan sebuah manifestasi dari filsafat pertahanan yang mendalam.

Perspektif Filsafat dan Pertahanan: Kedaulatan adalah Harga Mati

Secara filosofis, sebuah bangsa hanya benar-benar “ada” jika ia mampu memberi makan rakyatnya dan menyalakan lampunya sendiri tanpa mendiktekan telapak tangan kepada bangsa lain. Dalam doktrin Sishankamrata (Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta), pangan dan energi adalah alutsista non-fisik yang paling vital.

Langkah tegas Presiden memberantas korupsi di sektor migas adalah upaya “pembersihan rumah” agar energi nasional tidak dikuras oleh parasit domestik yang bekerja demi rente pribadi. Tanpa kedaulatan energi, Indonesia akan rapuh menghadapi fluktuasi harga global akibat perang di Timur Tengah.

Dimensi Spiritual: Kepemimpinan sebagai Amanah Langit

Secara spiritual, kepemimpinan adalah pengabdian kepada Tuhan melalui pelayanan kepada rakyat. Kerja keras Presiden dalam mengamankan logistik bangsa adalah bentuk implementasi nilai religius: menjaga kehidupan (hifdzun nafs). Ketahanan pangan bukan hanya soal perut, tapi soal martabat manusia agar tidak terhina oleh kemiskinan dan ketergantungan.

Ironi di Balik Tuntutan Mundur: Kepentingan Siapa?

Sangat memprihatinkan ketika di saat nakhoda sedang berjuang menerjang ombak krisis pangan dan ekonomi global, muncul suara-suara sumbang yang menuntut pengunduran diri. _Dalam kacamata pertahanan, gerakan yang mencoba mendelegitimasi kepemimpinan sah di tengah ancaman luar seringkali terindikasi sebagai proxy interest atau kepentingan asing yang tidak ingin Indonesia menjadi mandiri._

Mereka yang berpesta di atas narasi perpecahan—kelompok elit yang kehilangan akses kekuasaan—tampak lebih mementingkan “sakit hati” politik daripada nasib jutaan rakyat yang terancam krisis. Ini adalah pengkhianatan terhadap semangat persatuan nasional.

Penutup

Indonesia tidak butuh kegaduhan sirkus politik yang destruktif. Saat ini adalah momentum untuk manunggal—menyatu antara pemimpin dan rakyat. Menghadapi ancaman perang global, energi kita harus habis untuk memperkuat benteng domestik, bukan untuk saling menjatuhkan demi agenda sempit. Presiden Prabowo sedang membangun fondasi agar Indonesia tidak karam; tugas kita adalah memastikan setiap warga negara memegang dayung yang sama perkuat Persatuan Nasional menghadapi badai global krisis pangan, krisis energi dan krisis ekonomi dunia.***

*) Penulis Ketum dan Sekjen Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98 – PPJNA 98

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

TOK!!! Resmi, H. Muchtarul Wildan Resmi Pimpin DPD PAN Kabupaten Garut

0
Oplus_131072

Wartain.com ||  Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (DPP PAN) secara resmi menetapkan H. Muchtarul Wildan sebagai Ketua DPD PAN Kabupaten Garut. Penetapan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (DPP PAN) Nomor: PAN/A/Kpts/KU-SJ/127/II/2026, yang telah diterbitkan sesuai dengan mekanisme dan ketentuan organisasi partai.

Keputusan ini menandai babak baru bagi kepemimpinan PAN di Kabupaten Garut. H. Muchtarul Wildan dinilai memiliki kapasitas, pengalaman, serta komitmen kuat dalam membesarkan partai dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Dalam keterangannya, H. Muchtarul Wildan menyampaikan rasa syukur serta komitmennya untuk membawa PAN Kabupaten Garut menjadi lebih solid, progresif, dan responsif terhadap kebutuhan rakyat. Ia juga menegaskan pentingnya konsolidasi internal serta penguatan struktur partai hingga ke tingkat akar rumput.

“Ini adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya mengajak seluruh kader PAN di Kabupaten Garut untuk bersama-sama memperkuat barisan dan bekerja nyata demi kepentingan masyarakat,” ujarnya, Senin 06/04/2026.

Sementara itu, Sekretaris DPD PAN Kabupaten Garut, Moh. Reza Ansori, menyampaikan bahwa penetapan ini merupakan bentuk legitimasi organisasi yang kuat dan sah.

“Penetapan H. Muchtarul Wildan sebagai Ketua DPD PAN Kabupaten Garut telah dituangkan secara resmi dalam Surat Keputusan DPP PAN Nomor: PAN/A/Kpts/KU-SJ/127/II/2026. Ini menunjukkan bahwa proses yang dilalui memiliki dasar hukum organisasi yang jelas dan mengikat,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa seluruh jajaran pengurus siap mendukung penuh kepemimpinan baru demi memperkuat peran PAN di Kabupaten Garut.

Penetapan ini diharapkan mampu memberikan energi baru bagi PAN Kabupaten Garut dalam menghadapi berbagai agenda politik ke depan, sekaligus meningkatkan peran partai dalam pembangunan daerah.

Dengan kepemimpinan baru ini, PAN Kabupaten Garut optimistis dapat semakin dekat dengan masyarakat serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi daerah.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Sal/Biro Garut)