19.5 C
New York
Rabu, Juli 17, 2024
spot_img

Latest Posts

Rupiah Kian Anjlok, apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Wartain.com || Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah, dalam beberapa waktu ke belakang. Penguatan mata uang Paman Sam salah satunya dipicu data tenaga kerja AS yang solid, yang membuat prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed jadi tertunda.

Adapun pada pembukaan perdagangan awal pekan ini dolar AS kembali perkasa terhadap Rupiah dan menguat 13 poin atau 0,08% ke Rp 16.454. Mengutip data RTI, Senin (24/6/2024), dolar AS dibuka pada level Rp 16.141 kemudian bergerak naik, dolar bergerak pada level tertingginya di Rp 16.459 dan level terendah di Rp 16.440.

Dominasi dolar AS terhadap rupiah terjadi sepanjang tahun ini. Dolar AS terpantau membuat rupiah melemah 2,15% dalam sebulan terakhir, lalu 3,86% dalam tiga bulan, dan 6,06% alam enam bulan. Sementara dalam setahun, rupiah melemah 9,29% terhadap dolar AS

Tidak hanya kepada rupiah, dolar AS juga perkasa terhadap mata uang negara lainnya. Yuan Jepang menjadi salah satu mata uang yang mengalami pelemahan cukup besar tahun ini.

Yuan kini berada di level 159 per dolar AS, tercatat melemah 1,82% dalam satu bulan. Yuan juga melemah 5,48% dalam tiga bulan, dan terkoreksi hingga 12,20% di enam bulan terakhir. Sementara dalam setahun, yuan melemah 11,30%.

Mata uang negara Asia Tenggara seperti baht Thailand turut terkoreksi oleh mata uang Paman Sam. Bath Thailand kini berada di level 36,759, melemah 0,49% dalam satu bulan terakhir.

Bath terkoreksi 1,16% dalam 3 bulan, 5,18% dalam enam bulan, dan 4,40% dalam 1 tahun terakhir. Catatan ini masih lebih baik dibandingkan rupiah.

Negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina juga terdampak oleh dominasi dolar AS. Peso Filipina tercatat turun 1,05% dalam satu bulan, lalu 6,4% alam enam bulan, dan 5,58% dalam setahun.

Penguatan dolar AS juga terjadi terhadap mata uang euro. Mata uang yang digunakan oleh negara-negara Uni Eropa ini melemah 1,56% dalam sebulan, 1,36% dalam tiga bulan, 2,89% dalam enam bulan an 1,97% dalam setahun.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo buka-bukaan terkait kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Perry mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh dampak global dan domestik. Dari sisi global, karena masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

“Terutama berkaitan dengan ketidakpastian arah penurunan Fed Fund Rate AS, penguatan mata uang dolar AS secara luas, dan masih tingginya ketegangan geopolitik,” kata Perry dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (20/6/2024).***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Redaksi)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.